Pasar kredit karbon sukarela memulai tahun 2026 dengan lesu, menandai periode yang penuh ketidakpastian seiring dengan penantian arah kebijakan dan regulasi baru. Data dari Januari 2026 menunjukkan tingkat pasokan dan permintaan yang menyentuh level bulanan terendah dalam beberapa tahun terakhir. Ironisnya, sinyal minat yang kuat terhadap kredit berkualitas tinggi pun belum terlihat secara signifikan.
Penerbitan Kredit Karbon Menurun Drastis
Laporan terbaru mencatat bahwa total penerbitan kredit karbon pada Januari 2026 hanya mencapai 11,2 juta unit. Angka ini merupakan level terendah untuk bulan Januari sejak tahun 2021. Penurunan ini bukan tanpa sebab. Tingkat penerbitan yang tertahan secara langsung merupakan respons terhadap rendahnya volume pemakaian kredit (retirement), yang pada Januari menjadi yang terendah sejak tahun 2020. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar secara umum kehilangan momentumnya, sembari menunggu kejelasan kebijakan yang diharapkan dapat memulihkan aktivitas perdagangan.
Meskipun demikian, Amerika Serikat tetap memegang posisi sebagai pasar penerbitan kredit karbon bulanan terbesar. Pada Januari 2026, AS menguasai pangsa pasar sebesar 42%. Keberhasilan ini mungkin didorong oleh keragaman portofolio sektor yang terus dipimpin oleh negara tersebut.
Ketidakpastian Harga dan Kualitas Kredit
Salah satu tantangan utama yang dihadapi pasar saat ini adalah ketiadaan preferensi yang jelas terhadap kredit berkualitas tinggi. Hal ini menyebabkan pergerakan harga yang tidak memiliki arah yang pasti. Sepanjang Januari 2026, harga unit karbon di pasar sukarela terpantau bergerak dalam rentang yang sangat lebar, mulai dari US$1 per ton hingga US$150 per ton. Fluktuasi yang ekstrem ini mencerminkan kurangnya konsensus mengenai nilai intrinsik dari kredit karbon.
Para analis berpandangan bahwa integrasi pasar karbon sukarela dengan skema kepatuhan (compliance market) dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk memulihkan momentum perdagangan sekaligus meningkatkan transparansi harga. Namun, proses sertifikasi dari pemerintah tuan rumah seringkali menjadi hambatan yang signifikan. Contoh nyata dari kesulitan ini terlihat pada kolapsnya proyek Koko Networks di Kenya pada 31 Januari 2026, yang menunjukkan betapa krusialnya dukungan regulasi pemerintah.
Dominasi Sektor Kehutanan dan Energi dalam Penerbitan
Dari sisi sektor, kredit yang berbasis kehutanan mendominasi penerbitan baru pada Januari 2026, menyumbang porsi sebesar 42%. Diikuti oleh kredit yang berasal dari upaya pengurangan permintaan energi, yang berkontribusi sekitar seperempat dari total pasokan.
Sementara itu, kredit yang berasal dari sektor pembangkit energi hanya menyumbang seperlima dari total penerbitan baru. Kontribusi sektor energi pada Januari 2026 tergolong rendah, mengingat sektor ini biasanya menjadi kontributor utama dalam pasokan kredit karbon. Perubahan pola ini mungkin mencerminkan pergeseran fokus proyek atau tantangan spesifik yang dihadapi oleh sektor energi dalam menghasilkan kredit karbon yang dapat diperdagangkan.
Proyek dengan penerbitan terbesar pada bulan lalu berasal dari sektor kehutanan di Amerika Serikat. Proyek-proyek ini telah mendapatkan persetujuan dari Core Carbon Principle (CCP), sebuah standar global yang dirancang untuk memastikan kualitas tinggi dari kredit karbon. Saat ini, AS terus memimpin sebagai pasar penerbitan utama dengan portofolio sektor yang beragam, menunjukkan kemampuan adaptasi dan inovasi dalam lanskap kredit karbon.
Penurunan Tajam dalam Pemakaian Kredit
Selain penerbitan yang lesu, volume pemakaian kredit karbon pada Januari juga mengalami penurunan tajam. Tercatat hanya 6,9 juta unit kredit yang digunakan, merosot 57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini merupakan yang terendah sejak tahun 2020.
Meskipun telah ada kemajuan yang signifikan dalam menjawab isu integritas pasar, perusahaan-perusahaan dinilai belum memiliki insentif yang cukup kuat untuk memanfaatkan kredit karbon dalam target penurunan emisi mereka. Hal ini disebabkan oleh belum adanya kepastian regulasi yang memadai, yang pada akhirnya terus menekan permintaan.
Permintaan Kredit Karbon: Siapa yang Berminat?
Menariknya, kredit dari sektor pembangkit energi justru menjadi yang paling diminati pada Januari, dengan pangsa mencapai hampir separuh dari total permintaan. Mayoritas dari pemakaian kredit ini berasal dari negara-negara seperti India, Tiongkok, dan Turki, yang menunjukkan adanya konsentrasi permintaan di wilayah-wilayah tersebut.
Dalam konteks pembeli korporasi, platform e-commerce asal Amerika Serikat, Etsy, tercatat sebagai pembeli terbesar. Etsy menggunakan 0,42 juta kredit, terutama untuk kredit yang terkait dengan manufaktur dan emisi liar (fugitive emissions). Sebaliknya, perusahaan energi besar seperti Shell hanya menggunakan 0,075 juta kredit, angka yang jauh di bawah aktivitas pembelian mereka yang biasanya.
Pergerakan Harga di Pasar Over-the-Counter
Di pasar over-the-counter (OTC), beberapa jenis kredit karbon menunjukkan tren harga yang berbeda. Kredit blue carbon, yang berasal dari ekosistem laut seperti hutan bakau dan padang lamun, mencetak rekor baru dengan harga mencapai US$25,3 per ton metrik. Kredit berperingkat tinggi versi BeZero juga mengalami kenaikan tajam sebesar 30% sepanjang Januari, mencapai US$7,7 per ton.
Namun, tren ini berlawanan dengan kredit yang berlabel CCP. Harga kredit berlabel CCP justru mengalami penurunan sebesar 10% pada periode yang sama. Penurunan ini diduga kuat akibat lemahnya permintaan terhadap kredit yang memenuhi standar kualitas tertinggi tersebut, sebuah ironi mengingat upaya global untuk meningkatkan integritas pasar.
Secara spot, harga tertinggi tercatat pada proyek-proyek manufaktur, dengan rata-rata mencapai US$30,7 per ton. Sebaliknya, kredit termurah berasal dari proyek-proyek pembangkit energi, dengan rata-rata banderol harga hanya US$2,3 per ton. Perbedaan harga yang signifikan ini menyoroti kompleksitas pasar dan bagaimana faktor-faktor seperti jenis proyek, lokasi, dan standar kualitas memengaruhi nilai kredit karbon.
Kasus Koko Networks: Peringatan Keras bagi Pasar Karbon
Dari sisi kebijakan, insiden yang menimpa proyek Koko Networks di Kenya memberikan peringatan keras bagi seluruh pelaku pasar karbon. Pemerintah Kenya tidak menerbitkan Letter of Authorization untuk proyek permintaan energi Koko Networks. Akibatnya, proyek tersebut tidak dapat berpartisipasi dalam perdagangan karbon internasional yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Lebih lanjut, penghentian operasional proyek ini membuat status 14,8 juta kredit karbon menjadi belum terselesaikan. Situasi ini semakin rumit mengingat proyek Koko Networks sebelumnya telah menjamin investasi senilai US$179,6 juta. Ada potensi besar bahwa Bank Dunia, yang terlibat dalam pendanaan, harus membayar kembali dana tersebut kepada para investor, menimbulkan kerugian finansial yang signifikan dan merusak kepercayaan pada mekanisme pasar karbon. Kasus ini menggarisbawahi pentingnya kejelasan regulasi, kepastian hukum, dan kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan internasional untuk memastikan keberlanjutan dan kredibilitas pasar karbon.





