Merapi Hari Ini: 13 Guguran Lava Teramati

Aktivitas Gunung Merapi Tetap Siaga, Guguran Lava dan Awan Panas Menjadi Ancaman Utama

Yogyakarta – Gunung Merapi, salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah, terus menunjukkan aktivitas yang signifikan. Berdasarkan pemantauan terkini yang dilakukan oleh Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pada Minggu, 8 Maret 2026, pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, status aktivitas gunung ini masih ditetapkan pada Level III atau Siaga.

Selama periode pengamatan tersebut, tim BPPTKG mencatat adanya dinamika yang cukup intens di dalam tubuh gunung. Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah aktivitas guguran lava. Tercatat sebanyak 13 kali guguran lava dilaporkan mengarah ke Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1800 meter. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergerakan material dari puncak gunung yang berpotensi menimbulkan bahaya jika mencapai area pemukiman atau jalur evakuasi.

Selain guguran lava, aktivitas kegempaan juga menjadi indikator penting dari dinamika Merapi. BPPTKG mencatat adanya 32 kali gempa Guguran. Gempa-gempa ini memiliki amplitudo yang bervariasi antara 2 hingga 16 milimeter, dengan durasi yang cukup panjang, berkisar antara 52,43 hingga 180,91 detik. Durasi gempa yang panjang ini bisa mengindikasikan pergerakan material yang lebih besar di dalam tubuh gunung.

Tidak hanya itu, tercatat pula 18 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak. Gempa jenis ini seringkali menjadi pertanda adanya pergerakan magma atau fluida di dalam gunung. Amplitudo gempa Hybrid ini dilaporkan antara 2 hingga 31 milimeter, dengan fase S-P yang tidak teramati dan durasi antara 18,7 hingga 42,08 detik. Adanya gempa Hybrid ini perlu diwaspadai karena bisa menjadi prekursor dari aktivitas yang lebih besar.

Sebagai tambahan, BPPTKG juga mendeteksi 3 kali gempa Tektonik Jauh. Gempa jenis ini berasal dari aktivitas tektonik di luar area Merapi, namun tetap dipantau untuk melihat potensi dampaknya terhadap stabilitas gunung. Amplitudo gempa Tektonik Jauh ini berkisar antara 4 hingga 11 milimeter, dengan durasi antara 105,32 hingga 139,36 detik.

Kondisi Visual dan Klimatologi Gunung Merapi

Dari sisi pengamatan visual, Gunung Merapi pada periode ini dilaporkan tertutup kabut dengan tingkat ketebalan bervariasi antara 0 hingga III. Kondisi ini sedikit menghambat pengamatan langsung terhadap kawah. Namun, dilaporkan bahwa asap kawah nihil, yang berarti tidak ada pelepasan gas atau uap yang signifikan dari kawah utama pada saat itu.

Sementara itu, dari sisi klimatologi, cuaca di kawasan puncak Merapi dilaporkan berawan. Angin bertiup tenang dengan arah ke timur. Suhu udara di sekitar puncak berkisar antara 18 hingga 19,6 derajat Celsius, dengan tingkat kelembaban udara yang cukup tinggi, yaitu antara 71 hingga 91,5 persen. Tekanan udara tercatat antara 872 hingga 914,3 milimeter merkuri (mmHg). Data klimatologi ini penting untuk memahami kondisi atmosfer yang dapat memengaruhi persebaran material vulkanik jika terjadi erupsi.

Rekomendasi dan Potensi Bahaya

Berdasarkan data pemantauan yang terus menerus dikumpulkan, BPPTKG Yogyakarta mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting terkait potensi bahaya yang mengancam saat ini. Ancaman utama yang perlu diwaspadai adalah guguran lava dan awan panas.

  • Sektor Selatan-Barat Daya: Potensi bahaya guguran lava dan awan panas meliputi Sungai Boyong dengan jarak luncur maksimum 5 kilometer. Selain itu, Sungai Bedog, Kali Krasak, dan Sungai Bebeng juga berpotensi terdampak hingga jarak maksimum 7 kilometer.
  • Sektor Tenggara: Di sektor ini, potensi bahaya awan panas guguran mengarah ke Sungai Woro dengan jarak maksimum 3 kilometer, dan Sungai Gendol dengan jarak maksimum 5 kilometer.
  • Lontaran Material Vulkanik: Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 kilometer dari puncak gunung.

Data pemantauan secara konsisten menunjukkan bahwa suplai magma masih terus berlangsung di dalam tubuh Gunung Merapi. Kondisi ini dapat memicu terjadinya awan panas guguran, terutama di dalam area potensi bahaya yang telah ditetapkan.

Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Merapi dan para pengunjung diimbau untuk mematuhi segala instruksi dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh BPPTKG.

Imbauan Penting untuk Masyarakat

Masyarakat di sekitar Gunung Merapi dan para pendaki diingatkan untuk:

  • Tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya yang telah ditetapkan. Ini mencakup area penambangan, pertanian, maupun kegiatan rekreasi.
  • Mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi. Hujan dapat memicu lahar dingin yang membawa material vulkanik dari puncak hingga ke hilir sungai.
  • Selalu memantau informasi terkini mengenai status aktivitas Gunung Merapi dari sumber resmi seperti BPPTKG.

BPPTKG Yogyakarta menegaskan bahwa tingkat aktivitas Gunung Merapi akan terus ditinjau kembali secara berkala. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, status dan rekomendasi akan segera disesuaikan untuk memastikan keselamatan masyarakat. Kesiapsiagaan dan kewaspadaan adalah kunci utama dalam menghadapi potensi ancaman dari gunung berapi aktif seperti Merapi.

Pos terkait