Lonjakan Penerbitan Obligasi ESG: Momentum Pertumbuhan Keberlanjutan di Pasar Modal Indonesia
Minat investor terhadap aset yang mengedepankan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance – ESG) terus menunjukkan tren positif. Fenomena ini mendorong semakin banyak perusahaan untuk menerbitkan instrumen utang berbasis ESG. Data terbaru menunjukkan bahwa penerbitan surat utang ESG diproyeksikan mencapai Rp 35,56 triliun pada tahun 2025, menandakan percepatan signifikan dalam adopsi instrumen keuangan berkelanjutan di Indonesia.
Peningkatan realisasi penerbitan surat utang ESG sepanjang tahun lalu melonjak drastis hingga 146% dibandingkan tahun sebelumnya, yang hanya mencapai Rp 14,47 triliun. Jumlah emiten yang turut serta dalam penerbitan ini pun bertambah, mencakup 10 perusahaan yang berani mengintegrasikan prinsip ESG dalam strategi pendanaannya.
Distribusi Sektoral Penerbitan Obligasi ESG
Secara sektoral, dominasi penerbitan surat utang ESG masih dipegang oleh sektor perbankan, menyumbang porsi sebesar 71,1% dari total nilai penerbitan. Sektor ini secara konsisten menunjukkan komitmennya terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Selanjutnya, sektor Pembiayaan Non-Multifinance menyusul dengan kontribusi 20,4%, diikuti oleh Lembaga Keuangan Tujuan Khusus (Special Purpose Financial Institution) sebesar 7,03%. Sementara itu, sektor properti masih memiliki porsi yang relatif kecil, yaitu hanya 1,4% dari total nilai penerbitan surat utang ESG.
Sejarah dan Perkembangan Penerbitan Obligasi ESG
Penerbitan surat utang ESG di Indonesia baru mulai menunjukkan geliatnya sejak tahun 2022. Sebelum periode tersebut, penerbitan terakhir tercatat pada tahun 2018 dengan nilai awal sebesar Rp 500 miliar. Setelah itu, pasar sempat mengalami jeda selama periode 2019 hingga 2021, termasuk masa pandemi COVID-19, di mana tidak ada penerbitan surat utang ESG yang dilakukan.
Penerbitan kembali terjadi pada tahun 2022 dengan nilai Rp 10 triliun, yang mayoritas berasal dari sektor perbankan. Sejak saat itu, nilai penerbitan surat utang ESG terus mengalami peningkatan, meskipun dengan tingkat pertumbuhan yang terkadang berfluktuasi.
- Tahun 2023: Pertumbuhan penerbitan mencapai 36%, dengan total nilai Rp 13,61 triliun.
- Tahun 2024: Pertumbuhan sedikit melambat ke angka 6%, menghasilkan total penerbitan sebesar Rp 14,47 triliun.
- Proyeksi Tahun 2025: Diperkirakan akan terjadi lonjakan pertumbuhan sebesar 146%, dengan total realisasi penerbitan mencapai Rp 35,56 triliun.
Lonjakan signifikan pada tahun 2025 ini didorong oleh kondisi pasar yang sangat mendukung. Salah satu faktor utamanya adalah penurunan imbal hasil (yield) benchmark obligasi. Imbal hasil yang lebih rendah secara umum telah mendorong peningkatan penerbitan surat utang korporasi, termasuk surat utang ESG.
Faktor Pendorong Pertumbuhan Obligasi ESG
Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap konsep ESG menjadi pendorong utama di sisi permintaan. Investor semakin mencari instrumen investasi yang tidak hanya memberikan imbal hasil finansial, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Di sisi pasokan, emiten yang memiliki kapabilitas untuk menerbitkan surat utang berbasis ESG juga memanfaatkan momentum pasar yang sedang berkembang ini. Selain itu, dukungan regulasi dari otoritas terkait turut memperkuat fondasi penerbitan surat utang berbasis ESG.
Beberapa kebijakan yang berperan penting dalam perkembangan ini meliputi:
- Implementasi Taksonomi Keberlanjutan Indonesia: Kebijakan ini memperluas klasifikasi aktivitas ekonomi hijau ke berbagai sektor non-energi, seperti pertanian, manufaktur, dan pengelolaan limbah.
- Kewajiban Pelaporan ESG: Adopsi kewajiban pelaporan ESG menjadi faktor pendorong signifikan bagi emiten untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas mereka.
- POJK 18/2023: Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 18 Tahun 2023 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Bersifat Utang dan Sukuk Berlandaskan Keberlanjutan secara langsung mendukung perkembangan penerbitan instrumen keuangan berkelanjutan dalam dua tahun terakhir.
Analisis Imbal Hasil Obligasi ESG vs. Konvensional
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah mengenai perbedaan imbal hasil antara obligasi ESG dan obligasi konvensional. Berdasarkan analisis yang ada, perbedaan imbal hasil antara kedua instrumen ini tidak terlalu signifikan.
- Kupon Relatif Serupa: Sejauh ini, belum terlihat adanya perbedaan bunga yang besar antara instrumen surat utang konvensional dengan yang berbasiskan ESG. Perbedaan kupon yang terjadi biasanya relatif kecil.
- Belum Ada Pola Pasti: Secara umum, belum terbentuk pola khusus yang secara definitif mengkonfirmasi bahwa penerbitan surat utang ESG selalu menghasilkan kupon yang lebih rendah atau berbiaya lebih murah.
Sebagai ilustrasi perbandingan:
- November 2025: Surat utang ESG dengan peringkat AAA dan tenor tiga tahun menawarkan kupon sebesar 5,5%. Sementara itu, surat utang konvensional dengan peringkat dan tenor yang sama menawarkan bunga sedikit lebih tinggi, yaitu 5,75% per tahun.
- Oktober 2025: Kondisi ini berbalik. Surat utang ESG rata-rata memberikan bunga sebesar 5,75%, sedangkan obligasi konvensional rata-rata memberikan bunga 5,65% per tahun.
Rekomendasi untuk Penguatan Pasar Obligasi ESG
Tren positif dalam penerbitan obligasi ESG perlu terus didukung dan didorong oleh otoritas terkait. Antusiasme investor terhadap instrumen investasi bertema ESG perlu dijembatani dengan akses pasar yang semakin baik.
Beberapa langkah strategis yang dapat dipertimbangkan meliputi:
- Penguatan Market Maker: Memperkuat peran market maker pada pasar instrumen surat utang ESG untuk meningkatkan likuiditas.
- Aksesibilitas Transaksi: Menurunkan nominal transaksi minimal agar lebih terjangkau bagi berbagai kalangan investor.
- Peningkatan Digitalisasi: Memanfaatkan teknologi digital untuk mempermudah akses dan transaksi instrumen ESG.
- Insentif bagi Emiten: Mendorong emiten untuk menerbitkan surat utang berbasis ESG melalui berbagai bentuk insentif, seperti subsidi kupon atau subsidi biaya penerbitan.
Dengan kesadaran investor yang terus meningkat dan upaya emiten untuk memanfaatkan pasar yang sedang berkembang, didukung oleh regulasi yang kondusif, masa depan penerbitan surat utang ESG di Indonesia diproyeksikan akan terus cerah dan berkelanjutan.





