Nabilah O’Brien: Korban Viral Jadi Tersangka, ZK Buka Suara

Klarifikasi Zendhy Kusuma Soal Insiden Restoran Nabilah O’Brien: Emosi Terpancing Setelah Dua Jam Menunggu Pesanan

Kasus yang sempat menghebohkan jagat maya terkait insiden di sebuah restoran milik selebgram Nabilah O’Brien kini mendapat penjelasan dari musisi Zendhy Kusuma. Setelah berbulan-bulan menjadi sorotan publik, Zendhy akhirnya angkat bicara untuk memberikan klarifikasi mengenai peristiwa yang terjadi pada September 2025 tersebut. Pengakuannya ini disampaikan melalui akun Instagram pribadinya pada Minggu, 8 Maret 2026.

Perkara yang viral di media sosial ini bermula dari tuduhan pencurian yang dilaporkan oleh Nabilah kepada pihak kepolisian. Namun, seiring berjalannya waktu, kasus tersebut berkembang menjadi lebih kompleks dan bahkan memicu laporan hukum lain yang saling terkait.

Emosi Terpancing Akibat Penantian Panjang

Dalam pernyataannya, Zendhy mengakui bahwa emosinya sempat terpancing pada malam kejadian di restoran Nabilah. Ia menyatakan, “Saya tidak menutup mata bahwa pada malam itu emosi saya terpancing dan ada sikap yang seharusnya bisa disampaikan dengan cara yang lebih baik.”

Menurut Zendhy, situasi yang memicu ketegangan tersebut bermula dari penantian pesanan makanan yang sangat lama. Ia bersama keluarganya harus menunggu hampir dua jam tanpa kepastian yang jelas. “Kami menanyakan ke beberapa pelayan mengenai pesanan tersebut, pada awalnya kami diberi waktu 15 menit dan kami menunggu sesuai waktu yang disebutkan namun makanan belum juga datang, penjelasan yang kami terima berbeda-beda, ada yang ngomong restoran lagi ramai, makanan akan segera selesai, kami kembali menunggu, tapi pesanan belum dateng juga dan kami belum mendapatkan kejelasan juga,” jelasnya.

Karena rasa lapar yang semakin mendesak, Zendhy memutuskan untuk menanyakan langsung kepada pihak yang bertanggung jawab. “Karena merasa lapar kami langsung tanya ke yang bertanggung jawab, setelah menunggu hampir 2 jam saya ke dapur untuk memastikan secara langsung apakah sudah dibuat apa belum, saya dihalangi masuk, ternyata pesanan kami baru akan diproses,” ungkapnya. Situasi inilah yang menurut Zendhy akhirnya memicu ketegangan antara dirinya dan staf restoran.

Rekaman CCTV yang Beredar Dinilai Tidak Utuh

Kasus ini semakin mencuat setelah rekaman CCTV insiden tersebut tersebar luas di berbagai platform media sosial. Dalam rekaman yang beredar, Zendhy dan istrinya terlihat meninggalkan restoran sambil membawa sekitar 14 menu makanan yang telah dipesan, tanpa melakukan pembayaran.

Namun, Zendhy menilai bahwa potongan video yang viral tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan situasi sebenarnya. Ia mengklaim ada rekaman lain yang menunjukkan upayanya untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik, termasuk kembali ke restoran untuk meminta maaf dan melakukan pembayaran.

“Namun saat itu pemilik saudari N sedang berada di luar kota, kami sudah membawa surat permintaan maaf, uang tunai untuk membayar pesanan, namun kami tidak diperkenankan masuk, meski demikian kami tetap menunjukkan itikad baik kami ingin menyelesaikan persoalan dengan tertib,” ujar Zendhy. Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara langsung tanpa harus melebar menjadi polemik publik. “Saya datang kembali untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung dan menyelesaikan kewajiban pembayaran. Harapan saya sebenarnya sederhana, persoalan ini bisa diselesaikan secara baik tanpa harus berkembang menjadi polemik besar,” tandasnya.

Klaim Pembayaran dan Laporan Balik

Zendhy juga mengungkap bahwa ia telah melakukan pembayaran atas pesanan makanan tersebut beberapa hari setelah kejadian. Ia menyatakan bahwa pembayaran sebesar Rp530.150 telah dilakukan melalui transfer pada tanggal 21 September 2025.

Meskipun telah melakukan pembayaran dan menunjukkan itikad baik, Zendhy terkejut ketika pada tanggal 26 September 2025, laporan dugaan pencurian tetap dilayangkan ke polisi dan ditangani oleh Polsek Mampang, Jakarta Selatan. “Meskipun kami dilaporkan, kami tetap kooperatif dan menunjukkan itikad baik bahkan sebelum adanya panggilan kepolisian kami datang dan klarifikasi menunjukkan bukti terkait upaya yang kami lakukan,” katanya.

Tekanan dan Cyberbullying yang Dihadapi

Lebih lanjut, Zendhy mengungkapkan bahwa setelah video tersebut viral, ia dan keluarganya menghadapi berbagai tekanan dan perundungan di media sosial. Mulai dari komentar negatif yang pedas hingga penyebaran informasi pribadi mereka. “Cukup berdampak bagi keluarga kami, pekerjaan kami, namun demikian kami tidak menanggapi tersebut karena media sosial, namun peristiwa tersebut berkembang jauh, kami akhirnya melaporkan N ke Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri,” ungkapnya.

Ia menegaskan kembali bahwa potongan video yang beredar disertai narasi yang menurutnya tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta kejadian. “Kami percaya setiap peristiwa sebaiknya dilihat secara utuh dan berdasarkan fakta. Ketika sebuah potongan video disertai narasi yang tidak lengkap, hal itu bisa menimbulkan kesalahpahaman yang akhirnya merugikan banyak pihak,” ujarnya.

Menghormati Proses Hukum dan Ajakan Bijak bermedia Sosial

Zendhy Kusuma menegaskan bahwa seluruh persoalan tersebut saat ini telah memasuki ranah hukum. Ia menyatakan akan menghormati setiap proses yang sedang berjalan. “Saya percaya proses hukum akan melihat seluruh peristiwa ini secara utuh dan objektif,” katanya.

Melalui klarifikasi ini, Zendhy juga mengajak masyarakat untuk menyikapi peristiwa tersebut dengan lebih bijak, terutama dalam penggunaan media sosial. “Mungkin kita semua bisa belajar dari kejadian ini. Belajar menjadi konsumen yang lebih baik, belajar menjadi pemilik usaha yang lebih bijak dalam menyikapi pelanggan, dan juga belajar menjadi netizen yang tidak mudah melakukan cyberbullying,” kata Zendhy.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kegaduhan yang telah terjadi. “Kami juga menyadari peristiwa ini terjadi di tengah bulan suci Ramadhan, baik bagi orang, serta bisa memperbaiki hubungan antar sesama, untuk itu kami memohon maaf atas peristiwa yang telah menimbulkan kegaduhan pada masyarakat,” tutupnya.

Pos terkait