Harmoni Lintas Iman: Petilasan Tokoh Muslim di Tengah Kelenteng Palmerah
Di jantung kawasan Palmerah, Tanah Abang, Jakarta Pusat, berdiri sebuah kelenteng yang menyimpan kisah unik tentang kerukunan dan penghormatan lintas agama. Kelenteng Hian Thian Siang Tee Bio, yang diperkirakan telah berusia lebih dari dua abad, tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Konghucu, tetapi juga menyimpan dua petilasan tokoh Muslim. Keberadaan petilasan ini menjadi saksi bisu peran besar umat Islam dalam menjaga kelestarian bangunan bersejarah ini.
Dua petilasan tersebut ditempatkan di sebuah ruangan kecil di bagian paling depan kelenteng. Mirip dengan makam pada umumnya, petilasan ini dihiasi dengan lilin dan lampu, memberikan kesan khidmat. Di salah satu petilasan terukir nama “Eyang Yugo Thay Losu Imam Sujono Dji Losu,” sementara yang lainnya bertuliskan “EMR (embah raden) Surya Kencana.” Keunikan lainnya adalah keberadaan keris, senjata khas Jawa, yang melengkapi kedua petilasan tersebut.
Pihak Kelenteng Hian Thian Siang Tee Bio menyiapkan kedua petilasan ini sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih kepada kedua tokoh Muslim tersebut. Dipercaya, kedua tokoh ini memiliki peran krusial dalam menjaga keberlangsungan kelenteng yang telah berdiri kokoh selama ratusan tahun. Sebagai simbol penghargaan, kelenteng ini mendirikan petilasan yang menyerupai makam, lengkap dengan nama kedua tokoh, kembang tujuh rupa, dan kue bulan bertingkat. Penting untuk dicatat bahwa tidak ada jasad kedua tokoh yang disemayamkan di sini; petilasan ini murni sebagai lambang penghormatan dan pengingat akan kebaikan serta jasa mereka.
Simbol Toleransi dan Penghargaan
Kisah Kelenteng Hian Thian Siang Tee Bio ini bukan sekadar fenomena tunggal. Di berbagai kelenteng lain di Jakarta yang berlokasi di tengah permukiman Muslim, praktik serupa seringkali ditemukan. Keberadaan petilasan tokoh Muslim di kelenteng-kelenteng ini mencerminkan rasa toleransi dan terima kasih umat Konghucu terhadap para tokoh Muslim yang dianggap berjasa dalam melindungi bangunan kelenteng dari berbagai gangguan.
Para peziarah Muslim pun kerap mengunjungi petilasan ini, terutama menjelang bulan puasa atau peringatan Maulid Nabi. Bahkan, tidak jarang rombongan pengajian dari berbagai daerah, seperti Cianjur, juga menyempatkan diri untuk berziarah. Hal ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap jasa para leluhur melampaui batas-batas keyakinan.
Sejarah dan Arsitektur Kelenteng Hian Thian Siang Tee Bio
Usia pasti Kelenteng Hian Thian Siang Tee Bio memang tidak tercatat secara pasti. Namun, pemugaran pertamanya diketahui berlangsung pada tahun 1894, yang mengindikasikan bahwa usia kelenteng ini jauh lebih tua dari tanggal pemugarannya. Lokasinya yang strategis, berada di belakang Pasar Palmerah dan dikelilingi oleh permukiman Muslim, semakin memperkuat narasi tentang integrasi sosial dan keagamaan yang telah terjalin erat sejak lama.
Kelenteng ini memiliki luas sekitar 800 meter persegi dan terbagi menjadi beberapa ruang berdoa. Ruang doa utama yang terbesar terletak di bagian tengah, menampilkan patung-patung dewa seperti Kwan Kong, Hian Thian Siang Tee, dan Kwan Im Po Sat.
- Hian Thian Siang Tee: Dalam mitologi Tiongkok, dewa ini dipercaya memiliki kekuatan pengobatan dan mampu menangkal ilmu hitam.
- Kwan Kong: Dikenal sebagai dewa kesatria, tugasnya adalah melindungi masyarakat dari peperangan dan kesengsaraan.
- Kwan Im Po Sat: Merupakan Dewi yang melambangkan kebajikan, kemurahan hati, dan kasih sayang kepada para umatnya.
Secara keseluruhan, terdapat 17 tempat berdoa di dalam kelenteng ini. Rangkaian tempat berdoa dimulai dari ruang tengah, kemudian berlanjut ke ruangan belakang yang memiliki dua patung dewa. Ruangan pertama didedikasikan untuk dewa Kwan Kong, Hian Thian Siang Tee, dan Kwan Im Po Sat.
Selanjutnya, terdapat sederetan tempat berdoa berukuran kecil untuk dewa-dewa seperti Tjing It Thian Jun, Hok Tej Tjeng Sin, Pan Ko Tee Ong, To Trung Dia Ojin Kong, Seng Ong Kong, hingga Seng Bo Nio Nio. Di sudut kanan pintu masuk, terdapat tempat doa untuk Ong Kwi Hou. Bergeser sedikit dari patung Ong Kwi Hou, terdapat mangkuk emas berukuran besar yang menjadi tempat berdoa bagi Giok Hong Siang Tee dan Sam Khan Tay Tee. Di sisi kiri kelenteng, terdapat pula tempat doa sekaligus petilasan Surya Kencana dan Imam Sujono Djilosu, menegaskan kembali harmoni yang terjalin di dalam kompleks ibadah ini.
Keberadaan petilasan tokoh Muslim di Kelenteng Hian Thian Siang Tee Bio bukan hanya sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah pelajaran hidup tentang bagaimana perbedaan keyakinan dapat diatasi melalui rasa saling menghormati, penghargaan, dan penghargaan terhadap jasa. Ini adalah bukti nyata bahwa kerukunan antarumat beragama dapat tumbuh subur, bahkan di tempat-tempat yang paling tidak terduga sekalipun.





