Minyak Meroket, Pasar Pantau Duel Iran-AS

Kenaikan Harga Minyak Dipicu Latihan Militer Iran dan Antisipasi Pembicaraan AS

Harga minyak mentah menunjukkan tren kenaikan pada perdagangan Selasa pagi, 17 Februari 2026. Pada pukul 07.44 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2026 di New York Mercantile Exchange tercatat di angka US$ 63,72 per barel. Angka ini mengalami kenaikan sebesar 1,32% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level US$ 62,89 per barel.

Kenaikan harga minyak ini secara signifikan dipengaruhi oleh aktivitas latihan angkatan laut yang dilakukan oleh Iran di dekat salah satu titik transit energi paling vital di dunia. Latihan tersebut berlangsung menjelang dimulainya kembali pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat pada Selasa sore.

Menurut laporan kantor berita Tasnim, Garda Revolusi Iran menggelar latihan angkatan laut di wilayah strategis Selat Hormuz. Jalur laut ini memiliki peran krusial dalam perdagangan global, karena dilalui oleh sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia. Keberadaan latihan militer di area sensitif ini secara inheren menimbulkan kekhawatiran tentang potensi gangguan terhadap pasokan energi, yang berdampak langsung pada pergerakan harga minyak di pasar internasional.

Volume Perdagangan yang Lesu dan Dampak Libur Nasional

Kondisi pasar minyak pada hari Senin sebelumnya dilaporkan mengalami pelemahan volume perdagangan. Hal ini disebabkan oleh penutupan pasar di Kanada dan Amerika Serikat dalam rangka memperingati hari libur nasional. Selain itu, pasar di Asia juga banyak yang diliburkan untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Kondisi ini membuat pergerakan harga minyak pada hari sebelumnya tidak mencerminkan gambaran pasar yang sepenuhnya aktif.

Harapan Baru dari Pembicaraan Diplomatik Iran-AS

Di tengah ketegangan geopolitik, muncul secercah harapan dari upaya diplomatik. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dilaporkan telah mengadakan pembicaraan dengan kepala PBB. Dalam pertemuan tersebut, dibahas mengenai proposal yang akan diajukan dalam negosiasi tidak langsung dengan utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff.

Menanggapi perkembangan ini, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengungkapkan optimismenya. Ia menyatakan harapannya agar Teheran dan Washington dapat mengatasi konfrontasi dan permusuhan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan pada akhirnya mencapai sebuah kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak serta stabilitas regional.

Analisis Pasar: Ketidakpastian Geopolitik Sebagai Faktor Utama

Para analis pasar menilai bahwa ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi stabilitas pasar minyak. Brian Martin dan Daniel Hynes, analis dari AZ Group Holdings Ltd, dalam catatan mereka menyatakan, “Pasar masih belum stabil akibat ketidakpastian geopolitik.”

Mereka lebih lanjut menguraikan bahwa jika ketegangan di Timur Tengah mereda, atau jika ada kemajuan yang signifikan dalam penyelesaian konflik di Ukraina, maka premi risiko yang saat ini melekat pada harga minyak dapat menghilang dengan cepat. Hal ini menekankan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan politik dan militer di berbagai kawasan penting dunia.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak:

  • Latihan Militer Iran di Selat Hormuz: Menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global.
  • Pembicaraan Diplomatik Iran-AS: Potensi penyelesaian konflik dapat meredakan ketegangan dan memengaruhi harga.
  • Situasi Konflik Ukraina: Perkembangan dalam penyelesaian konflik ini juga memiliki dampak signifikan terhadap sentimen pasar energi.
  • Volume Perdagangan: Hari libur nasional dan perayaan keagamaan dapat memengaruhi likuiditas pasar dan volatilitas harga.
  • Ketidakpastian Geopolitik: Isu-isu politik dan militer di berbagai belahan dunia menjadi pendorong utama volatilitas harga minyak.

Dengan demikian, pergerakan harga minyak di masa mendatang akan terus dipantau secara cermat, mengingat kompleksitas faktor-faktor global yang memengaruhinya.

Pos terkait