Ledakan Maut Petasan di Ponorogo: Kronologi dan Fakta Baru
Insiden tragis mengguncang Dusun Cuwet, Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada Minggu (1/3/2026) sore. Sebuah ledakan dahsyat yang berasal dari petasan merenggut nyawa dua orang remaja dan melukai satu orang lainnya. Penyelidikan mendalam oleh pihak kepolisian akhirnya mengungkap fakta-fakta baru yang mengerikan di balik peristiwa nahas tersebut.
Ledakan yang terjadi di teras rumah milik Minten ini diduga kuat dipicu oleh aktivitas meracik serbuk petasan yang dilakukan oleh dua remaja, RF dan AF. RF, yang merupakan anak dari pemilik rumah, diketahui memiliki dan meracik serbuk petasan tersebut bersama temannya, AF.
Kronologi Kejadian yang Mengerikan
Menurut keterangan Kasatreskrim Polres Ponorogo, AKP Imam Mujali, serbuk petasan yang meledak itu adalah milik RF. “Serbuk petasan yang meledak merupakan milik RF yang meninggal dunia di lokasi. RF adalah anak pemilik rumah,” ujar Imam Mujali pada Minggu (8/3/2026).
Proses peracikan bahan peledak ini dilakukan di teras rumah, tepat di depan pintu tengah. RF dan AF diduga sedang dalam proses mencampur serbuk-serbuk tersebut untuk kemudian dimasukkan ke dalam gulungan petasan, menciptakan mercon yang siap meledak.
Pihak kepolisian menemukan sebuah panci aluminium di lokasi kejadian, yang diduga kuat digunakan sebagai wadah untuk menampung serbuk petasan selama proses peracikan.
Dugaan kuat mengenai pemicu ledakan adalah percikan api dari rokok. “Ada dugaan keduanya meracik sambil merokok. Percikan api dari rokok diduga mengenai serbuk petasan sehingga memicu ledakan. Di lokasi juga ditemukan korek api,” jelas Imam Mujali. Temuan korek api di tempat kejadian semakin memperkuat dugaan ini.
Korban dan Saksi
Akibat ledakan yang sangat kuat ini, RF, seorang pelajar SMP, meninggal dunia seketika di lokasi kejadian. Sementara itu, AF, rekannya, sempat menjalani perawatan intensif di RSUD dr Harjono Ponorogo selama empat hari sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Selain kedua korban yang meninggal, insiden ini juga menimbulkan korban luka. Seorang saksi berinisial HA, yang kebetulan datang ke rumah korban untuk mengembalikan kunci sepeda motor, turut menjadi korban luka akibat ledakan tersebut. “HA mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut,” kata Imam.
Di dalam rumah pada saat kejadian, terdapat pula tiga anak yang berstatus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH). Namun, hingga saat ini, polisi belum menemukan bukti yang mengaitkan mereka dengan kepemilikan maupun pengadaan bahan petasan yang menyebabkan ledakan.
Pihak kepolisian juga mencatat bahwa Minten, ibu dari korban RF, serta RN, kakak korban, masih dalam kondisi syok berat akibat peristiwa tragis ini. Oleh karena itu, mereka belum dapat dimintai keterangan lebih lanjut.
Proses Penyelidikan dan Barang Bukti
Untuk memastikan penyebab pasti ledakan, polisi telah mengumpulkan sisa serbuk petasan yang ditemukan di lokasi kejadian. Barang bukti ini kini tengah diajukan untuk diperiksa lebih lanjut di Laboratorium Forensik Polda Jawa Timur. “Hasil pemeriksaan laboratorium nanti akan kami sampaikan setelah proses penyelidikan selesai,” ujar Imam Mujali.
Penyelidikan masih terus dilakukan untuk mendalami semua aspek yang terlibat dalam kejadian ini, termasuk dari mana asal serbuk petasan tersebut dan apakah ada pihak lain yang terlibat.
Peristiwa ini menjadi pengingat yang menyedihkan akan bahaya meracik dan bermain petasan, terutama bagi kalangan remaja. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dan menjauhi aktivitas yang berpotensi membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.





