Mata Ketenagakerjaan Sulteng 2-26: Dominasi Sektor Agraris

Kondisi Ketenagakerjaan di Tengah Dinamika Ekonomi

Geliat roda perekonomian dan dinamika pembangunan secara langsung terlihat dari bagaimana sebuah wilayah mengelola sumber daya manusianya. Memasuki bulan kedua di tahun 2026, potret ketenagakerjaan menunjukkan sinyal yang cukup optimistis, meski tetap menyisakan sejumlah catatan kritis yang memerlukan perhatian mendalam.

Berdasarkan data terbaru, jumlah angkatan kerja kini telah menyentuh angka 1.672,33 ribu orang. Skala ini menggambarkan betapa besarnya potensi sekaligus tanggung jawab penyediaan lapangan kerja yang harus dipikul oleh sistem perekonomian saat ini.

Di tengah besarnya jumlah angkatan kerja tersebut, terdapat kabar baik yang mengembuskan angin segar bagi para pengambil kebijakan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat berada di angka 2,95 persen. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (Februari 2025), angka ini mengalami penurunan sebesar 0,07 persen poin. Penurunan yang sekilas tampak kecil ini sebetulnya menyimpan makna krusial: ada konsistensi dalam penyerapan tenaga kerja di tengah situasi ekonomi yang terus bergerak dinamis.

Dampak langsung dari penurunan angka pengangguran ini terlihat nyata pada melonjaknya jumlah penduduk yang bekerja, yang kini mencapai 1.622,95 ribu orang. Artinya, terjadi lonjakan penyerapan tenaga kerja baru sebanyak 27,44 ribu orang jika disandingkan dengan kondisi pada Februari 2025.

Sektor Tradisional Tetap Menjadi Lokomotif

Melihat lebih dalam ke sektor riil, daya dorong utama perekonomian ternyata masih bertumpu kuat pada sektor tradisional. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tetap kukuh memegang predikat sebagai lokomotif utama penyerapan tenaga kerja. Sektor ini mampu menampung sebanyak 699,39 ribu orang, atau setara dengan 43,09 persen dari total penduduk yang bekerja. Angka yang mendekati separuh dari total lapangan kerja ini menegaskan bahwa karakter perekonomian kita masih sangat kental dengan corak agraris dan maritim, menjadikannya benteng pertahanan utama bagi penghidupan masyarakat luas.

Perubahan Struktural dalam Kualitas Kerja

Selain kuantitas, dinamika ketenagakerjaan Februari 2026 juga memperlihatkan adanya pergeseran struktural dari sisi kualitas atau mutu pekerjaan. Salah satu indikator yang menggembirakan adalah penguatan pada sektor formal. Saat ini, sebanyak 557,60 ribu orang atau sekitar 34,36 persen dari total pekerja telah menggantungkan hidupnya pada kegiatan formal. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 1,01 persen poin dibandingkan Februari 2025. Tren positif ini mengindikasikan bahwa semakin banyak pekerja yang mulai mendapatkan kepastian hukum, stabilitas pendapatan, serta perlindungan sosial yang lebih baik.

Kendati demikian, fleksibilitas pasar kerja juga memperlihatkan pola yang unik. Di satu sisi, persentase setengah penganggur berhasil ditekan, menunjukkan penurunan sebesar 0,61 persen poin. Namun di sisi lain, persentase pekerja paruh waktu justru merangkak naik sebesar 0,77 persen poin dibanding setahun yang lalu. Fenomena ini mengisyaratkan adanya pergeseran preferensi atau strategi adaptasi di dunia kerja, di mana sistem kerja paruh waktu kian diminati atau menjadi alternatif realistis bagi sebagian masyarakat dalam menangkap peluang ekonomi.

Paradoks dalam Dunia Pendidikan

Namun, di balik lembaran capaian positif tersebut, sebuah paradoks besar masih membayangi dunia pendidikan kita. Data menunjukkan sebuah ironi yang cukup menyentak: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi justru disumbang oleh jenjang pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yakni mencapai 6,49 persen. Angka ini melahirkan sebuah refleksi mendalam. SMK yang sejatinya didesain secara khusus untuk mencetak lulusan siap kerja dengan keahlian praktis, justru menjadi penyumbang pengangguran terbesar di pasar tenaga kerja.

Kenyataan ini menjadi alarm keras bagi para pemangku kebijakan pendidikan dan pelaku industri. Ada jarak atau mismatch yang kentara antara kompetensi yang diajarkan di bangku sekolah vokasi dengan kebutuhan riil dunia usaha saat ini.

Kesimpulan dan Tantangan Masa Depan

Secara keseluruhan, potret ketenagakerjaan hingga data Februari 2026 menampilkan lanskap yang menjanjikan sekaligus menantang. Penurunan pengangguran, penguatan sektor formal, dan kokohnya sektor pertanian adalah modal berharga. Namun, pekerjaan rumah terbesar kini beralih pada bagaimana merevitalisasi pendidikan vokasi (SMK) agar selaras dengan kebutuhan pasar, serta memastikan pertumbuhan pekerja paruh waktu tetap diimbangi dengan perlindungan kesejahteraan yang layak. Menjaga keseimbangan inilah yang akan menentukan kualitas pembangunan ekonomi kita di masa-masa mendatang.


Pos terkait