Lucinta Luna Tampil Maskulin di Salat Idul Fitri, Ungkap Momen Pertama Kembali ke Jati Diri
Sosok Lucinta Luna, yang selama ini identik dengan citra feminin dan glamor, kembali mencuri perhatian publik dengan penampilan yang sangat berbeda. Dalam momen perayaan Idul Fitri, influencer yang memiliki nama asli Muhammad Fatah ini memilih untuk tampil maskulin saat menjalankan salat Id. Perubahan drastis ini sontak menjadi perbincangan hangat di media sosial, terutama karena momen tersebut menandai pengalaman pertamanya kembali mengenakan busana pria setelah menjalani operasi penggantian kelamin.
Unggahan yang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya menampilkan Lucinta Luna dalam balutan pakaian yang sangat berbeda dari kesehariannya. Ia terlihat mengenakan baju koko putih lengan panjang yang dipadukan dengan sarung bernuansa gelap. Tak lupa, sebuah peci hitam menghiasi kepalanya, melengkapi penampilan maskulinnya. Bahkan, rambut panjangnya yang menjadi ciri khasnya pun diikat ke belakang agar tidak terlalu menonjolkan kesan feminin.
Lokasi salat Idul Fitri tersebut diketahui berlangsung di Seoul Central Mosque, Korea Selatan, sebagaimana tertera pada penanda lokasi yang disematkan dalam unggahannya. Keberadaan Lucinta Luna di masjid tersebut, apalagi dengan penampilan yang berbeda, tentu menarik rasa ingin tahu banyak orang.
Di balik penampilannya yang mengejutkan tersebut, Lucinta Luna mengungkapkan niat tulus di balik keputusannya. Ia menyatakan bahwa meskipun selama ini dikenal sebagai figur publik dengan identitas transgender, ia memilih untuk kembali pada jati dirinya saat berhadapan dengan Sang Pencipta. Ini adalah sebuah momen refleksi mendalam baginya.
Dalam salah satu foto yang diunggahnya, dengan latar belakang menara masjid, ia menuliskan sebuah kutipan yang menyentuh: “Bayangkan Allah SWT senang denganmu karena niat keberanianmu untuk datang beribadah kerumah Allah.” Pesan ini menunjukkan betapa ia menghargai kesempatan untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan.
Tak hanya itu, dalam rangkaian foto yang dibagikan, Lucinta Luna juga terlihat berbaur dengan jemaah pria lainnya. Ia tampak aktif bersalaman dan bersilaturahmi setelah pelaksanaan salat Id, menunjukkan niatnya untuk kembali terhubung dengan komunitas Muslim.

Sebelum momen salat Idul Fitri ini, Lucinta Luna sempat mengunggah sebuah video transisi yang memperlihatkan perubahan penampilannya. Dalam video tersebut, ia bertransformasi dari penampilan feminin dengan riasan lengkap menjadi sosok pria. Melalui unggahan itu pula, ia menyampaikan harapan terbesarnya untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Meskipun Aku hanyalah seorang Pendosa yang tak luput dari penyimpangan, izinkan aku, Muhammad Fatah, di hari yang suci ini untuk beribadah lebih dekat kepadamu Ya Allah,” tulisnya, mengungkapkan kerendahan hati dan keinginannya untuk bertaubat.
Lucinta Luna secara gamblang menyatakan bahwa momen Idul Fitri kali ini merupakan pengalaman pertamanya kembali tampil sebagai laki-laki untuk menunaikan salat Id berjamaah di masjid di negeri orang, dan berdiri di barisan shaf laki-laki. Keputusan ini tentu membutuhkan keberanian besar baginya.
Ia berharap langkah ini menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang untuk memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. “Semoga dari sini Aku bisa perlahan memperbaiki diri, menjalani ibadah dengan lebih baik, dan mengurangi rasa malu serta gengsi untuk kembali kepada fitrah yang telah Allah tetapkan sejak aku lahir,” tuturnya, menunjukkan tekad yang kuat untuk kembali ke jalan yang benar.
Sebagai penutup unggahannya, momen khusyuk tersebut diiringi dengan audio gema takbir dari Ustad Jefri Al Buchori dan H. Aswan Faisal, menambah nuansa spiritual pada perayaan Idul Fitri. Lucinta Luna juga tidak lupa menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya kepada para pengikutnya.
“Happy Eid Mubarak 1447 Hijriah. Minal aidin wal faidzi. Mohon maaf lahir dan batin,” tulisnya di kolom keterangan, sebagai penutup ungkapan rasa syukur dan permohonan maafnya.
Tindakan Lucinta Luna ini menjadi sorotan karena menunjukkan keberaniannya untuk kembali ke jati diri dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, terlepas dari segala kontroversi dan pandangan publik terhadap dirinya. Momen ini menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki perjalanan spiritualnya sendiri, dan keinginan untuk berubah menjadi lebih baik selalu terbuka bagi siapa saja.





