Madura United Terpuruk: Tren Tanpa Kemenangan Memperpanjang, Ancaman Degradasi Semakin Nyata
Perjalanan Madura United di kompetisi Super League 2025/2026 semakin berat. Dalam laga tandang terbarunya melawan Persita Tangerang di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, pada Sabtu (7/3/2026) malam, tim berjuluk Laskar Sapeh Kerrab ini kembali harus menelan pil pahit dengan kekalahan telak 4-1. Hasil ini tidak hanya memperpanjang rentetan performa buruk, tetapi juga menempatkan mereka dalam bayang-bayang zona degradasi yang semakin mengintai.
Kekalahan ini menandai 10 pertandingan beruntun tanpa kemenangan bagi Madura United. Dari sepuluh laga tersebut, tiga berakhir imbang dan tujuh lainnya berujung pada kekalahan. Tren negatif ini tentu menjadi pukulan telak bagi tim dan para pendukungnya, menimbulkan pertanyaan besar mengenai performa dan strategi yang diterapkan.
Jalannya Pertandingan: Awal Buruk, Kebangkitan Terlambat
Pertandingan pekan ke-25 ini diawali dengan dominasi penuh dari tuan rumah, Persita Tangerang. Gol cepat dicetak oleh Hardianto pada menit ke-3, disusul oleh Pablo Ganet pada menit ke-9, dan dua gol dari Rayco pada menit ke-16 dan ke-30. Empat gol cepat ini seolah mematahkan semangat juang Madura United sejak awal laga.
Menanggapi performa tim yang jauh dari harapan di menit-menit awal, pelatih Madura United, Carlos Parreira, mengakui bahwa timnya tampil sangat buruk di 20 menit pertama. “Pertandingan ini tim kami 20 menit pertama benar-benar tidak bagus,” ujarnya usai pertandingan. Ia menambahkan bahwa perubahan strategi dan pergantian pemain di babak pertama mulai memberikan dampak positif, yang kemudian terlihat pada babak kedua.
Memasuki babak kedua, Madura United menunjukkan sedikit perlawanan. Mereka berhasil mencetak satu gol hiburan melalui Riquelme pada menit ke-51. Peluang-peluang lain mulai tercipta, dengan total 16 tendangan dilepaskan, empat di antaranya mengarah tepat ke gawang Persita. Namun, sebagian besar peluang tersebut baru tercipta di paruh kedua, yang dinilai terlambat untuk mengubah jalannya pertandingan.
Carlos Parreira menyayangkan kurangnya semangat juang di awal laga. “Jika kami memiliki semangat juang dan sikap yang sama di babak pertama, pertandingan tidak akan seperti ini,” tegasnya. Ia berharap para pemain dapat memetik pelajaran dari kesalahan ini.
Pemain Madura United, M. Taufany, turut mengakui bahwa performa tim di babak pertama sangat mengecewakan. “Babak kedua kami coba bangkit, tapi hasilnya tidak memuaskan. Semoga pertandingan berikutnya kami menang,” harapnya. Pengakuan ini menunjukkan adanya kesadaran di internal tim mengenai performa yang perlu segera diperbaiki.
Ancaman Degradasi: Posisi Rentan di Klasemen
Kekalahan dari Persita Tangerang semakin memperbesar peluang Madura United untuk tergelincir ke zona degradasi. Saat ini, tim yang bermarkas di Pulau Madura ini menempati peringkat ke-14 klasemen sementara dengan raihan 20 poin. Posisi ini hanya berjarak dua strip di atas zona degradasi.
Jumlah poin Madura United sama dengan Persijap yang berada satu tingkat di bawah mereka, namun Persijap belum memainkan pertandingan pekan ini. Situasi menjadi lebih genting ketika melihat selisih poin dengan PSBS Biak, tim yang saat ini menduduki zona degradasi. Madura United hanya unggul dua poin dari PSBS Biak.
Yang membuat situasi Madura United semakin rentan adalah PSBS Biak masih menyimpan satu pertandingan. Pertandingan tunda mereka akan dilakoni pada Senin (9/3/2026) mendatang, di mana mereka akan menjamu Semen Padang. Jika PSBS Biak berhasil meraih kemenangan dalam laga tersebut, maka otomatis Madura United akan terlempar ke zona degradasi, terlepas dari hasil pertandingan mereka selanjutnya.
Situasi ini menuntut Madura United untuk segera berbenah. Performa yang konsisten dan mentalitas pantang menyerah di setiap pertandingan menjadi kunci untuk keluar dari tren negatif ini dan menjauh dari ancaman degradasi yang kian nyata. Perlu ada evaluasi mendalam, baik dari segi taktik, fisik, maupun mental para pemain agar Laskar Sapeh Kerrab dapat bangkit dari keterpurukan.





