Konflik Timur Tengah: Maybank Sekuritas Imbau Investor Selektif

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu gelombang kekhawatiran di pasar energi global. Ketidakpastian yang menyelimuti konflik di kawasan tersebut telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Menanggapi situasi ini, Maybank Sekuritas Indonesia menyarankan para investor untuk mengambil pendekatan yang lebih selektif dalam memilih saham.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim, menyoroti bahwa arah pergerakan harga minyak di masa mendatang akan sangat bergantung pada perkembangan konflik tersebut. Pertanyaan krusialnya adalah apakah ketegangan akan terus meluas atau justru mereda dalam waktu dekat.

Menurut pandangan Jeffrosenberg, eskalasi konflik saat ini tidak lagi terbatas pada poros Israel–Amerika Serikat–Iran. Konflik tersebut mulai merambah produsen energi lain di kawasan Teluk, termasuk negara-negara seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Situasi ini secara signifikan meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi global.

“Selat Hormuz, yang menjadi jalur pelayaran bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia serta volume signifikan gas alam cair (LNG), tetap menjadi titik krusial. Gangguan yang berkepanjangan di jalur ini akan berdampak material pada pengetatan pasar energi global,” tegas Jeffrosenberg.

Meskipun demikian, Jeffrosenberg mengingatkan bahwa secara historis, ketegangan serupa di Timur Tengah cenderung berlangsung dalam hitungan minggu, bukan bulan. Oleh karena itu, peluang untuk terjadinya de-eskalasi atau penurunan ketegangan tetap terbuka. Daya tahan harga minyak di level tinggi, lanjutnya, akan sangat ditentukan oleh beberapa faktor utama: lamanya durasi gangguan pasokan, volume pasokan yang terdampak secara langsung, serta kecepatan pasokan pengganti yang dapat disediakan oleh negara-negara produsen OPEC+, Amerika Serikat, maupun dari cadangan strategis global.

“Mengingat tingkat ketidakpastian yang masih sangat tinggi—apakah Iran akan kembali ke meja perundingan, Amerika Serikat akan meningkatkan tekanannya, atau konflik akan meluas secara regional—kami menilai masih terlalu dini untuk mengambil posisi investasi yang agresif, terutama setelah lonjakan tajam yang telah terjadi pada harga minyak,” ujar Jeffrosenberg. Ia juga menyarankan para investor untuk tidak terburu-buru dalam mengejar kenaikan harga saham di sektor energi hulu saat pembukaan perdagangan. Pergerakan harga yang didorong oleh sentimen pasar biasanya sangatlah volatil dan berisiko tinggi.

Dampak Domestik dan Strategi Investasi

Dari sisi domestik, Jeffrosenberg menilai bahwa lonjakan harga minyak yang berkelanjutan berpotensi memberikan sentimen negatif bagi perekonomian Indonesia dalam jangka pendek. Sebagai negara yang merupakan net importir minyak, kenaikan harga minyak mentah dapat memperlebar defisit pada neraca perdagangan migas. Hal ini juga akan meningkatkan beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan berpotensi memperlebar defisit fiskal jika harga ritel BBM tidak sepenuhnya disesuaikan dengan kenaikan harga minyak mentah.

Lebih lanjut, tekanan terhadap neraca berjalan dan inflasi impor berisiko mendorong terjadinya depresiasi nilai tukar rupiah. Risiko ini akan terasa semakin signifikan apabila kenaikan harga minyak tidak diimbangi oleh penguatan harga komoditas ekspor utama Indonesia, seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan batu bara.

“Tanpa adanya kompensasi yang memadai dari kenaikan harga komoditas andalan seperti CPO dan batu bara, keseimbangan fiskal dan eksternal Indonesia akan menghadapi tekanan yang lebih besar,” jelas Jeffrosenberg.

Namun, dalam perspektif jangka menengah hingga panjang, prospeknya dinilai menjadi lebih konstruktif, terutama jika tema “war on resources” atau perebutan sumber daya terus menguat. Indonesia, sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam seperti nikel, tembaga, emas, dan batu bara, dinilai berada pada posisi yang strategis di tengah dinamika fragmentasi geopolitik global dan proses realokasi rantai pasok dunia.

Rekomendasi Saham

Dalam kondisi pasar saat ini, Maybank Sekuritas Indonesia merekomendasikan strategi lindung nilai (hedging) terhadap risiko eskalasi di Timur Tengah. Strategi ini dapat dilakukan melalui eksposur yang selektif pada beberapa sektor dan saham, di antaranya:

  • Saham Batu Bara: Direkomendasikan untuk memilih emiten seperti ADRO, AADI, ITMG, dan INDY.
  • Saham CPO: Disarankan untuk mempertimbangkan saham seperti LSIP dan TAPG.
  • Jasa Migas: Emiten di sektor ini yang direkomendasikan adalah ELSA dan WINS.

Jeffrosenberg menjelaskan bahwa CPO berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga minyak dunia melalui dinamika substitusi penggunaan biofuel. Sementara itu, emiten jasa ladang minyak biasanya mencatat peningkatan aktivitas operasional dan ekspansi margin laba ketika harga minyak bertahan pada level yang tinggi.

Sebaliknya, ia menyarankan agar investor bersikap lebih hati-hati terhadap saham-saham di sektor konsumer yang memiliki asosiasi kuat dengan merek-merek Barat. Saham-saham seperti UNVR, FAST, MAPB, dan MAPA berpotensi terdampak oleh sentimen boikot dari konsumen. Selain itu, saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga, seperti BMRI, BBCA, BBRI, BRIS, BNGA, SMRA, CTRA, dan BSDE, diperkirakan akan mengalami volatilitas dalam jangka pendek.

Meskipun demikian, Jeffrosenberg menilai bahwa penyangga makroekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk membatasi lonjakan tajam pada imbal hasil obligasi. Hal ini didukung oleh fakta bahwa sektor perbankan saat ini lebih menghadapi kendala pada sisi permintaan kredit dibandingkan dengan masalah likuiditas.

Peluang Jangka Panjang pada Logam Industri

Di sisi lain, Maybank melihat setiap koreksi harga pada logam industri sebagai peluang akumulasi dalam kerangka “war on resources” yang diproyeksikan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.

  • Tembaga: Permintaan tembaga diproyeksikan akan tumbuh sekitar 3%–4% per tahun hingga tahun 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh beberapa faktor utama, termasuk adopsi kendaraan listrik yang membutuhkan tiga hingga empat kali lebih banyak tembaga dibandingkan kendaraan konvensional, ekspansi jaringan listrik, serta peningkatan kebutuhan daya yang berbasis kecerdasan buatan (AI).
  • Nikel: Kekhawatiran mengenai potensi surplus pasokan nikel mulai bergeser ke prospek pengetatan pasokan di masa depan. Hal ini terutama terlihat setelah Indonesia memangkas kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk tahun 2026 menjadi sekitar 260 juta–270 juta ton, turun dari angka 379 juta ton pada tahun 2025.
  • Emas: Emas tetap dipandang sebagai instrumen lindung nilai strategis di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik dan upaya diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral global dari ketergantungan pada dolar Amerika Serikat.

“Dalam konteks ini, kami akan fokus mengakumulasi saham-saham produsen logam industri dan logam mulia ketika terjadi pelemahan harga. Ini termasuk emiten seperti INCO, ANTM, dan MEDC yang memiliki eksposur tidak langsung terhadap tembaga dan emas melalui kepemilikan saham di PT Merdeka Copper Gold Tbk (AMMN),” tutup Jeffrosenberg.

Pos terkait