Meraih Ampunan, Rahmat, dan Surga di Bulan Penuh Berkah: Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1447 H
Bulan Ramadhan adalah anugerah terbesar bagi umat Islam. Di bulan yang penuh kemuliaan ini, pintu-pintu kebaikan terbuka lebar, menawarkan kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dalam khutbah Jumat pertama Ramadhan 1447 Hijriyah, kita diajak untuk merenungi dan memaksimalkan potensi bulan suci ini demi meraih ampunan, rahmat, serta balasan surga yang dijanjikan Allah SWT.
Khutbah I
Segala puji bagi Allah, Tuhan yang menjadikan puasa sebagai benteng bagi para kekasih-Nya dan perisai yang membuka pintu surga bagi mereka. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa junjungan kita Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, penutup para nabi.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, pemimpin seluruh makhluk dan pembuka jalan sunnah, serta kepada keluarga dan sahabatnya yang memiliki pandangan tajam dan akal yang lurus.
Amma ba’du, wahai kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai seorang Muslim. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Jemaah sekalian yang dimuliakan Allah.
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.
Alhamdulillah, tahun ini kita kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Bulan yang di dalamnya memiliki sejuta keistimewaan dan keutamaan bagi umat Muslim. Oleh karena itu, tidak heran jika pada bulan ini intensitas ibadah umat Islam semakin meningkat, baik dengan lebih serius lagi menunaikan kewajiban-kewajiban agama maupun rajin mengamalkan ibadah-ibadah sunnah di dalamnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah menyampaikan bahwa saat tiba bulan Ramadhan, umat Muslim didorong untuk memperbanyak ibadah. Sebab, pahala amal kebaikan di dalamnya akan dilipatgandakan. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu (amal) kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, karena puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Sebab, ia telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.’
Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wangi kasturi.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jemaah sekalian yang dirahmati Allah.
Ada tiga hal besar yang Allah janjikan untuk umat Muslim saat Ramadhan tiba, yaitu ampunan, rahmat, dan balasan surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.” (Ibnu Khuzaimah)
1. Rahmat Allah yang Luas
Pertama adalah rahmat, yaitu kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Berkat rahmat inilah kelak umat Muslim bisa mendapatkan ampunan di akhirat dan memperoleh balasan surga. Bahkan dikatakan bahwa rahmat merupakan penentu nasib seseorang kelak di hari akhir. Boleh jadi seseorang rajin beribadah, namun jika belum meraih rahmat Allah, ia tidak mendapat jaminan masuk surga.
Meskipun demikian, bukan berarti kita meremehkan ibadah dengan alasan mengandalkan rahmat. Sebab, penyebab turunnya rahmat adalah ketaatan seorang hamba kepada Allah.
Berkaitan dengan ini, ada kisah menarik tentang seorang hamba taat yang sepanjang hayatnya digunakan untuk beribadah, namun ia masuk surga bukan sebab ibadahnya itu, melainkan karena anugerah rahmat Allah. Kisah ini disampaikan Syekh Abul Laits as-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghāfilīn dengan mengutip riwayat Al-Hakim dalam Mustadrak-nya.
Dikisahkan, sekali waktu Malaikat Jibril ‘alaihi salam bercerita kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Hai, Muhammad! Demi Allah yang telah menugaskan engkau menjadi nabi. Allah memiliki seorang hamba yang ahli ibadah. Hamba tersebut hidup dan beribadah selama 500 tahun di atas gunung.”
Ringkas kisah, hamba itu memohon kepada Allah untuk mencabut nyawanya dalam keadaan sujud dan jasadnya tetap utuh sampai tiba hari kiamat. Doanya dikabulkan. Begitu di akhirat, Allah berfirman kepadanya, “Hamba-Ku, engkau Aku masukkan ke surga berkat rahmat-Ku!”
Hamba tersebut menyangkal. Seharusnya, protesnya, yang membuatnya masuk surga adalah ibadahnya yang ratusan tahun itu, bukan rahmat Allah. Setelah ditimbang, ternyata bobot rahmat-Nya lebih besar daripada amal ibadah tersebut. Allah pun memerintahkan malaikat untuk memasukkannya ke neraka.
Sebelum dimasukkan ke dalam neraka, hamba itu mau mengakui bahwa rahmat Allah lebih besar dan bisa membuatnya masuk surga. Ia pun tidak jadi dimasukkan ke dalam neraka. (Abul Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, t.t, h. 63)
2. Ampunan Dosa di Pertengahan Ramadhan
Jemaah sekalian yang dirahmati Allah.
Keutamaan Ramadhan berikutnya adalah maghfirah atau ampunan Allah. Sebagai manusia, kita tentu sadar diri bahwa kita memiliki banyak dosa yang kian hari semakin bertambah. Sebab, berbuat salah dan dosa merupakan fitrah manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap anak Adam (manusia) pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa sebagai manusia kita tidak bisa terbebas dari dosa. Tidak peduli dia rakyat biasa atau pejabat, seorang awam atau agamawan, santri ataupun kiai, semua pasti memiliki dosa. Hanya saja, yang membedakan kita semua adalah siapa yang mau mengakui atas dosa-dosanya dan bertaubat kepada Allah. Pada momen Ramadhan ini, Allah menjanjikan limpahan ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Oleh karena itu, jangan sia-siakan kesempatan emas yang hanya datang satu bulan dalam setahun ini.
3. Surga sebagai Balasan Ketaatan
Jemaah sekalian yang dirahmati Allah.
Keistimewaan yang Allah janjikan saat Ramadhan berikutnya adalah balasan surga bagi hamba-Nya yang taat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Ketika Ramadhan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Muslim)
Berkaitan dengan hadits di atas, Syekh ‘Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan, maksud ‘dibukanya pintu surga’ merupakan simbol imbauan bagi umat Muslim untuk memperbanyak amal ibadah di bulan suci Ramadhan, sementara ‘dibelenggunya setan’ merupakan simbol untuk mencegah diri dari perbuatan maksiat. (Syekh ‘Izzuddin bin Abdissalam, Maqashidush Shaum, 1922: 12).
Sekian khutbah yang bisa khatib sampaikan. Semoga kita bisa melalui Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya dengan maksimal sehingga bisa meraih ampunan, rahmat, dan balasan surga dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Aku ucapkan perkataanku ini dan memohon ampunan kepada Allah untukku dan untuk kalian. Maka, mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah II
Segala puji bagi Allah, dan cukuplah Allah sebagai Pelindung. Aku bersalawat dan bersalam atas junjungan kita Muhammad Al-Mustafa, serta atas keluarga dan sahabatnya yang setia. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Amma ba’du, wahai kaum Muslimin, aku wasiatkan kepada kalian dan diriku sendiri untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Ketahuilah bahwa Allah telah memerintahkan kalian dengan suatu perintah yang agung. Dia memerintahkan kalian untuk bersalawat dan salam atas Nabi-Nya yang mulia, maka Dia berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam sejahtera kepadanya dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas junjungan kami Muhammad dan atas keluarga junjungan kami Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat atas junjungan kami Ibrahim dan atas keluarga junjungan kami Ibrahim. Dan berkahilah junjungan kami Muhammad dan atas keluarga junjungan kami Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkahi junjungan kami Ibrahim dan atas keluarga junjungan kami Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia di seluruh alam. Ya Allah, ampunilah kaum Muslimin dan Muslimat, Mukminin dan Mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Ya Allah, jauhkanlah dari kami bala, paceklik, wabah, perbuatan keji dan mungkar, permusuhan, peperangan yang berbeda-beda, kesulitan dan cobaan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dari negeri kami ini khususnya, dan dari seluruh negeri kaum Muslimin pada umumnya. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan berbuat baik, serta memberikan kepada kerabat; dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepada kalian agar kalian ingat. Maka ingatlah Allah Yang Maha Agung, niscaya Dia akan mengingat kalian. Dan sesungguhnya mengingat Allah Maha Besar.





