Misa Prapaskah III: 8 Maret 2026, Tahun A

Berikut adalah teks misa sore hari Minggu, 8 Maret 2026, untuk Pekan Biasa III Prapaskah Tahun A, lengkap dengan renungan harian Katolik.

Persiapan Misa

Sebelum perayaan dimulai, para petugas liturgi berkumpul di sakristi. Di meja perayaan, lilin bernyala disiapkan untuk mengapit salib, dan Alkitab disiapkan untuk pembacaan. Buku nyanyian juga dapat disiapkan bagi yang membutuhkan. Demi kekhusukan suasana, disarankan untuk mematikan alat komunikasi.

Perayaan dimulai dengan Pemimpin (P) mengucapkan, “Penolong kita ialah Tuhan,” yang dijawab oleh umat (U) dengan, “Yang menjadikan langit dan bumi.” Kemudian, lagu pembuka dinyanyikan.

Tanda Salib dan Salam

P : Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U : Amin.
P : Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.

Kata Pembuka

Hari ini kita merayakan Minggu Ketiga dalam Masa Prapaskah. Bacaan-bacaan yang akan kita dengarkan menggambarkan kesetiaan Allah dalam mendampingi, membimbing, dan menyelamatkan umat-Nya. Dalam bacaan pertama, kita akan mendengar bagaimana Tuhan menyediakan air bagi umat Israel yang kehausan di padang gurun, mengatasi keluhan mereka.

Bacaan kedua, yang disampaikan oleh Rasul Paulus, mengisahkan rencana keselamatan Allah bagi kita. Ketika kita belum mampu menyelamatkan diri sendiri, Yesus wafat dan bangkit untuk menebus kita. Betapa besar anugerah penyelamatan ini patut kita syukuri. Yang terpenting kini adalah menyatukan diri dengan Tuhan agar senantiasa dalam keselamatan-Nya.

Dalam bacaan Injil, kita akan mendengarkan kisah pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria. Melalui pertemuan ini, Yesus membuka jalan bagi pewartaan keselamatan ke kota Samaria. Semoga kita selalu terbuka terhadap Yesus Kristus yang senantiasa menemani perjalanan hidup kita.

(Hening sejenak)

Tobat dan Permohonan Ampun

P : Marilah kita menyesali dan mengakui dosa-dosa kita, agar kita siap mendengarkan Sabda Allah, Terang dan Pedoman hidup kita.
U : Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa. Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
P : Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U : Amin.

Doa Pembuka

P : Marilah kita berdoa,

(Hening sejenak)

Tuhan yang mahakuasa dan kekal, kami bersyukur atas kemurahan hati-Mu untuk mendampingi dan membimbing hidup kami. Semoga hati kami selalu terbuka untuk mendengarkan Sabda-Mu, agar seluruh hidup kami diarahkan oleh Sabda itu menuju ke kehidupan yang berbahagia. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.
U : Amin.

Ajakan Mendengarkan Sabda Tuhan

P : Marilah kita membuka hati kita untuk mendengarkan Sabda Tuhan dan menerimanya agar Sabda Tuhan menjadi pelita iman kita dan tongkat penuntun jalan hidup kita.

(Bacaan dibacakan dari Alkitab)

Bacaan Pertama (Keluaran 17:3-7)

L : Bacaan dari Kitab Keluaran.
Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungutsungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!” Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”

Demikianlah Sabda Tuhan.
U : Syukur kepada Allah.

Mazmur Tanggapan (Mzm. 95:1-2,6-7,8-9)

Refren (Mzm. 95:8)
Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati.

Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita. Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. (Refren)

Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya.

Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! (Refren)

Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku. (Refren)

Bacaan Kedua (Roma 5:1-2,5-8)

L : Bacaan dari Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat di Roma
Saudara-saudari, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Demikianlah Sabda Tuhan.
U : Syukur kepada Allah.

Bait Pengantar Injil (Yoh. 4:42,15)

P : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
U : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
P : Tuhan, Engkaulah Juruselamat dunia, * Berilah aku air kehidupan, supaya aku tidak haus lagi.
U : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal

Injil (Yohanes 4:5-42)

P : Marilah kita bersama-sama mendengarkan Injil.

Pada waktu itu sampailah Yesus Kristus ke sebuah kota di Samaria yang bernama Sikhar, dekat tanah yang dahulu diberikan Yakub kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat Sumur Yakub.

Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air.

Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”

Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.

Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)

Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”

Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.”

Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.”

Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.”

Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang nabi. Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”

Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.”

Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.”

Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorang pun berkata: “Apa yang Engkau kehendaki?” atau “Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?”

Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang di sana: “Marilah, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”

Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus.

Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: “Rabi, makanlah.”

Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”

Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?”

Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”

Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya.

Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya. Mereka berkata kepada perempuan itu: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”

Renungan Harian Katolik

Bacaan Injil hari ini menyajikan sebuah kisah yang kaya makna tentang perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria, yang kemudian membawa-Nya bertemu dengan penduduk kota itu. Mari kita selami dua pokok penting dari kisah ini untuk pertumbuhan iman kita.

1. Perjumpaan Pribadi Yesus dengan Perempuan Samaria

Dalam narasi Injil, Yesus duduk sendirian di pinggir sumur karena para murid-Nya pergi ke kota untuk membeli makanan. Kedatangan perempuan Samaria untuk menimba air menjadi momen awal percakapan. Permintaan Yesus untuk minum, meskipun Ia haus, juga merupakan cara untuk membuka dialog. Percakapan yang mendalam ini akhirnya membawa perempuan itu pada kesadaran dan pertobatan.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa Yesus selalu hadir dalam kehidupan kita, bahkan di tengah perjuangan kita. Dengan membuka mata hati, kita dapat menyadari kehadiran-Nya. Tuhan senantiasa mengundang kita untuk berkomunikasi dengan-Nya. Seperti perempuan Samaria, kita diundang untuk meluangkan waktu bersama Tuhan, menemukan kedamaian dan pertolongan. Di masa Prapaskah ini, mari kita berikan waktu lebih untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Kedekatan ini akan membuahkan pertobatan dalam hati kita.

2. Perjumpaan Yesus dengan Orang-orang Samaria

Setelah menyadari bahwa Yesus adalah Mesias, perempuan Samaria itu dengan antusias membagikan pengalamannya kepada sesama penduduk Samaria. Hal ini memungkinkan Yesus untuk memasuki kota dan tinggal bersama mereka selama dua hari. Ini adalah peristiwa yang luar biasa, mengingat adanya jurang pemisah antara orang Yahudi dan Samaria, di mana orang Yahudi seringkali memandang rendah orang Samaria. Namun, melalui perjumpaan perempuan Samaria dengan Yesus, sekat-sekat perbedaan itu runtuh, dan mereka dipersatukan dalam Tuhan.

Kisah ini menginspirasi kita untuk meningkatkan kualitas hubungan antar sesama, saling mendukung demi kehidupan yang lebih baik. Iman yang hidup akan terpancar dalam sikap yang mengutamakan persatuan, bukan perpecahan. Setiap pengikut Yesus diharapkan untuk memperjuangkan perdamaian dan rekonsiliasi, sebagaimana Yesus sendiri telah berjuang untuk mempersatukan kita semua.

Mari kita memanfaatkan masa Prapaskah ini untuk menyingkirkan perselisihan dan perpecahan di antara kita. Jika ada konflik, marilah kita berupaya mencari jalan rekonsiliasi dan perdamaian. Tuhan kita menghendaki kedamaian dan kesatuan, bukan perselisihan.

Hening Sejenak

Syahadat

P : Marilah kita menanggapi Sabda Tuhan dan mengungkapkan iman kepercayaan kita kepada Tuhan dengan mengucapkan Syahadat. Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa…..

Doa Umat

P : Saudara-saudari terkasih, dalam roh dan kebenaran, marilah kita berdoa kepada Allah Bapa, sumber segala kehidupan.

P : Bagi Gereja yang kudus. Kita berdoa semoga Bapa Suci, para Uskup, para imam, dan semua pejabat Gereja dikuatkan dalam melaksanakan tugas-tugas mereka yang agung dengan penuh tanggung jawab. Semoga mereka dengan segenap hati mencintai umatnya dan membimbing Gereja pada jalan yang menuju Allah. Marilah kita mohon….

P : Bagi masyarakat kita. Semoga Tuhan berkenan mencurahkan Roh-Nya kepada masyarakat kita, agar di tengah kegiatan hidup sehari-hari kita senantiasa mengalami kehadiran dan penyertaan-Nya. Marilah kita mohon….

P : Bagi mereka yang meninggalkan Gereja. Semoga Allah berkenan membuka mata hati mereka yang meninggalkan Gereja-Nya yang kudus, katolik, dan apostolik. Semoga berkat teladan hidup umat beriman, mereka tertarik untuk kembali ke pangkuan Gereja dan hidup seturut teladan dan ajaran Yesus, Putra-Nya. Marilah kita mohon….

P : Bagi kita semua. Semoga kisah percakapan Yesus dengan Wanita Samaria yang kita dengarkan hari ini, menjadi bahan renungan bagi kita dalam hidup sehari-hari. Kita berdoa juga agar kita semakin mengabdikan diri kepada Allah, dalam Roh dan Kebenaran, sehingga dapat sungguh-sungguh mengalami Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita. Marilah kita mohon….

P : Kita hening sejenak untuk menyerahkan doa dan permohonan pribadi kita masing-masing.

(Hening sejenak lalu lanjut)

P : Allah Bapa yang maharahim, sengsara dan wafat Putra-Mu Yesus Kristus, merupakan bukti cinta kasih-Mu kepada kami. Perkenankanlah kami hidup sesuai dengan semangat-Nya. Mampukanlah kami untuk berani memberi kesaksian tentang cinta kasih-Mu, dalam hidup dan karya kami, dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U : Amin.

Kolekte

(Selanjutnya dilaksanakan pengumpulan kolekte sebagai wujud cinta kepada Sang Sabda dan sesama yang berkekurangan, diiringi lagu yang sesuai. Kolekte dikumpulkan lalu diletakkan di depan mimbar, diiringi lagu persembahan yang bernada syukur atau ajakan berbagi.)

Doa Pujian

(Setelah kolekte, Pemimpin membawakan Doa Pujian sambil berdiri menghadap altar. Umat berdiri dan setiap kali mendaraskan aklamasi bersama.)

P : Saudara-saudari terkasih, Allah Bapa yang mahakuasa, telah memberi anugerah kehidupan kepada kita yang tak ternilai, agar kita rela menyalurkan kembali rahmat yang kita terima dari Allah. Maka marilah kita berseru:
U : Sungguh agung karya-Mu, Tuhan.

P : Bapa yang maharahim, perhatian-Mu kepada orang-orang yang meninggal sungguh besar. Karya-Mu sungguh-sungguh mengagumkan: orang mati Engkau hidupkan. Maka kami berseru:
U : Sungguh agung karya-Mu, Tuhan.

P : Ya Bapa, Engkau mengutus Putra-Mu, Yesus Kristus, datang ke tengah-tengah kami, menghibur keluarga-keluarga yang sedang berduka karena kematian salah satu anggotanya. Maka kami berseru:
U : Sungguh agung karya-Mu, Tuhan.

P : Engkau telah mengutus Yesus, Putra-Mu sebagai Gembala yang Baik, yang selalu mencari domba yang tersesat dan mengajak berpesta serta bersukacita ketika menemukannya. Maka kami berseru:
U : Sungguh agung karya-Mu, Tuhan.

P : Atas segala kerahiman dan kebaikan-Mu, ya Bapa, kami sangat berterima kasih, dan dengan hati gembira kami akan tetap mengikuti-Mu. Maka kami berseru:
U : Sungguh agung karya-Mu, Tuhan.

P : Maka ya Bapa, dengan gembira hati, bersama seluruh umat beriman, dalam kesatuan dengan Bapa Suci Paus Leo XIV, Bapa Uskup kami [nama Uskup setempat] dan Pastor Paroki kami [nama pastor paroki setempat], kami melambungkan madah pujian bagi-Mu dengan berseru:

(Menyanyikan satu lagu bertemakan Prapaskah)


RITUS KOMUNI

Dalam Ibadah Sabda ini, terdapat dua pilihan: (1) menyambut komuni, atau (2) tidak menyambut komuni, namun umat diajak menghayati komuni batin atau kerinduan akan Kristus.

Cara A: DENGAN KOMUNI

Sesudah Doa Pujian, Pemimpin mempersiapkan komuni di altar. Sakramen Mahakudus diletakkan di atas kain korporale. Setelah persiapan selesai, para pemandu, pelayan, dan umat berlutut menyembah dalam keheningan sesaat. Kemudian, Pemimpin mengajak umat menyanyikan lagu Bapa Kami sambil berdiri.

P : Saudara-saudari, meskipun kita tidak merayakan Ekaristi, pada perayaan ini kita memperoleh kesempatan menyambut Komuni Kudus, maka dalam persatuan dengan saudara-saudari separoki yang merayakan Ekaristi, marilah kita menyiapkan hati di hadirat Tuhan. (Hening sejenak)

Bapa Kami

Berdiri
P : Atas petunjuk Penyelamat kita dan menurut ajaran Ilahi, maka beranilah kita berdoa.
U : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

(Setelah doa Bapa Kami, dapat dilanjutkan dengan Salam Damai.)

Salam Damai dan Komuni

Bila ada Salam Damai, Pemimpin mengajak umat, misalnya:
P : Marilah kita saling memberikan salam damai.

(Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat.)

Sesudah Salam Damai, Pemimpin berlutut menghormati Sakramen Mahakudus, lalu menunjukkan hosti kudus kepada umat, sambil berkata:
P : Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

Hosti dan sibori ditunjukkan kepada umat:
Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya.

Pemimpin dan Umat berdoa bersama-sama:
U : Ya Tuhan saya tidak pantas, Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.

Dengan khidmat, Pemimpin menyambut Tubuh Tuhan terlebih dahulu. Sesudah itu, ia melayani umat yang menyambut komuni, seraya setiap kali berkata:
P : Tubuh Kristus.
U : Amin.

Penyambutan komuni diiringi dengan nyanyian komuni.


Cara B: TANPA KOMUNI

P : Pada perayaan ini kita tidak menyambut Komuni kudus. Meskipun demikian, marilah kita menghayati kehadiran Tuhan yang kita rindukan di dalam hati kita masing-masing.

Bapa Kami

Berdiri
P : Saudara-saudari terkasih, kita telah dipersatukan oleh iman yang sama. Maka sebagai Putra-Putri Bapa yang satu dan sama, marilah kita berdoa sebagaimana yang diajarkan oleh Putra-Nya sendiri.
U : Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rezeki pada hari ini dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami; dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

(Dapat dilaksanakan Salam Damai.)
P : Marilah kita saling memberikan salam damai.
(Umat memberikan salam damai kepada saudara-saudari yang berada paling dekat saja.)

Doa Komuni Batin

Berlutut/berdiri
Pemimpin mengajak semua yang hadir untuk melaksanakan Komuni Batin dengan rumusan ajakan, antara lain:
P : Kini, mari kita siapkan hati kita untuk menyambut kedatangan Tuhan di dalam hati kita.

P : Yesus bersabda, “Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh. 15:3-4). (Hening sejenak)

P : Yesusku, aku percaya, Engkau sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Aku mengasihi-Mu lebih dari segalanya, dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam seluruh jiwaku. Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam Sakramen Ekaristi, datanglah sekurang-kurangnya secara rohani ke dalam hatiku, meskipun Engkau selalu telah datang. Aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu, jangan biarkan aku terpisah daripada-Mu. Amin. (Hening sejenak)

P : Dalam keheningan, marilah kita masing-masing menyatukan diri dengan Tuhan yang hadir saat ini di sini bersama kita. Berbicaralah dengan Dia dari hati ke hati dengan mengatakan:
P : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
U : Yesus, datanglah, dan tinggallah dalam hatiku. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.
* Seruan di atas diulangi oleh Pemimpin dan diikuti oleh yang hadir sebanyak tiga kali.
* Lalu diberi saat hening secukupnya.
* Sesudah Komuni Batin, dapat dinyanyikan satu lagu Prapaskah.

Mendoakan Mazmur 34:2-10

P : Marilah kita mendoakan bersama-sama Mazmur 34:2-10. Yang ada Alkitab, kita buka dan kita doakan bersama-sama. Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad. Amin.

Doa Penutup

P : Marilah kita berdoa,
Ya Tuhan, kami berterima kasih atas kesempatan merayakan ibadah ini. Kami bersyukur pula untuk keselamatan yang kami peroleh berkat Yesus Putra-Mu. Semoga kami senantiasa membersihkan hati kami, agar dengan hati murni kami menyambut-Mu untuk berdiam di dalam hati kami.
Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.
U : Amin.

Mohon Berkat Tuhan

P : Sebelum mengakhiri perayaan ini marilah kita menundukkan kepala, memohon berkat Tuhan. (Hening sejenak)
P : Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup yang kekal.
(sambil membuat Tanda Salib pada diri sendiri)
DALAM NAMA BAPA, DAN PUTRA, DAN ROH KUDUS.
U : Amin.
P : Perayaan Sabda kita ini sudah selesai.
U : Syukur kepada Allah.

Pengutusan

P : Marilah pergi, kita diutus.
U : Amin.

Lagu Penutup

Pos terkait