MBG Ditolak Siswa SMPN2 Sokaraja, Kepsek: “Belum Datang Jam 10”

Penolakan Program Makanan Bergizi Gratis di Sekolah Akibat Keterlambatan Distribusi

Sebuah insiden yang menarik perhatian terjadi di SMP Negeri 2 Sokaraja, Kabupaten Banyumas, ketika sebuah mobil pengangkut program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ditolak kedatangannya oleh para orang tua siswa. Kejadian ini, yang kemudian viral di media sosial, dipicu oleh keterlambatan distribusi makanan yang datang saat para siswa seharusnya sudah pulang sekolah.

Kronologi Kejadian yang Menggugah Perhatian

Menurut Kepala SMPN 2 Sokaraja, Bapak Agus Tri, peristiwa ini terjadi pada hari Jumat, tanggal 6 Maret 2026. Jadwal pembelajaran yang disesuaikan dengan bulan Ramadan membuat para siswa pulang lebih awal dari biasanya. Siswa kelas 7 dan 8 menyelesaikan kegiatan belajar mengajar pada pukul 10.15 WIB, sementara siswa kelas 9 pulang pada pukul 11.00 WIB.

Namun, hingga pukul 10.00 WIB, distribusi MBG belum juga tiba di sekolah. Pihak MBG kemudian menyampaikan adanya kendala teknis di dapur yang menyebabkan keterlambatan ini.

Situasi menjadi lebih rumit karena para orang tua murid telah datang menjemput anak-anak mereka sejak pagi. Mengingat jadwal kepulangan siswa yang lebih awal, banyak orang tua yang sudah berada di sekolah menunggu sejak sekitar pukul 09.00 WIB. Pihak sekolah sempat berupaya meminta siswa dan orang tua untuk menunggu agar makanan MBG tetap dapat diterima.

Namun, penantian yang panjang ini membuahkan kekecewaan. Hingga pukul 11.10 WIB, mobil pengangkut makanan belum juga tiba di area sekolah. Ketika kendaraan tersebut akhirnya muncul di depan sekolah, masih berada di tepi jalan, para orang tua yang sudah lama menunggu akhirnya menghadang mobil MBG. Karena rasa kesal akibat lamanya menunggu, orang tua siswa meminta mobil pengangkut makanan untuk kembali.

Bapak Agus Tri dengan tegas menyatakan bahwa penolakan tersebut murni dilakukan oleh para orang tua murid, bukan oleh pihak sekolah. Mobil MBG yang pertama datang bahkan terpaksa diminta kembali karena tidak dapat masuk ke area sekolah.

“Mobil tidak bisa masuk akhirnya mobil MBG pertama kembali. Mobil kedua bisa masuk karena orangtua sudah pulang,” jelas Bapak Agus.

Meskipun demikian, pihak sekolah tidak tinggal diam. Ketika distribusi makanan akhirnya tiba di dalam sekolah, sebagian besar siswa sudah terlanjur pulang ke rumah. Sekolah kemudian berinisiatif mencari solusi agar makanan MBG tetap dapat tersalurkan kepada para siswa penerima. Sebagian makanan dibagikan kepada siswa yang masih berada di sekolah, sementara sisanya dititipkan kepada teman-teman mereka untuk dibawa pulang.

Menu MBG yang dibagikan pada hari itu meliputi ayam, tempe ungkep, bakpau, roti manis isi, pisang, apel, perkedel tahu, dan pangsit. Di SMPN 2 Sokaraja sendiri, terdapat sebanyak 923 siswa yang terdaftar sebagai penerima program MBG.

Masalah Keterlambatan yang Berulang

Bapak Agus juga mengungkapkan bahwa keterlambatan distribusi MBG bukanlah kali pertama terjadi. Pada hari-hari sebelumnya, keterlambatan juga beberapa kali terjadi. Namun, pada hari biasa, keterlambatan tersebut masih dapat ditoleransi karena siswa belum pulang sekolah, sehingga pihak sekolah masih bisa menahan mereka untuk menunggu.

“Kalau hari biasa masih bisa kita atasi dan kita tahan anak-anak supaya jangan pulang dulu,” ujar Bapak Agus.

Ia menambahkan bahwa pihak MBG sendiri telah mengakui adanya keterlambatan dalam proses distribusi ini.

Evaluasi dan Perbaikan ke Depan

Menyikapi insiden ini, persoalan keterlambatan distribusi MBG telah dibahas dalam rapat evaluasi bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompincam) Sokaraja. Tujuannya adalah untuk mencari solusi dan melakukan perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Sebelumnya, video yang memperlihatkan siswa mengerumuni mobil pengangkut MBG di SMPN 2 Sokaraja sempat menjadi viral di media sosial. Video berdurasi sekitar 25 detik itu diunggah oleh akun Instagram @purwokerto24jam yang berkolaborasi dengan @republikwangon pada Sabtu, 7 Maret 2026. Dalam video tersebut, terlihat sejumlah siswa menolak kedatangan mobil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang membawa makanan MBG, dengan alasan distribusi yang dinilai terlambat. Keterangan dalam unggahan video tersebut juga menyebutkan bahwa penolakan terjadi karena distribusi MBG kerap datang terlambat ke sekolah tersebut.

Video yang beredar menggambarkan kekecewaan orang tua murid yang telah menunggu lama. Pada tanggal 6 Maret 2026, wali murid meluapkan kekesalan mereka akibat keterlambatan distribusi makanan yang menjadi hak siswa.

Kejadian ini menjadi sorotan penting mengenai pentingnya ketepatan waktu dalam penyaluran program-program bantuan, terutama yang berkaitan dengan pemenuhan gizi bagi para pelajar. Koordinasi yang lebih baik antara pihak penyedia layanan, sekolah, dan orang tua diharapkan dapat mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.

Pos terkait