Sektor Perbankan Indonesia: Menavigasi Tantangan dan Menyongsong Pemulihan di 2025-2026
Tahun 2025 diprediksi menjadi periode krusial bagi sektor perbankan Indonesia, ditandai dengan sejumlah tantangan signifikan yang berpotensi memengaruhi kinerja, mulai dari isu likuiditas hingga laju pertumbuhan kredit. Lanskap perbankan di tahun berikutnya, 2026, akan sangat dipengaruhi oleh pergeseran kebijakan makroekonomi.
Analisis Kinerja Sektor Perbankan di 2025
Hingga akhir tahun 2025, sektor perbankan menunjukkan kinerja yang tertinggal jika dibandingkan dengan indeks imbal hasil secara umum. Analis dari Henan Putihrai Sekuritas, James Stanley Widjadja, menyoroti bahwa ketatnya likuiditas pada awal tahun memaksa bank untuk menaikkan suku bunga deposito. Langkah ini diambil untuk menjaga cadangan likuiditas yang memadai sekaligus menahan laju pertumbuhan pinjaman.
Lebih lanjut, James mengamati bahwa pelemahan daya beli masyarakat turut berkontribusi pada penurunan kualitas aset, terutama pada segmen usaha kecil menengah (UKM) dan segmen konsumen. Kombinasi dari pertumbuhan pinjaman yang melambat, tekanan pada Net Interest Margin (NIM) atau selisih antara pendapatan bunga dan biaya bunga, serta peningkatan biaya provisi atau penyisihan kerugian kredit, secara kolektif menekan laba per saham (Earnings Per Share/EPS) sektor perbankan.
Kinerja harga saham sektor perbankan yang kurang optimal juga dikaitkan dengan arus keluar dana asing. Kekhawatiran terhadap kondisi makroekonomi domestik yang melemah dan ketidakpastian kebijakan pasca-transisi pemerintahan baru menjadi faktor pemicu utama.
Titik Balik dan Harapan Pemulihan
Namun, James Stanley Widjadja meyakini bahwa kuartal ketiga tahun 2025 dapat menjadi titik balik bagi sektor perbankan. Data yang tercatat pada bulan Oktober dan November 2025 mengindikasikan adanya perbaikan kondisi likuiditas, khususnya bagi bank-bank besar. James memprediksi tren positif ini akan memicu pemulihan EPS dalam beberapa kuartal mendatang, meskipun tantangan terkait imbal hasil aset dan kualitas aset masih perlu dicermati.
Kinerja Bank-Bank Besar: Kontras dalam Laporan Keuangan
Dalam laporan keuangan bulanan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat pertumbuhan laba bersih tahunan yang impresif sebesar 4,4% dalam sepuluh bulan pertama tahun 2025. Angka ini menjadi kontras signifikan jika dibandingkan dengan bank-bank besar lainnya yang mengalami kontraksi. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengalami kontraksi sebesar 10,2%, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkontraksi 9,7%, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkontraksi 6,3%.
Dari sisi pertumbuhan kredit, BMRI memimpin dengan pertumbuhan 11,1%, diikuti oleh BBNI (9,6%), BBCA (7,6%), dan BBRI (5,1%).
Proyeksi Pertumbuhan Kredit dan Kebijakan Moneter
Head of Research OCBC Sekuritas, Budi Rustanto, memperkirakan pertumbuhan kredit akan mencapai sekitar 8% pada akhir tahun 2025. Untuk tahun berikutnya, diproyeksikan pertumbuhan kredit akan berada di kisaran 8% hingga 12%. Proyeksi ini didukung oleh ekspektasi perbaikan pertumbuhan ekonomi yang akan didorong oleh kebijakan fiskal yang ekspansif dan pelonggaran moneter yang agresif.
Budi menambahkan bahwa Bank Indonesia, bekerja sama erat dengan pemerintah, akan terus memperkuat sinergi kebijakan. Tujuannya adalah untuk mempercepat pertumbuhan kredit dan mendukung ekspansi ekonomi yang berkelanjutan. Ia memperkirakan segmen korporasi dan konsumen akan tetap menunjukkan performa yang solid, sementara segmen mikro diperkirakan baru akan pulih pada tahun 2027.
Prospek Awal 2026: Stabilitas dengan Kecenderungan Membaik
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, memproyeksikan kinerja perbankan di awal tahun 2026 akan relatif stabil dengan kecenderungan membaik. Stabilitas ini akan ditopang oleh pertumbuhan kredit yang masih positif, terjaganya likuiditas, serta potensi penurunan suku bunga lebih lanjut yang diharapkan dapat mendorong permintaan kredit.
Namun, David mengidentifikasi beberapa tantangan utama. Tekanan pada margin bunga bersih (NIM) akibat penyesuaian suku bunga, potensi peningkatan biaya dana, serta pentingnya menjaga kualitas aset di tengah pemulihan ekonomi yang belum merata, menjadi faktor-faktor yang perlu diwaspadai.
Sentimen kunci yang akan memengaruhi pergerakan sektor ini meliputi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, stabilitas nilai tukar rupiah, laju pertumbuhan kredit (loan growth), serta tren Non-Performing Loan (NPL) dan cost of credit. Selain itu, aliran dana asing juga menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan saham bank-bank besar.
Perkiraan Laba Bersih Sektor dan Perbedaan Konsensus
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, memperkirakan laba bersih sektor perbankan pada tahun 2026 akan mencapai Rp 205,5 triliun, menunjukkan kenaikan 5,1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Perkiraan ini sedikit berbeda dengan konsensus pasar yang memproyeksikan laba bersih sebesar Rp 215,9 triliun, atau naik 9,2% yoy.
Perbedaan proyeksi ini mengindikasikan bahwa konsensus memperhitungkan pemulihan yang lebih cepat dengan ekspansi margin yang lebih besar dibandingkan dengan perkiraan BRI Danareksa Sekuritas. Hal ini menyiratkan adanya risiko pendapatan yang lebih tinggi jika biaya pendanaan menurun lebih cepat dari perkiraan. Namun, di sisi lain, terdapat pula risiko penurunan jika pemotongan suku bunga atau normalisasi kredit tidak berjalan sesuai harapan.
Victor menambahkan bahwa secara umum, BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan pinjaman yang lebih tinggi, margin bunga bersih (NIM) yang lebih rendah, biaya operasional (opex) yang lebih rendah, dan biaya kredit yang bervariasi pada tahun fiskal 2026.
Rekomendasi Saham Sektor Perbankan
Para analis memberikan pandangan yang beragam namun cenderung positif terhadap beberapa saham perbankan.
James Stanley Widjadja (Henan Putihrai Sekuritas) memberikan peringkat netral untuk sektor perbankan secara keseluruhan. Meskipun valuasi sektor saat ini dianggap murah, ia menekankan pentingnya selektivitas dalam memilih saham, dengan fokus pada bank-bank berkualitas.
- Rekomendasi Buy untuk saham:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp 10.000 per saham.
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan target harga Rp 5.000 per saham.
- PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan target harga Rp 2.500 per saham.
- Rekomendasi Buy untuk saham:
Budi Rustanto (OCBC Sekuritas) merekomendasikan saham-saham bank besar untuk dibeli.
- Rekomendasi Buy untuk saham:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp 11.000 per saham.
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dengan target harga Rp 5.000 per saham.
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 5.500 per saham.
- Rekomendasi Buy untuk saham:
David Kurniawan (PT Indo Premier Sekuritas) juga merekomendasikan saham-saham bank unggulan.
- Rekomendasi Buy untuk saham:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga kisaran Rp 10.000 per saham.
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan target harga kisaran Rp 5.600 per saham.
- Rekomendasi Buy untuk saham:
Victor Stefano (BRI Danareksa Sekuritas) memilih saham bank yang dinilai memiliki potensi.
- Rekomendasi Buy untuk saham:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga Rp 10.800 per saham.
- PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BTPS) dengan target harga Rp 1.600 per saham.
- Rekomendasi Buy untuk saham:





