Tragedi Kapal KM Intim Teratai: Gelombang Tinggi Picu Kandas, Ratusan Penumpang Dievakuasi Dramatis
Pada Selasa dini hari, perairan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, menjadi saksi bisu insiden nahas yang menimpa kapal penumpang KM Intim Teratai. Kapal yang mengangkut sekitar 140 penumpang ini dilaporkan kandas akibat diterjang gelombang tinggi yang mencapai ketinggian sekitar empat meter. Kejadian ini memicu kepanikan luar biasa di antara penumpang, yang terpaksa berjuang menyelamatkan diri, bahkan sebagian harus berenang menuju tepi pantai.

Laporan mengenai kecelakaan kapal ini diterima pada Selasa pagi oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Ternate. Menurut keterangan yang disampaikan, KM Intim Teratai telah bertolak dari Pelabuhan Babang pada Senin malam, 16 Februari, pukul 21.00 WIT, dengan tujuan akhir Pelabuhan Bastiong Ternate. Namun, musibah terjadi pada keesokan harinya, sekitar pukul 04.45 WIT, ketika kapal mengalami kandas dan miring di perairan Pulau Makian.
Ancaman Angin Kencang dan Gelombang Menghantam
Kondisi cuaca buruk menjadi penyebab utama insiden ini. Kapal dilaporkan diterjang angin kencang dan gelombang yang sangat tinggi saat melintasi perairan Makian. Hantaman ombak yang dahsyat membuat kapal terombang-ambing tak terkendali, bahkan hingga menyebabkan gangguan pada mesin. Akibatnya, kapal kehilangan tenaga dan tidak mampu melanjutkan pelayarannya.
Situasi yang mendadak berubah menjadi mengerikan ini segera memicu kepanikan di antara seluruh penumpang yang berada di atas kapal. Dalam kondisi darurat, mereka berupaya menyelamatkan diri dengan segala cara yang memungkinkan. Sebagian penumpang yang panik dan tidak memiliki alat pelampung yang memadai, bahkan terpaksa menceburkan diri ke laut dan berenang sekuat tenaga menuju daratan terdekat.
Jeritan Minta Tolong di Tengah Laut
Salah seorang penumpang yang selamat, Lakai La Rudy, menggambarkan situasi saat itu sebagai momen yang sangat mencekam. Dalam pesan singkat yang dikirimnya saat kejadian, ia mengungkapkan kepedihan dan keputusasaan yang dirasakannya.
“Mata pedih, lagi kecelakaan ini. Tolong hubungi Basarnas atau siapa. Saya lagi di daratan ini, di Pantai Makian luar,” ujar Lakai dalam pesannya, yang mengindikasikan betapa gentingnya keadaan yang dihadapinya. Pesan ini menjadi bukti nyata betapa krusialnya respons cepat dari tim penyelamat.
Respons Cepat Tim SAR: Evakuasi Dramatis
Menanggapi laporan darurat tersebut, Basarnas Ternate segera mengerahkan personelnya untuk melakukan operasi penyelamatan. Sebanyak 21 personel dikerahkan menggunakan kapal KN SAR Pandudewanata, yang didukung oleh KNP 358 milik KSOP Ternate. Tim SAR segera bergerak menuju lokasi kejadian.
Setibanya di perairan Pulau Makian, tim SAR mendapati KM Intim Teratai masih dalam posisi kandas di pesisir. Proses evakuasi penumpang pun segera dilakukan. Meskipun berlangsung dalam kondisi yang dramatis dan penuh tantangan, seluruh upaya telah dikerahkan untuk memastikan keselamatan setiap jiwa di atas kapal.
Seluruh Penumpang Selamat, Satu Cedera
Berkat kerja keras dan dedikasi tim SAR serta bantuan warga setempat, seluruh penumpang KM Intim Teratai berhasil dievakuasi dengan selamat. Sebagian penumpang yang berhasil mencapai daratan lebih awal, dibantu oleh warga setempat untuk menuju Desa Sabelei, Kecamatan Makian Barat. Di desa tersebut, mereka disambut dan diistirahatkan di rumah-rumah warga.
Namun, dalam insiden ini, tidak semua penumpang lolos dari cedera. Satu orang penumpang dilaporkan mengalami patah kaki saat proses penyelamatan berlangsung. Kondisi terakhir korban, meskipun belum sadarkan diri, telah berhasil dievakuasi menuju Ternate untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Penanganan Lanjutan dan Kewaspadaan Cuaca
Hingga Selasa siang, KM Intim Teratai masih berada di lokasi kandasnya. Pihak berwenang terkait, termasuk otoritas pelayaran dan Basarnas, terus bersiaga penuh. Kewaspadaan terhadap perkembangan cuaca menjadi prioritas utama, sembari melakukan penanganan lanjutan terhadap kapal yang mengalami musibah tersebut. Upaya penarikan dan evaluasi kerusakan kapal akan dilakukan setelah kondisi cuaca memungkinkan dan prosedur keselamatan terpenuhi. Insiden ini menjadi pengingat penting akan pentingnya kewaspadaan terhadap cuaca di laut, terutama bagi kapal-kapal penumpang yang melayari wilayah dengan kondisi ombak yang berpotensi tinggi.





