Kilau NCKL: Lonjakan Produksi Dorong Harga Saham ke Rp2.100

Harita Nickel (NCKL) Diprediksi Mengalami Lonjakan Kapasitas Produksi dan Peningkatan Kinerja Keuangan

PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL), yang dikenal sebagai Harita Nickel, menunjukkan prospek yang cerah di masa depan. Sejumlah analis memproyeksikan pertumbuhan signifikan pada kapasitas produksi dan kinerja keuangannya, didukung oleh penguatan fondasi operasional di Kepulauan Obi, Maluku Utara. Perusahaan ini diperkirakan akan mengalami transformasi positif pada tahun 2026, seiring dengan rampungnya sejumlah proyek strategis dan inisiatif efisiensi biaya.

Proyeksi Peningkatan Kapasitas Produksi yang Signifikan

Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, memprediksi Harita Nickel akan mencatatkan peningkatan kapasitas produksi yang substansial. Hal ini didorong oleh penyelesaian fase uji coba berbagai proyek strategis perusahaan yang dijadwalkan selesai pada tahun 2026. Manajemen NCKL secara aktif berfokus pada upaya efisiensi biaya di seluruh grup, seiring dengan pengoperasian proyek-proyek baru seperti KPS Tahap 2, KPS Tahap 3, dan pabrik kapur tohor (quicklime plant/CKM).

Perkiraan terbaru menunjukkan bahwa total kapasitas produksi NCKL akan meningkat secara material. Jika pada tahun 2025 estimasi kapasitas produksi adalah 180.000 ton, pada tahun 2026 kapasitas ini diproyeksikan melonjak menjadi sekitar 305.000 ton.

Meskipun kapasitas produksi mengalami lonjakan, tingkat utilitas pabrik diprediksi akan kembali ke level yang lebih berkelanjutan, yaitu antara 68% hingga 70%. Angka ini merupakan normalisasi setelah sempat mencapai tingkat yang sangat tinggi, yakni 97%, pada tahun sebelumnya.

Penguatan Kepemilikan dan Kontribusi Laba

Selain itu, BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti peningkatan kepemilikan efektif Harita Nickel pada unit bisnis High-Pressure Acid Leaching (HPAL) melalui PT Orbit Nusantara Kencana (ONC). Kepemilikan ini meningkat dari sebelumnya hanya 5% menjadi 40%. Peningkatan ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi laba dari entitas asosiasi secara konsolidasi, memberikan dampak positif pada kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Dampak Operasional dan Efisiensi Biaya

Dari sisi operasional, volume penjualan nickel pig iron (NPI) diprediksi akan tetap stabil, berada di kisaran 205.000 hingga 210.000 ton nikel. Sementara itu, produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dari ONC diperkirakan akan tetap stabil di angka 68,3 kiloton (kt).

Keberadaan pabrik kapur tohor dan peningkatan efisiensi pada operasional Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) diperkirakan akan memberikan dampak positif pada biaya. Biaya tunai konsolidasian (cash cost) per ton diprediksi mampu ditekan sebesar 3% hingga 4% secara tahunan (year on year/yoy). Penurunan biaya ini akan berkontribusi langsung pada peningkatan margin keuntungan perusahaan.

Revisi Naik Perkiraan Laba dan Rekomendasi Beli

Dengan mempertimbangkan prospek yang cerah tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik perkiraan laba bersih NCKL untuk periode 2026-2027. Peningkatan yang diproyeksikan berkisar antara 43,7% hingga 67,3%. Peningkatan laba ini didorong oleh tambahan kapasitas produksi sebesar 125,5 kilo ton serta kenaikan kepemilikan efektif pada joint ventures (JV) utama.

Berdasarkan analisis tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham NCKL. Target harga saham pun direvisi naik menjadi Rp1.800 per saham, dari sebelumnya Rp1.300 per saham. Andhika Audrey menambahkan bahwa valuasi ini dianggap wajar mengingat membaiknya visibilitas laba dan profil operasional yang semakin stabil.

Sinyal Positif dari Pasar Nikel Global dan Keunggulan Kompetitif Harita Nickel

Kondisi pasar nikel global saat ini menunjukkan respons positif terhadap kenaikan harga jual komoditas ini. Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menjelaskan bahwa situasi ini berpotensi memperbaiki margin perusahaan. Hal ini juga sejalan dengan langkah strategis pemerintah dalam mengontrol pasokan melalui kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

Wafi berpendapat bahwa pasar lebih cenderung merespons kenaikan harga jual global yang dapat memperbaiki margin, dibandingkan dengan penurunan volume produksi sementara. Pemangkasan pasokan dilihat sebagai langkah strategis untuk mendongkrak harga komoditas dan mengakhiri era oversupply atau kelebihan pasokan.

Dalam konteks ini, Harita Nickel dinilai memiliki keunggulan kompetitif yang kuat dibandingkan para pesaingnya. Keunggulan ini berasal dari struktur bisnis perusahaan yang telah terintegrasi sepenuhnya dari sektor hulu hingga hilir.

“Paling diuntungkan adalah NCKL karena memiliki integrasi supply chain hulu-hilir paling efisien dan biaya cash cost terendah di industrinya,” ungkap Wafi.

Valuasi Saham yang Menarik

Dari sisi valuasi, KISI Sekuritas menilai harga saham di sektor nikel saat ini sangat menarik untuk dicermati. Mayoritas saham di sektor ini masih diperdagangkan di bawah rata-rata historis rasio price to earnings (PE).

Berdasarkan analisis tersebut, KISI Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk NCKL dengan target harga yang lebih tinggi, yaitu Rp2.100 per saham.

Di pasar saham Bursa Efek Indonesia (BEI), saham NCKL tercatat berada di level Rp1.450 per saham pada Jumat, 13 Februari 2026. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 28,89% sejak awal tahun dan penguatan sebesar 11,54% selama sepekan terakhir. Performa saham ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap prospek Harita Nickel di masa mendatang.

Pos terkait