Pembiayaan modal ventura di Indonesia mengalami pertumbuhan yang tercatat pada Desember 2025. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman menyampaikan bahwa nilai pembiayaan modal ventura mencapai sebesar Rp 15,97 triliun per Desember 2025. Pertumbuhan ini tercatat sebesar 0,82% Year on Year (YoY), menurutnya dalam konferensi pers RDK OJK, Jumat (9/1/2026).
Jika dilihat dari data OJK, pertumbuhan pembiayaan modal ventura pada bulan Desember 2025 terlihat melambat dibandingkan dengan posisi pada November 2025. Sebelumnya, pada bulan November 2025, pembiayaan modal ventura mencatatkan pertumbuhan sebesar 1,2% YoY, dengan nilai sebesar Rp 16,29 triliun.
Selain itu, kondisi pembiayaan modal ventura pada Oktober 2025 tercatat sebesar Rp 16,3 triliun, atau mengalami kontraksi sebesar 0,12% YoY.
OJK juga mencatat nilai aset industri modal ventura pada Desember 2025 mencapai sebesar Rp 27,57 triliun. Angka ini meningkat 1,17% dibandingkan pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 27,25 triliun.
Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) sempat menyatakan bahwa 2025 menjadi periode konsolidasi industri. Dalam konteks ini, aktivitas investasi tetap berjalan, tetapi menerapkan pendekatan yang lebih selektif dan berorientasi pada kualitas.
Kepala Bidang Media & Hubungan Masyarakat Amvesindo, Novrizal Pratama menjelaskan bahwa perusahaan modal ventura semakin mengutamakan start-up dengan traksi pendapatan dan unit ekonomi yang jelas. Selain itu, mereka lebih memprioritaskan jalur menuju profitabilitas yang realistis, tata kelola, transparansi, serta manajemen risiko.
Amvesindo memproyeksikan bahwa industri modal ventura Indonesia akan masuk ke fase yang lebih stabil dan matang pada 2026. Novrizal menyatakan bahwa fokus investasi akan semakin terarah pada sektor-sektor bernilai tambah tinggi. Beberapa sektor yang akan menjadi fokus antara lain:
- Enterprise and Business-to-Business (B2B) solutions, termasuk Software as a Service (SaaS) dan solusi digital untuk efisiensi operasional perusahaan serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
- Logistik dan supply chain sebagai tulang punggung perdagangan dan distribusi nasional.
- Healthtech dan agritech yang mendukung ketahanan kesehatan dan pangan.
- Climate-related solutions dan teknologi efisiensi energi yang sejalan dengan agenda keberlanjutan.
- Manufacturing enablement dan deep tech terapan yang mendorong produktivitas dan daya saing industri.
“Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki potensi pertumbuhan jangka menengah hingga panjang karena didukung oleh kebutuhan pasar yang nyata, skala ekonomi domestik Indonesia, serta relevansi terhadap agenda pembangunan nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi.





