Tragedi di Pantai Payangan: Kakak-Beradik Terseret Ombak, Istri Nyaris Ikut Terjun
Kunjungan wisata keluarga yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan berubah menjadi duka mendalam di Pantai Seruni Payangan, Jember, Jawa Timur. Dua kakak-beradik, Barokatul Hidayat (28) dan Rifki (22), yang sehari-harinya merantau di Bali, terseret ombak ganas saat sedang menikmati air laut pada Sabtu (30/5/2026) siang. Peristiwa mengejutkan ini meninggalkan luka mendalam, terutama bagi Musrihatul Hasanah (23), istri Barokatul, yang menyaksikan langsung detik-detik mengerikan tersebut.
Keluarga yang berasal dari Desa Suci, Kecamatan Panti, Jember, ini memutuskan untuk menghabiskan liburan di Pantai Seruni Payangan. Meskipun jaraknya cukup jauh dari kediaman mereka, keinginan Barokatul untuk mengunjungi pantai tersebut akhirnya terpenuhi. Musrihatul sempat merasakan firasat buruk dan melarang suaminya untuk pergi ke laut, namun ajakan tersebut tidak dapat ditolak.
“Memang keinginan dari lama, kepingin main ke pantai kalau liburan. Kemarin ini malah maksa sekali. Padahal saya sudah tidak mau, saya bilang bahaya main di laut. Saya ngajaknya ke tempat lain yang bukan laut, tetapi suami nggak mau,” ujar Musrihatul dengan nada pilu.
Biasanya, keluarga ini lebih memilih Pantai Puger untuk berwisata. Namun, kali ini mereka mengikuti keinginan Barokatul untuk menjajal Pantai Payangan. Berangkat dengan lima anggota keluarga, termasuk anak perempuan mereka dan ayah mertua, Imam Syafii, dengan menggunakan dua sepeda motor, mereka menuju pesisir selatan Jember.
Aksi Nekat Istri di Tengah Kepanikan
Setibanya di lokasi, Musrihatul memilih untuk menemani anaknya bermain di tepian pantai, sementara suaminya dan adik iparnya memutuskan untuk berenang agak ke tengah. Kedalaman air saat itu diperkirakan sebatas perut orang dewasa. Namun, sekitar pukul 13.00 WIB, petaka tak terduga terjadi di sisi utara Bukit Seruni Domba.
Menurut penuturan Musrihatul, adiknya, Rifki, adalah orang pertama yang terseret oleh arus ombak yang kuat. Melihat adiknya dalam bahaya, Barokatul berusaha keras untuk menyelamatkannya dengan memeluk sang adik. Sayangnya, upaya penyelamatan tersebut justru berujung pada keduanya terseret lebih jauh ke arah karang di sisi selatan pantai, hingga akhirnya menghilang ditelan ombak.
Menyaksikan kejadian mengerikan itu, Musrihatul mengalami syok berat. Dalam kondisi panik dan tidak terkendali, ia nyaris nekat melompat ke laut dari atas bongkahan karang untuk mencoba menyelamatkan suaminya. Beruntung, aksi nekatnya tersebut berhasil digagalkan oleh warga dan relawan setempat yang sigap memegangi tubuhnya agar tidak ikut tercebur ke dalam laut. Setidaknya empat orang harus menahan tubuh Musrihatul yang lemas dan berusaha menyadarkannya dari keterkejutan. Sementara itu, sang anak dan ayah mertua tetap berada di tepi pantai, menyaksikan kejadian tersebut dengan hati yang hancur.
Barokatul, Tulang Punggung Keluarga yang Hilang
Kehilangan Barokatul Hidayat menjadi pukulan telak bagi Musrihatul. Barok, begitu ia akrab disapa, adalah tulang punggung utama keluarga. Selama enam tahun terakhir, ia merantau ke Bali untuk memperbaiki kondisi perekonomian keluarga. Sebelum anaknya masuk Taman Kanak-Kanak, Musrihatul dan anaknya sempat ikut merantau ke Sukawati, Bali. Namun, dalam setahun terakhir, demi pendidikan sang anak, Barok rela berpisah dengan istri dan anaknya, dan hanya pulang kampung sebulan sekali atau maksimal tiga bulan sekali.
Kedatangan Barok dan adiknya ke Jember kali ini adalah untuk merayakan libur panjang Iduladha. Setelah sepuluh hari menghabiskan waktu bersama keluarga, impian Barok untuk menikmati liburan di pantai justru berakhir tragis. “Dia orang baik, segalanya bagi kami. Dia melakukan apa saja untuk keluarga,” ujar Musrihatul dengan suara bergetar, mengenang sosok suaminya.
Adik Barok, Rifki, yang juga menjadi korban, menyusul kakaknya untuk mencari nafkah di Bali sejak lima tahun terakhir. Kehilangan kedua kakak beradik ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar mereka.
Kesaksian Relawan dan Fenomena “Ombak Rusak”
Muhammad Juanda, seorang penjaga penitipan kendaraan sekaligus relawan pantai setempat, menjadi saksi mata detik-detik mencekam tersebut. Ia adalah salah satu dari beberapa orang yang berhasil menahan Musrihatul agar tidak melompat ke laut. “Dia mau lompat ke laut, saya harus memegangi tubuhnya agar tidak loncat,” ungkap Juanda.
Awalnya, Juanda tidak menyadari sepenuhnya apa yang terjadi hingga istri salah satu korban memberitahunya bahwa ada orang tenggelam. Ia segera bergegas ke lokasi kejadian. “Tubuh dua wisatawan sudah tidak kelihatan, namun ada istrinya di atas karang. Saya dan beberapa orang memegangi dia agar tidak njebur ke laut,” tambahnya.
Juanda menjelaskan bahwa para pedagang di sekitar pantai, yang juga bertindak sebagai relawan, telah berulang kali memperingatkan para pengunjung untuk berhati-hati. Bahkan, salah satu pedagang sempat membunyikan peluit sebagai tanda agar pengunjung segera menepi.
“Infonya, mereka minggir. Namun Mas Her, penjual cilok yang awalnya mengingatkan wisatawan pergi untuk makan siang. Mungkin main air lagi, dan terseret ombak itu. Kemarin memang ombaknya agak rusak kalau bahasanya orang sini,” urai Juanda.
Istilah “ombak rusak” yang digunakan oleh warga lokal merujuk pada kondisi arus ombak yang sangat kuat, tidak terduga, dan sangat berbahaya. Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang beraktivitas di laut.
Hingga kini, pencarian terhadap Rifki masih terus dilakukan secara intensif oleh tim SAR gabungan. Sementara itu, jasad Barokatul Hidayat telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada hari ketiga pencarian, Senin (1/6/2026) pagi. Ia ditemukan mengambang di perairan dengan jarak sekitar 1,2 kilometer dari titik awal lokasi tenggelamnya. Kejadian ini menjadi pengingat akan kekuatan alam yang dahsyat dan pentingnya selalu waspada saat beraktivitas di pantai.






