Wabah Malaria Kembali Mengancam Pesisir Bangka, Puluhan Warga Terinfeksi
Kecemasan kini menyelimuti warga di pesisir Pantai Batu Atap dan Pantai Bubus, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Munculnya kembali kasus malaria, penyakit yang sempat dinyatakan berhasil dieliminasi di wilayah tersebut, telah membuat sebagian warga membatasi aktivitas di luar rumah. Puluhan warga dilaporkan terinfeksi, dengan gejala umum berupa demam tinggi, menggigil, dan tubuh lemas.
Wika, seorang warga yang berasal dari Sumatera Selatan dan tinggal di Pantai Batu Atap, menceritakan bagaimana keluarganya turut terdampak. Anaknya sempat harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah hasil pemeriksaan darah menunjukkan positif malaria. “Awalnya dikira demam biasa. Setelah cek darah di puskesmas ternyata positif malaria dan dirujuk ke rumah sakit,” ungkap Wika. Menurutnya, penyakit ini mulai menyebar setelah beberapa tetangga di sekitarnya lebih dulu terjangkit. Wika sendiri juga sempat terserang malaria, namun berhasil pulih setelah mendapatkan pengobatan. Meskipun telah sembuh, rasa khawatir masih membayangi. “Kami masih takut keluar rumah. Tadi dapat kabar masih ada yang positif dan kondisinya menggigil,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan oleh Mawar, yang dua anaknya dinyatakan positif malaria setelah mengalami gejala menggigil sepulang dari laut. “Takut sekali, tapi saya berharap anak-anak cepat sembuh setelah diberi obat oleh tim medis,” katanya.
Status Kejadian Luar Biasa (KLB) Ditetapkan
Menyikapi lonjakan kasus yang mengkhawatirkan, Pemerintah Kabupaten Bangka telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses penanganan dan memutus rantai penularan penyakit tersebut. Bupati Bangka, Fery Insani, menekankan bahwa wilayah Bangka sebelumnya telah berhasil meraih status eliminasi malaria pada tahun 2014, yang berarti bebas dari kasus malaria. “Dulu kita sudah eliminasi malaria, tahun 2014 kita sudah dinyatakan zero malaria. Tiba-tiba muncul puluhan kasus, tentu ini menjadi perhatian serius,” ujarnya.
Peningkatan kasus ini diduga dipicu oleh beberapa faktor, antara lain mobilitas penduduk dan aktivitas masyarakat di kawasan pesisir. Banyak warga yang tinggal di hunian sementara, yang cenderung lebih rentan terhadap gigitan nyamuk pembawa malaria. Selain itu, perubahan cuaca yang tidak menentu juga turut meningkatkan risiko penyakit yang berbasis lingkungan ini.
Sebagai respons cepat, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan telah melancarkan berbagai upaya penanganan. Tindakan tersebut meliputi:
- Pengasapan (Fogging): Dilakukan di area-area yang teridentifikasi sebagai titik rawan penyebaran.
- Pemeriksaan Kesehatan Massal: Digerakkan untuk mendeteksi kasus secara dini dan memberikan pengobatan.
- Penyediaan Stok Obat Malaria: Memastikan ketersediaan obat yang memadai untuk pasien yang terinfeksi.
Pemerintah juga telah menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan bagi pasien malaria akan ditanggung sepenuhnya oleh negara, guna meringankan beban masyarakat.
Survei Darah Massal Gencarkan Deteksi Dini
Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka terus berupaya keras dalam menggencarkan survei darah massal di lapangan. Tujuannya adalah untuk menemukan kasus malaria sedini mungkin, sehingga penanganan dapat segera dilakukan. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Satpol PP, Linmas, dan perangkat daerah lainnya. Metode yang digunakan adalah “jemput bola” dengan mendatangi rumah-rumah warga secara langsung di kawasan Pantai Batu Atap.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bangka, Anggia Murni, menjelaskan bahwa seluruh rumah warga diperiksa untuk memastikan penyebaran penyakit dapat segera dikendalikan. “Survei darah massal atau screening malaria dilakukan secara door to door. Semua rumah kami datangi dan diperiksa satu per satu,” terangnya.
Dalam pelaksanaan screening siklus kedua yang dilakukan di Dusun Bubus, tim kesehatan berhasil memeriksa 99 warga. Dari jumlah tersebut, delapan orang dinyatakan positif malaria dan langsung menerima pengobatan. Sementara itu, 91 warga lainnya dinyatakan negatif. “Warga yang positif langsung diberikan obat pada hari yang sama,” kata Anggia.
Meskipun demikian, pemeriksaan belum mencakup seluruh warga. Sebagian besar kepala keluarga masih berada di lokasi tambang saat tim kesehatan melakukan pemeriksaan. “Belum semuanya diperiksa karena banyak yang masih bekerja. Kami akan kembali lagi dan sudah berkoordinasi dengan ketua RT setempat,” jelasnya. Rencana perluasan pemeriksaan juga akan dilakukan ke kawasan Pantai Bubus, yang diketahui menjadi salah satu titik dengan jumlah kasus yang cukup tinggi.
Anggia Murni menambahkan bahwa peningkatan kasus tidak hanya terdeteksi melalui screening massal. Beberapa warga yang sebelumnya dinyatakan negatif melalui Rapid Diagnostic Test (RDT) kemudian mengalami gejala beberapa hari setelah pemeriksaan dan memilih berobat ke puskesmas, klinik, maupun rumah sakit.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Bangka, hingga awal Juni, jumlah kasus positif malaria telah mencapai 92 orang. Dengan penambahan hasil temuan terbaru di lapangan, total kasus positif malaria kini mendekati angka 100 orang. “Kasus tersebar di beberapa wilayah kerja puskesmas, mulai dari Pemali hingga Riau Silip. Namun yang paling banyak masih terkonsentrasi di Kecamatan Belinyu, khususnya Batu Atap dan Dusun Bubus,” ungkap Anggia.
Kendala Penolakan Pemeriksaan dari Kalangan Penambang
Di tengah upaya penanganan wabah malaria yang sedang digalakkan, pemerintah menghadapi salah satu kendala utama: sebagian penambang timah enggan menjalani pemeriksaan kesehatan. Plt Kepala Satpol PP Kabupaten Bangka, Achmad Suherman, mengungkapkan bahwa sejumlah penambang menolak diperiksa karena kekhawatiran aktivitas kerja mereka akan terganggu. “Kendala kami, mereka tidak mau diperiksa. Mereka tidak ingin aktivitasnya dihentikan, sementara sebagian baru pulang bekerja pada malam hari sehingga menyulitkan pemantauan,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan ini, Satpol PP bersama dengan perangkat RT setempat akan mengambil langkah tegas. Aktivitas penambangan akan dihentikan sementara pada waktu-waktu tertentu. Tujuannya adalah agar seluruh pekerja tambang dapat mengikuti pemeriksaan kesehatan yang telah dijadwalkan. “Mulai Rabu, aktivitas penambangan akan dihentikan sementara mulai pukul 09.00 WIB agar para penambang bisa menjalani tes malaria,” tegas Achmad Suherman.
Ia menekankan bahwa langkah ini murni dilakukan demi kepentingan kesehatan masyarakat dan bukan merupakan bagian dari penertiban aktivitas tambang secara umum. “Ini demi keselamatan bersama. Kami berharap seluruh penambang mengikuti arahan petugas agar jumlah kasus tidak terus bertambah dan warga yang terinfeksi bisa segera mendapat pengobatan,” pungkasnya.





