Keyakinan Konsumen Naik, Namun Masyarakat Lebih Pilih Menabung



JAKARTA – Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa keyakinan konsumen tetap terjaga pada Januari 2026. Hal ini terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mencapai level optimis dengan angka 127,0, lebih tinggi dibandingkan indeks bulan sebelumnya yang berada di angka 123,5.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, kenaikan IKK tersebut terjadi karena konsumen merasa kondisi ekonomi saat ini lebih baik dan memiliki pandangan yang lebih optimistis terhadap masa depan.

Peningkatan keyakinan konsumen pada Januari 2026 didukung oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). IKE mencatat angka 115,1, sedangkan IEK mencapai 138,8.

Josua menjelaskan bahwa dari sisi kondisi saat ini, indeks naik karena persepsi masyarakat terhadap penghasilan yang membaik, kesempatan kerja yang lebih tersedia, serta niat membeli barang tahan lama yang semakin kuat.

Dari sudut pandangan ke depan, konsumen semakin yakin bahwa penghasilan dan kegiatan usaha enam bulan ke depan akan membaik. Selain itu, ekspektasi ketersediaan pekerjaan relatif stabil. Kenaikan ini cukup merata, terjadi di hampir semua kelompok pengeluaran dan banyak kota. Kelompok usia 20–30 tahun menjadi yang paling optimistis.

Dampak dari kenaikan IKK terhadap ekonomi sangat signifikan. Angka IKK yang jauh di atas 100 memberi sinyal bahwa permintaan domestik masih kuat. Rumah tangga cenderung lebih berani berbelanja, dan aktivitas usaha biasanya ikut terbantu karena pelaku usaha menangkap sinyal pasar yang lebih ramai.

Namun, yang menarik perhatian adalah perubahan proporsi pendapatan untuk konsumsi, tabungan, dan cicilan. Pada Januari 2026, rata-rata proporsi pendapatan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat sebesar 72,3%, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 74,3%.

Sementara itu, proporsi pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) sebesar 11,2%, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 10,8%. Lebih lanjut, proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 16,5%, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 14,9%.

Menurut Josua, hal ini menunjukkan bahwa meskipun keyakinan meningkat, sebagian rumah tangga masih memilih untuk memperkuat cadangan keuangan. Dalam praktiknya, ini bisa membuat konsumsi tetap tumbuh, tetapi kenaikannya tidak selalu seagresif kenaikan indeks keyakinan.

Ke depannya, Josua memperkirakan perkembangan IKK dapat bergerak dinamis karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti daya beli dan inflasi, kondisi lapangan kerja, suku bunga dan biaya cicilan, serta sentimen global yang mempengaruhi kurs dan harga barang impor.

Ia memprediksi, jika inflasi terjaga, kesempatan kerja membaik, dan pendapatan riil rumah tangga meningkat, maka IKK berpeluang bertahan tinggi. Namun, jika harga-harga kembali menekan daya beli atau ketidakpastian global meningkat, konsumen biasanya cepat menjadi lebih hati-hati sehingga indeks dapat menurun walau tetap berada di zona optimistis.

Pos terkait