Pameran Seni Rupa “Kuda Cahaya” di Kalimantan Selatan
Pameran seni rupa bertajuk Kuda Cahaya yang digelar di UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan mendapatkan apresiasi dari pemerintah provinsi setempat. Pameran ini tidak hanya menjadi ajang menampilkan karya visual, tetapi juga menjadi ruang refleksi yang sarat makna filosofis dan religius.
Atmosfer Spiritual dalam Karya Hajriansyah
Kepala UPTD Taman Budaya Kalimantan Selatan, Suharyanti, menyampaikan kekagumannya terhadap karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini. Menurutnya, atmosfer pameran menghadirkan nuansa spiritual yang kuat bagi para pengunjung.
“Begitu kita masuk, kita disuguhi kaligrafi-kaligrafi yang memberi makna sebuah zikir. Ini mengingatkan kita bahwa kita harus selalu ingat kepada Tuhan,” ujarnya saat meninjau pameran di Banjarmasin.
Tema Kuda Cahaya memiliki filosofi yang mendalam. Kuda dimaknai sebagai simbol kekuatan dan perjalanan panjang para perupa di Kalimantan Selatan, sementara cahaya menjadi metafora harapan sekaligus eksistensi seni rupa lokal agar terus bersinar.
Komitmen Taman Budaya untuk Seniman Lokal
Melalui pameran ini, Taman Budaya Kalsel juga menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan ruang berekspresi bagi para perupa lokal. Pameran tersebut diharapkan menjadi pemantik semangat bagi seniman lain untuk berani mempublikasikan karya mereka kepada masyarakat luas.
“Harapan kami bagi perupa lain, kami selalu memberikan ruang agar mereka tetap terfasilitasi. Dengan adanya pameran ini, kita bisa terus mendapat inspirasi,” tambah Suharyanti.
Ia juga mendorong para pegiat seni yang memiliki karya namun masih enggan tampil ke publik agar memanfaatkan fasilitas yang tersedia, termasuk ruang-ruang pamer di Taman Budaya. Menurutnya, karya seni tidak seharusnya hanya tersimpan, tetapi juga hadir untuk diapresiasi dan menjadi bagian dari perkembangan budaya daerah.
Filosofi di Balik Tema “Kuda Cahaya”
Hajriansyah, pelaku seni yang menggelar pameran tunggal ke-7 sejak 2007, menjelaskan bahwa pameran ini mengusung figur kuda sebagai tema utama. Melalui tema tunggal tersebut, ia mengajak pengunjung tidak hanya melihat bentuk fisik kuda, tetapi juga menyelami makna filosofis yang terkandung di dalamnya.
Menurut Hajriansyah, pemilihan tema tunggal justru menjadi tantangan tersendiri. Jika biasanya pameran memberi ruang ekspresi tanpa batas, kali ini ia memilih batasan yang sempit namun mendalam melalui simbol kuda.
“Kuda dalam karya-karya ini bukan sekadar visualisasi hewan, tetapi metafora kehidupan. Ia menjadi simbol pengalaman, pikiran, dan perasaan yang saya jalani dalam beberapa tahun terakhir. Ada pula kritik sosial serta makna cahaya sebagai pengetahuan dan hasrat jiwa manusia,” jelasnya.
Karya yang Menghadirkan Gagasan Ekspresif
Dalam pameran tersebut, Hajriansyah menampilkan 19 lukisan dan dua karya instalasi yang ditempatkan secara strategis di ruang pamer. Seluruh karya dikemas dengan pendekatan surealis-ekspresionis, menghadirkan gagasan yang melampaui realitas dengan visualisasi yang ekspresif dan emosional.
Ia juga memberikan kebebasan penuh kepada penikmat seni untuk menafsirkan setiap karya yang dipamerkan. Menurutnya, seni seharusnya membuka ruang dialog dan refleksi, bukan membatasi makna pada sudut pandang penciptanya semata.
“Melalui pameran tunggal ini, pesan utama yang ingin disampaikan adalah memberikan ruang refleksi bagi para penonton. Siapa pun yang hadir dapat kembali melihat ke dalam jiwa mereka masing-masing melalui perantara karya-karya yang disuguhkan,” katanya.
Profil Seniman yang Terinspirasi Spiritualitas
Hajriansyah sendiri dikenal sebagai seniman lukis, penulis, kurator, sekaligus pegiat literasi asal Banjarmasin yang kerap mengangkat tema spiritualitas dan tasawuf dalam karya-karyanya.
Melalui Kuda Cahaya, ia berharap pameran ini turut menghidupkan ekosistem seni rupa Kalimantan Selatan serta melahirkan gagasan-gagasan baru bagi kemajuan budaya daerah.





