Morowali Pimpin Investasi Sulawesi Tengah, Potensi Hilirisasi Mineral Jadi Magnet Utama
Palu – Kabupaten Morowali kembali mengukuhkan posisinya sebagai lokomotif investasi di Provinsi Sulawesi Tengah. Hingga September 2025, nilai investasi yang berhasil dihimpun di daerah ini menembus angka fantastis, yaitu sekitar Rp83,17 triliun. Angka ini tidak hanya menempatkan Morowali di puncak daftar kabupaten/kota dengan kontribusi investasi terbesar, tetapi juga menunjukkan geliat ekonomi yang luar biasa di wilayah tersebut.
Posisi kedua dalam daftar ini ditempati oleh Kabupaten Morowali Utara, yang juga merupakan bagian dari klaster industri pengolahan mineral. Morowali Utara mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp19,13 triliun. Sementara itu, Kabupaten Banggai menyusul di peringkat ketiga dengan nilai investasi mencapai Rp2,19 triliun. Ketiga daerah ini menjadi penopang utama laju investasi di Sulawesi Tengah.
Kawasan Industri Pengolahan Mineral sebagai Kunci
Menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Tengah, Moh Rifani Pakamundi, tingginya realisasi investasi di Morowali dan Morowali Utara tidak lepas dari peran strategis kawasan industri pengolahan dan hilirisasi mineral. Fokus pada industri logam dasar, khususnya pengolahan nikel, telah menarik gelombang investasi besar.
“Morowali dan Morowali Utara menjadi pusat utama investasi karena didukung kawasan industri berskala besar. Industri logam dasar masih menjadi penopang utama investasi di Sulawesi Tengah,” ujar Rifani. Keberadaan infrastruktur yang memadai, sumber daya alam melimpah, serta kebijakan pemerintah yang mendukung hilirisasi menjadi faktor kunci yang menarik para investor.
Proses hilirisasi mineral ini tidak hanya menciptakan nilai tambah bagi sumber daya alam lokal, tetapi juga membuka berbagai peluang ekonomi baru yang berkelanjutan. Dengan mengolah bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau jadi di dalam negeri, Sulawesi Tengah tidak hanya mendapatkan keuntungan ekonomi yang lebih besar, tetapi juga menciptakan ekosistem industri yang lebih kompleks.
Realisasi Investasi Sulawesi Tengah Tembus Rp97,61 Triliun
Secara keseluruhan, realisasi investasi di Provinsi Sulawesi Tengah hingga triwulan III tahun 2025 mencapai Rp97,61 triliun. Angka ini menempatkan Sulawesi Tengah secara konsisten berada dalam lima besar nasional dalam hal capaian investasi. Prestasi ini merupakan bukti nyata potensi ekonomi yang dimiliki Sulawesi Tengah dan daya tarik investasinya yang terus meningkat.
Dari total realisasi tersebut, Penanaman Modal Asing (PMA) masih menunjukkan dominasinya. Nilai PMA tercatat mencapai Rp91,32 triliun, atau sekitar 93,6 persen dari total investasi. Hal ini mengindikasikan bahwa investor internasional melihat peluang besar dan stabilitas yang ditawarkan oleh Provinsi Sulawesi Tengah.
Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) juga memberikan kontribusi yang signifikan, meskipun dalam porsi yang lebih kecil. PMDN tercatat sebesar Rp6,28 triliun, atau sekitar 6,4 persen dari total investasi. Peran serta investor lokal ini tetap penting dalam membangun perekonomian yang kuat dan berkelanjutan.
Dampak Signifikan pada Penyerapan Tenaga Kerja
Masuknya investasi bernilai triliunan rupiah ke Sulawesi Tengah tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi daerah, tetapi juga memiliki efek domino yang signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 22.329 tenaga kerja Indonesia berhasil terserap ke dalam dunia kerja.
Sektor industri logam dasar kembali menjadi penyumbang terbesar dalam penyerapan tenaga kerja ini. Ribuan lapangan kerja tercipta di berbagai lini, mulai dari operasional pabrik, logistik, hingga sektor pendukung lainnya. Hal ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penurunan angka pengangguran di Sulawesi Tengah.
Mendorong Pemerataan Investasi ke Wilayah Lain
Meskipun Morowali dan Morowali Utara menjadi pusat investasi saat ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah tidak berpuas diri. Kepala DPMPTSP, Moh Rifani Pakamundi, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus berupaya mendorong pemerataan investasi ke wilayah lain di Sulawesi Tengah. Diversifikasi sektor investasi menjadi kunci utama dalam strategi ini.
Pemerintah kini mengarahkan perhatian pada potensi investasi di sektor agribisnis, peternakan, serta hilirisasi komoditas non-tambang. Langkah ini diharapkan dapat menyebarkan manfaat ekonomi dari investasi secara lebih luas kepada masyarakat di berbagai penjuru Sulawesi Tengah, tidak hanya terkonsentrasi di wilayah pertambangan.
“Ke depan, kami tidak hanya fokus pada Morowali dan Morowali Utara, tetapi juga mendorong potensi investasi di daerah lain agar pertumbuhan ekonomi lebih merata,” tandasnya. Dengan demikian, Sulawesi Tengah dapat membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh, beragam, dan inklusif bagi seluruh masyarakatnya.




