Kempalan Parah di Batang Hari Lumpuhkan Akses Lalu Lintas, Perbaikan Jalan Jadi Biang Keladi
MUARA BULIAN – Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, kembali menjadi sorotan akibat kemacetan parah yang melumpuhkan jalur lintas Muara Bulian. Pada Minggu, 8 Maret 2026, ribuan kendaraan dilaporkan terjebak tak bergerak selama berjam-jam, menciptakan pemandangan yang memprihatinkan dan mengganggu mobilitas warga, terutama di tengah bulan Ramadan yang semakin mendekat.
Antrean kendaraan yang panjang tidak hanya memadati badan jalan, tetapi juga meluas hingga menutupi jalur arah berlawanan. Situasi ini diperparah dengan bercampurnya kendaraan angkutan batu bara dengan kendaraan pribadi, menciptakan “simpul mati” yang sulit diurai oleh petugas. Kemacetan dilaporkan membentang dari titik perbaikan jalan hingga mencapai area Desa Tenam, sebuah kondisi yang membuat para pengendara frustrasi.
Dalam sebuah rekaman video yang beredar luas, seorang warga merekam keputusasaannya melihat ribuan roda kendaraan yang berhenti total. Ia menggambarkan bagaimana kendaraan telah membentuk formasi tiga jalur, secara efektif menutup akses bagi kendaraan dari arah berlawanan. “Macet sampai ke Tenam di (sekitar) Soto Jakarta. Macet, tiga jalur,” keluhnya dalam video tersebut.
Akar Masalah: Perbaikan Jalan yang Memakan Waktu
Penyebab utama dari kemacetan yang terus berulang ini adalah adanya pekerjaan perbaikan jalan dan infrastruktur yang masih berlangsung di sepanjang jalur utama Tenam-Tembesi. Proyek perbaikan lubang jalan yang krusial ini memaksa diberlakukannya sistem buka tutup arus lalu lintas. Namun, sistem ini terbukti tidak mampu menampung tingginya volume kendaraan yang melintas, terutama pada jam-jam puncak angkutan batu bara, yang biasanya terjadi pada sore hingga dini hari.
Menurut keterangan warga setempat, termasuk Ketua Pemuda Herman Susilo, pengerjaan fisik di titik-titik jalan yang rusak inilah yang menjadi biang keladi utama tersendatnya arus lalu lintas selama beberapa hari terakhir. Akibatnya, aktivitas ekonomi dan mobilitas harian warga mengalami gangguan yang signifikan, menambah beban di tengah ibadah puasa.
Kemacetan yang Berlangsung Berhari-hari
Krisis kemacetan yang melumpuhkan jalur lintas Muara Bulian ini ternyata tidak hanya terjadi pada Minggu tersebut. Laporan menunjukkan bahwa kemacetan horor ini sudah berlangsung sejak Jumat sore, 7 Maret 2026, dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Hingga menjelang siang pada Sabtu (7/3/2026), ribuan kendaraan, mulai dari truk batu bara hingga mobil pribadi, masih terjebak dalam antrean panjang yang mengular. Investigasi di lapangan mengonfirmasi bahwa proyek perbaikan jalan di titik yang sangat vital menjadi penyebab utama penumpukan. Kondisi jalan yang berlubang parah sedang dalam tahap pengerjaan, sehingga memaksa petugas untuk memberlakukan sistem lalu lintas bergantian.
Sistem Buka Tutup yang Tak Efektif
Ketua Pemuda setempat, Herman Susilo, mengonfirmasi bahwa perbaikan jalan tersebut menjadi pemicu utama penumpukan kendaraan. Lambatnya arus lalu lintas di titik kerusakan membuat antrean kendaraan, terutama kendaraan berat, menjadi tidak terhindarkan.
“Gara-gara perbaikan jalan. Dari kemarin sore sampai sekarang masih buka tutup,” ungkap Herman Susilo pada Sabtu, 7 Maret 2026. Ia menambahkan bahwa kemacetan paling parah terasa di jalur penghubung antara Desa Tenam menuju Tembesi. Penumpukan yang dimulai sejak Jumat sore tersebut semakin memburuk saat memasuki waktu sahur hingga pagi harinya, bertepatan dengan puncak volume angkutan batu bara.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitas manajemen lalu lintas dan koordinasi antara pihak terkait dalam menangani proyek infrastruktur di wilayah yang padat lalu lintas. Keterlambatan penyelesaian proyek atau minimnya solusi alternatif selama masa perbaikan semakin memperburuk kondisi dan menimbulkan kerugian waktu serta materi bagi masyarakat pengguna jalan. Harapan terbesar kini tertuju pada percepatan penyelesaian perbaikan jalan agar arus lalu lintas di Batang Hari dapat kembali normal dan aktivitas warga tidak lagi terganggu.






