Mojtaba Khamenei: Pemimpin Tertinggi Iran Baru Setelah Sepuluh Hari Kosong

Mojtaba Khamenei Ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Ketiga

Teheran – Iran kini memiliki pemimpin tertinggi yang baru, mengisi kekosongan sepuluh hari pasca-gugurnya Ayatollah Ali Khamenei. Majelis Pakar secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Republik Islam Iran pada Senin, 9 Maret 2026. Penunjukan ini dilakukan dalam sidang luar biasa di tengah situasi genting yang melibatkan perang dan ancaman keamanan, demi menjaga stabilitas politik dan konstitusi negara.

Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei, adalah seorang ulama bergelar hojatoleslam. Ia memiliki latar belakang militer di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan dikenal sebagai sosok yang jarang tampil di publik. Kehadirannya di puncak kepemimpinan Iran menandai sebuah era baru, terutama mengingat posisinya sebagai putra dari pemimpin sebelumnya.

Perjalanan Karir dan Latar Belakang Mojtaba Khamenei

Lahir di kota Mashhad, Iran, pada 8 September 1969, Mojtaba Khamenei menempuh pendidikan awal di Sardasht dan Mahabad, sebelum menyelesaikan pendidikan menengah atasnya di Teheran. Perjalanannya di bidang keagamaan dimulai ketika ia mempelajari teologi Islam di bawah bimbingan ayahnya sendiri, serta ulama terkemuka Mahmoud Hashemi Shahroudi.

Pada tahun 1987, Mojtaba Khamenei bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan turut serta dalam Perang Iran-Irak. Pengalaman militernya ini memberikannya pemahaman mendalam tentang struktur pertahanan dan keamanan negara.

Tahun 1999 menjadi titik balik penting dalam karier keagamaannya ketika ia melanjutkan studinya di Qom, pusat studi keagamaan Syiah di Iran. Di sana, ia menjadi seorang ulama dan kemudian bergabung dengan Seminari Qom sebagai pengajar teologi. Saat ini, ia memegang gelar hojatoleslam, sebuah tingkatan ulama menengah dalam hierarki Syiah.

Namun, statusnya sebagai hojatoleslam sempat menimbulkan perdebatan. Secara tradisional, posisi Pemimpin Tertinggi Iran biasanya dijabat oleh ulama dengan gelar yang lebih tinggi, yaitu ayatollah. Perbedaan tingkatan ini memicu diskusi mengenai kelayakan dan kekuatan Mojtaba Khamenei untuk memimpin negara.

Mojtaba Khamenei sendiri dikenal sebagai pribadi yang sangat tertutup. Ia jarang muncul di hadapan publik dan hampir tidak pernah memberikan pidato politik atau khutbah terbuka. Banyak warga Iran mengaku belum pernah mendengar langsung suaranya, meskipun namanya kerap disebut dalam lingkaran kekuasaan.

Nama Mojtaba Khamenei mulai menjadi sorotan publik secara luas ketika terjadi kerusuhan dalam unjuk rasa sengketa pemilihan umum Presiden Iran pada tahun 2019. Ia diduga memiliki peran dalam mengendalikan Basij, sebuah unit paramiliter yang sering digunakan untuk menekan protes, termasuk demonstrasi terkait pemilihan presiden tahun 2009.

Penetapan Pemimpin Tertinggi Baru: Proses dan Pernyataan Resmi

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Iran dilaksanakan melalui musyawarah Majelis Pakar pada Senin, 9 Maret 2026. Majelis Pakar merupakan lembaga keagamaan-politik yang paling krusial dalam sistem Republik Islam Iran. Lembaga ini memiliki mandat tunggal untuk memilih, mengawasi, dan secara teoritis, memberhentikan Pemimpin Tertinggi Iran.

Dalam sebuah pernyataan resmi yang dikeluarkan setelah tengah malam waktu Teheran, Majelis Pakar mengumumkan keputusan bersejarah ini. Pernyataan tersebut menekankan pentingnya menjaga stabilitas negara di tengah kondisi yang penuh tantangan.

Berikut adalah kutipan dari pernyataan resmi Majelis Pakar Iran:

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Salam dan berkah Allah tercurah kepada rakyat Iran yang mulia dan merdeka.

Majelis Ahli Kepemimpinan, sembari menyampaikan belasungkawa atas syahidnya pemimpin besar Yang Mulia Ayatullah Imam Khamenei (semoga Allah menyucikan jiwanya yang murni) dan para syuhada lainnya, khususnya para komandan kehormatan, angkatan bersenjata yang setia, serta para siswa Sekolah Shajareh Tayyebeh di Kabupaten Minab, dengan ini menginformasikan bahwa Majelis tidak ragu sesaat pun dalam proses pemilihan dan pengenalan kepemimpinan sistem Islam.

Meskipun negara tengah menghadapi kondisi perang yang berat dan ancaman langsung terhadap institusi rakyat, termasuk pengeboman kantor Sekretariat Majelis Ahli Kepemimpinan yang menewaskan sejumlah staf serta tim keamanan, Majelis Ahli tetap menjalankan tugas konstitusionalnya.

Sesuai dengan peraturan internal, langkah-langkah dan pengaturan yang diperlukan telah dilakukan untuk mengadakan sidang luar biasa guna memperkenalkan pemimpin baru. Perencanaan dan koordinasi dilakukan secara cermat untuk mengumpulkan para perwakilan Majelis dari seluruh pelosok negeri. Dengan demikian, meskipun Pasal 111 Konstitusi mengatur pembentukan dewan sementara, negara tidak akan mengalami kekosongan kepemimpinan.

Majelis Ahli Kepemimpinan menegaskan penghormatan terhadap posisi tinggi Kepemimpinan Ulama (Wilayat al-Faqih) di era kegaiban Imam Mahdi (semoga Allah menyegerakan kemunculannya), serta pentingnya kepemimpinan dalam sistem Republik Islam. Majelis juga mengenang 47 tahun pemerintahan bijaksana yang berlandaskan martabat, kemerdekaan, dan otoritas para Imam Revolusi.

Setelah melalui tinjauan mendalam dan memanfaatkan kapasitas Pasal 108 Konstitusi, dalam sidang luar biasa hari ini, Ayatullah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei (semoga Allah menjaganya) resmi diangkat sebagai pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam Iran berdasarkan suara bulat para perwakilan Majelis Ahli.

Sebagai penutup, Majelis menyampaikan apresiasi kepada dewan sementara sesuai Pasal 111 Konstitusi, serta mengundang seluruh rakyat Iran, khususnya para elit dan intelektual seminari maupun universitas, untuk menyatakan kesetiaan (ba’at) kepada kepemimpinan baru. Majelis juga menyerukan persatuan di sekitar poros Kepemimpinan, sembari memohon rahmat dan karunia Allah Yang Maha Kuasa bagi bangsa dan rakyat Iran.

Salam, rahmat, dan berkah Allah atas Anda sekalian.

Majelis Ahli Kepemimpinan
17/12/1404 (Kalender Iran)”

Mengenal Majelis Ahli Iran

Majelis Ahli Iran, atau Assembly of Experts (dalam bahasa Persia: Majles-e Khobregan-e Rahbari), adalah lembaga yang memegang peranan vital dalam struktur politik dan keagamaan Republik Islam Iran. Lembaga ini memiliki satu fungsi utama yang sangat krusial: memilih, mengawasi, dan secara teoritis, memberhentikan Pemimpin Tertinggi Iran (Supreme Leader).

Latar Belakang dan Sejarah Pembentukan:

Majelis Ahli lahir pasca-Revolusi Iran tahun 1979, yang menggantikan rezim monarki Shah dengan sebuah negara teokrasi yang dipimpin oleh ulama Syiah. Tokoh sentral revolusi, Ruhollah Khomeini, memperkenalkan konsep Wilayat al-Faqih, atau kepemimpinan ulama. Dalam konsep ini, seorang ulama tertinggi ditunjuk untuk memimpin negara sebagai Pemimpin Tertinggi (Rahbar). Untuk menentukan siapa ulama yang paling layak menduduki posisi prestisius ini, konstitusi Iran membentuk Majelis Ahli.

Komposisi dan Keanggotaan:

Majelis Ahli terdiri dari para ulama Syiah senior yang memiliki keahlian mendalam dalam hukum Islam (fiqh).
* Jumlah Anggota: 88 orang.
* Masa Jabatan: 8 tahun.
* Proses Pemilihan: Anggota dipilih melalui pemilu langsung oleh rakyat Iran.
* Persyaratan Kandidat: Kandidat haruslah seorang ulama yang memiliki kemampuan ijtihad, yaitu kemampuan untuk menafsirkan dan menerapkan hukum Islam.

Tugas Utama Majelis Ahli:

Konstitusi Iran memberikan dua kewenangan utama kepada Majelis Ahli. Kewenangan yang paling menonjol adalah:

  • Memilih Supreme Leader: Apabila posisi Rahbar menjadi kosong, baik karena wafat maupun alasan lainnya, Majelis Ahli akan melakukan serangkaian proses, termasuk mengidentifikasi kandidat ulama yang memenuhi syarat, membahas para kandidat tersebut secara tertutup, dan akhirnya memilih satu orang melalui pemungutan suara mayoritas.

Dengan ditunjuknya Mojtaba Khamenei, Iran memasuki babak baru dalam kepemimpinannya, di mana dinamika internal dan geopolitik kawasan akan terus menjadi sorotan utama.

Pos terkait