Modal Rp10 M BPR Jwalita, Kunci Pendapatan Tertinggi Trenggalek

Suntikan Modal Rp10 Miliar untuk BPR Jwalita Trenggalek: Harapan Baru Dongkrak Pendapatan Daerah

Pemerintah Kabupaten Trenggalek memberikan perhatian serius terhadap Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) miliknya, BPR Jwalita. Sebagai salah satu BUMD yang menunjukkan kinerja pendapatan paling menjanjikan, BPR Jwalita akan menerima suntikan modal sebesar Rp10 miliar. Langkah ini diambil dengan harapan dapat semakin mendongkrak kinerja dan kontribusi BUMD tersebut terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Wakil Bupati Trenggalek, Syah Muhammad Natanegara, menjelaskan bahwa penyertaan modal ini akan dilaksanakan secara bertahap selama dua tahun. “Dimulai pada tahun depan, 2027, sudah mulai digelontorkan. Secara bertahap selama 2 tahun, tahun depan Rp5 miliar, tahun depan lagi Rp5 miliar. Sehingga total Rp10 miliar,” ungkapnya.

Syah Muhammad Natanegara mengakui bahwa pendapatan BPR Jwalita memang menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan BUMD lainnya di Trenggalek. Berdasarkan catatan yang ia terima, pendapatan BPR Jwalita dalam setahun bisa mencapai angka lebih dari Rp1 miliar, bahkan diperkirakan sekitar Rp1,5 miliar.

Namun, ia tidak menampik bahwa BUMD lain, seperti PT Jwalita Energi, Perumda Air Minum Tirta Wening (PDAM), hingga Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU), masih memerlukan perhatian lebih. “Kalau BUMD yang lain masih perlu treatment khususlah,” akuinya.

Melalui tambahan modal ini, Syah menekankan pentingnya adanya misi tambahan yang diemban oleh BUMD. Tujuannya adalah agar BUMD dapat mencatatkan perkembangan kinerja yang lebih baik dan, yang terpenting, berkontribusi signifikan terhadap penambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Iya, harusnya seperti itu. Jadi percuma kita taruh modal kalau apa secara PAD-nya tidak bertambah,” tegasnya.

Perubahan Nama dan Harapan Besar dari Legislatif

Keputusan penyertaan modal ini juga merupakan hasil dari rapat paripurna yang telah disepakati oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Trenggalek. Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, menjelaskan bahwa selain menyepakati perubahan nama Bank Perkreditan Rakyat (BPR) menjadi Bank Perekonomian Rakyat (BPR), juga terdapat persetujuan untuk penyertaan modal.

“Kita akan menyertakan modal yang disepakati oleh teman-teman pansus dan teman-teman DPRD itu sebesar Rp10 miliar,” jelas Doding Rahmadi.

Legislatif menaruh harapan besar terhadap BPR Jwalita. Dengan perubahan nama dan tambahan modal ini, diharapkan kinerja BPR Jwalita akan semakin meningkat dan memuaskan. “Kita berharap ke depan itu dengan kita ganti brand itu semakin maksimal kinerjanya. Dengan kita kasih tambahan modal itu juga semakin besar cakupannya. Kan begitu,” ujarnya.

Doding Rahmadi menambahkan bahwa saat ini, kontribusi BPR Jwalita terhadap PAD sudah cukup signifikan, yaitu sekitar Rp1 miliar. Dengan adanya tambahan modal, ia optimis bahwa BPR Jwalita akan mampu menghasilkan laba yang lebih besar di tahun-tahun berikutnya. “Mudah-mudahan ke untuk tahun berikutnya karena kita tambahin modal bisa laba banyak bisa lebih. Menjadi salah satu penyumbang dan PAD terbesar ya dari sini. Ya, dari BUMD ya karena memang BPR Jwalita yang besar,” tandasnya.

Strategi Peningkatan Kinerja BUMD

Pemberian suntikan modal kepada BPR Jwalita bukan sekadar memberikan dana segar, melainkan sebuah strategi komprehensif untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional BUMD. Beberapa aspek yang diharapkan dapat mengalami peningkatan meliputi:

  • Perluasan Jangkauan Layanan: Dengan modal yang lebih besar, BPR Jwalita diharapkan dapat memperluas jangkauan layanannya ke area-area yang sebelumnya belum terjangkau. Ini bisa mencakup pembukaan cabang baru, peningkatan layanan digital, atau program-program khusus untuk UMKM di berbagai pelosok Trenggalek.
  • Penguatan Modal Kerja: Tambahan modal akan memperkuat struktur permodalan BPR Jwalita, memungkinkannya untuk menyalurkan lebih banyak kredit atau pembiayaan kepada masyarakat dan pelaku usaha. Hal ini akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi lokal.
  • Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia: Investasi dalam pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia di BPR Jwalita juga menjadi krusial. Dengan tim yang lebih kompeten dan profesional, diharapkan pelayanan akan semakin optimal.
  • Inovasi Produk dan Layanan: Adanya modal tambahan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan produk dan layanan keuangan yang lebih inovatif, sesuai dengan kebutuhan pasar dan perkembangan zaman. Ini bisa mencakup produk simpanan berjangka dengan bunga menarik, kredit multiguna, atau layanan pembiayaan syariah.
  • Penguatan Tata Kelola Perusahaan: Dengan modal yang lebih besar, diharapkan BPR Jwalita juga akan semakin memperkuat tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme akan menjadi kunci utama dalam pengelolaan dana masyarakat dan daerah.

Perubahan nama dari Bank Perkreditan Rakyat menjadi Bank Perekonomian Rakyat juga memiliki makna strategis. Perubahan ini mencerminkan perluasan mandat dan fungsi BPR Jwalita, tidak hanya terbatas pada fungsi perkreditan, tetapi juga mencakup peran yang lebih luas dalam perekonomian daerah. Hal ini sejalan dengan upaya Pemkab Trenggalek untuk menjadikan BPR Jwalita sebagai motor penggerak ekonomi daerah yang lebih kuat.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan legislatif, serta harapan besar yang disematkan, BPR Jwalita diharapkan dapat menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada. Peningkatan kinerja BPR Jwalita tidak hanya akan menguntungkan bagi BUMD itu sendiri, tetapi juga akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat Trenggalek melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah.

Pos terkait