Kondisi Kemanusiaan di Tanah Papua: Jeritan Hati Pembela HAM di Tengah Konflik Bersenjata
Konflik bersenjata yang terus berkecamuk di tanah Papua telah menimbulkan luka mendalam bagi masyarakat sipil, baik Orang Asli Papua maupun warga pendatang. Para pembela hak asasi manusia (HAM) merasa prihatin dan kecewa melihat pemerintah pusat maupun daerah terkesan mengabaikan seriusnya situasi keamanan di wilayah tersebut.
Situasi Keamanan yang Mengkhawatirkan: Korban Sipil Terus Berjatuhan
Sebagai seorang pekerja kemanusiaan di Papua, hati terasa perih menyaksikan setiap hari ada korban berjatuhan akibat konflik bersenjata. Masyarakat sipil, termasuk para pendidik, pengusaha, hingga pekerja informal, menjadi sasaran kekerasan yang dilakukan baik oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) maupun aparat TNI-Polri. Namun, ironisnya, para pemimpin bangsa seolah menutup mata, tuli, dan buta terhadap kenyataan pahit ini.
Pemerintah pusat dinilai kurang bijaksana dalam menangani konflik ini. Upaya pengiriman pasukan bersenjata bukanlah solusi, melainkan justru memperkeruh keadaan dan menambah korban. Ketergantungan pada kekuatan aparat negara semata tidak akan membawa penyelesaian.
Fokus pada Yahukimo dan Intan Jaya: Tragedi Kemanusiaan yang Tak Terbantahkan
Kondisi keamanan di Yahukimo dan Intan Jaya menjadi sorotan utama. Di Yahukimo, seorang guru bernama Frengki (55 tahun) dilaporkan tewas ditembak di dalam ruangan sekolah. Dugaan kuat menyebutkan bahwa ia merupakan intelijen. Kejadian tragis ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap tenaga pendidik yang seharusnya dilindungi.
Sementara itu, di Intan Jaya, masyarakat sipil menjadi korban penembakan, bahkan sebuah gereja Katolik turut menjadi sasaran bom. Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan betapa rentannya warga sipil di tengah konflik yang tak kunjung usai.
Para pembela HAM mendesak Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk berpikir lebih bijaksana dalam mencari solusi. Penting bagi pemerintah untuk tidak hanya fokus pada isu kemanusiaan di luar negeri, sementara masalah domestik dibiarkan berlarut-larut. Kinerja penyelesaian masalah di dalam negeri justru akan menjadi tolok ukur pengakuan internasional.
Prioritas Pembangunan dan Nilai Kemanusiaan
Proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang digembar-gemborkan pemerintah, meskipun penting, tidak akan berarti jika manusia yang seharusnya menikmati hasil pembangunan tersebut terus menjadi korban. Bagi Orang Asli Papua, yang terpenting adalah kedamaian dan rasa aman di tanah mereka sendiri. Jangan sampai pembangunan mengorbankan nilai kemanusiaan yang paling fundamental.
Semua pihak, termasuk TNI/Polri dan TPNPB, adalah manusia yang memiliki hak untuk hidup. Pemerintah pusat dan daerah dituntut untuk segera mencari solusi penyelesaian konflik, bukan hanya berdiam diri di atas pertumpahan darah.
Kronologi Kejadian di Sekolah Yakpesmi Yahukimo (2 Februari 2026)
Berdasarkan laporan aparat, pada Senin, 2 Februari 2026, sekitar pukul 09.30-10.45 WIT, terjadi insiden kekerasan di Sekolah Yakpesmi Yahukimo. Kelompok OPM Kodap XVI Yahukimo diduga menjadi pelaku penganiayaan berat terhadap Sdr Frengki hingga meninggal dunia. Selain itu, kendaraan R4 milik Kepala Sekolah Yakpesmi, Sem Wakla, dan kaca ruang kelas sekolah juga mengalami kerusakan akibat lemparan batu.
Kronologi Kejadian:
- Sekitar pukul 09.30 WIT, terdengar satu kali tembakan dari arah belakang sekolah.
- Korban, Sdr Frengki, yang sedang bekerja, berlari menuju ruang guru dan dikejar oleh tiga orang pelaku.
- Ketiga pelaku memaksa masuk ke ruang guru dan melakukan penganiayaan terhadap korban menggunakan senjata tajam, yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
- Setelah itu, pelaku merusak mobil milik kepala sekolah dan kaca ruang kelas.
- Pukul 09.35 WIT, kejadian dilaporkan ke Polres Yahukimo.
- Aparat gabungan kepolisian segera bergerak menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP).
- Setelah tiba di lokasi, aparat melakukan pengamanan dan pemeriksaan terhadap korban.
- Jenazah korban kemudian dibawa ke RSUD Dekai untuk proses identifikasi.
Kerugian:
- Personel: Sdr Frengki meninggal dunia akibat luka senjata tajam.
- Materiil: Kaca belakang mobil Toyota Calya milik Sem Wakla pecah, serta kaca ruang kelas Sekolah Yakpesmi Yahukimo rusak akibat lemparan batu.
Keterangan Tambahan:
- Saat kejadian, aktivitas belajar mengajar sedang berlangsung. Guru segera mengamankan siswa.
- Pelaku yang masuk ke ruang guru diduga membawa HP, kapak, dan senjata tajam jenis pisau.
- Korban Frengki telah bekerja di Sekolah Yakpesmi sejak Desember 2025.
TNI/POLRI: Laporan Informasi Versi Aparat
Laporan Informasi: Penganiayaan Berat dan Perusakan di Sekolah Yakpesmi Yahukimo
Bidang: Idiologi
Perihal: Penganiayaan Berat Terhadap Sdr Frengki, Pengrusakan Kendaraan R4 Milik Sem Wakla (Kepala Sekolah Yakpesmi) Dan Pengrusakan Kaca Ruang Kelas Sekolah Yakpesmi Yahukimo Oleh Kelompok OPM Kodap XVI Yahukimo.
Sumber: Langsung
I. FAKTA-FAKTA:
- Kejadian: Pada hari Senin, 2 Februari 2026, pukul 09.30 – 10.45 WIT, di Sekolah Yakpesmi Yahukimo, Jln Seradala, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan.
- Pelaku: Kelompok OPM Kodap XVI Yahukimo pimpinan Elkius Kobak (Pangkodap XVI Yahukimo).
Tindakan: Penganiayaan berat terhadap Sdr Frengki hingga meninggal dunia, pengrusakan kendaraan R4 Toyota Calya milik Sem Wakla (Kepala Sekolah Yakpesmi), dan pengrusakan kaca ruang kelas Sekolah Yakpesmi Yahukimo akibat lemparan batu.
Identitas Korban dan Saksi:
- Korban:
- Nama: Frengki
- Umur: 55 tahun
- Suku: Toraja
- Agama: Kristen
- Alamat: Jln Baliem, Distrik Dekai, Kab.Yahukimo
- Saksi:
- Nama: Dason Wakla
- Umur: 23 tahun
- Suku: Unaukam
- Agama: Kristen
- Pekerjaan: Guru Yakpesmi Yahukimo
- Alamat: Jln Seradala, Distrik Dekai, Kab.Yahukimo
- Nama: Sem Wale
- Umur: 44 tahun
- Suku: Unaukam
- Agama: Kristen
- Pekerjaan: Kepala Sekolah Yakpesmi Yahukimo
- Alamat: Jln Seradala
- Nama: Dason Wakla
- Korban:
Kronologis Kejadian:
- Pukul 09.30 WIT: Saksi Dason Wakla mendengar bunyi tembakan dari arah belakang sekolah.
- Korban Frengki berlari dari depan ruang kelas menuju ruang guru, dikejar oleh 3 pelaku.
- Pukul 09.33 WIT: Pelaku masuk ke ruang guru, menghalangi saksi Dason Wakla, dan melakukan pemarangan terhadap korban hingga meninggal dunia.
- Pelaku melarikan diri, merusak kendaraan R4 milik Sem Wale, dan merusak kaca ruang kelas.
- Pukul 09.35 WIT: Sem Wale melaporkan kejadian ke Polres Yahukimo.
- Pukul 09.40 WIT: Aparat Gabungan Kepolisian bergerak menuju TKP.
- Pukul 09.46 WIT: Aparat tiba di lokasi, melakukan pengamanan, dan memeriksa korban.
- Pukul 10.08 WIT: Jenazah korban diangkat ke kendaraan Polres Yahukimo.
- Pukul 10.10 WIT: Proses identifikasi oleh Satreskrim Polres Yahukimo.
- Pukul 10.30 WIT: Aparat membawa jenazah menuju RSUD Dekai.
- Pukul 10.45 WIT: Jenazah tiba di Ruang Jenazah RSUD Dekai.
Kerugian Personel dan Materiil:
- Personel: Korban a.n Frengki meninggal dunia.
- Materiil: Kendaraan R4 Toyota Calya dengan nopol DD 1684 TI milik Sem Wale mengalami pecah kaca belakang akibat lemparan batu.
Keterangan Lain:
- Saat kejadian, siswa dan guru mengamankan diri. Siswa dipulangkan setelah pelaku meninggalkan lokasi.
- Pelaku membawa HP, kapak, dan senjata tajam jenis pisau.
- Korban Frengki bekerja sebagai pembuat meja dan kursi di sekolah tersebut.
II. CATATAN:
- Penganiayaan berat dan perusakan ini dilakukan oleh Kelompok OPM Kodap XVI Yahukimo sebagai upaya menunjukkan eksistensi dan mencari korban dari kalangan Aparat TNI-Polri maupun masyarakat pendatang.
- Perlu diantisipasi bahwa Kelompok OPM Kodap XVI Yahukimo akan terus melakukan aksi gangguan keamanan dengan mengincar aparat maupun masyarakat pendatang yang sendirian dan berada di tempat terpencil.
Demikian laporan ini disampaikan, mohon petunjuk lebih lanjut.
TPNPB: Pernyataan Sikap Kodap XVI Yahukimo
Siaran Pers: TPNPB Kodap XVI Yahukimo Tembak Mati Agen Intelijen dan Beri Peringatan untuk Warga Imigran Indonesia
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB
Per Senin, 2 Februari 2026
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB telah menerima laporan resmi dari Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka. Sejak kemarin hingga hari ini, pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo dari berbagai batalyon telah berhasil menembak mati empat orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang menyamar sebagai guru, termasuk Orang Asli Papua.
Tindakan ini dilakukan karena seluruh agen intelijen militer Indonesia telah melewati batas zona merah atau wilayah perang di Yahukimo dan mengabaikan peringatan TPNPB terkait pemberhentian aktivitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, kantor, dan aktivitas sopir.
Mayor Kopitua Heluka menegaskan bahwa seluruh sekolah, rumah sakit, dan kantor terpaksa ditutup dan dieksekusi karena banyak data yang diterima menunjukkan adanya penyusupan anggota BIN. Oleh karena itu, TPNPB kembali mengimbau seluruh warga imigran Indonesia dan Orang Asli Papua yang bekerja sama dengan negara Indonesia untuk segera keluar dari Yahukimo. Anggota BIN direkrut dari berbagai kalangan, termasuk guru, tenaga kesehatan, ASN, dan pedagang. TPNPB siap mengeksekusi mati jika ditemukan di jalan.
TPNPB juga mengimbau seluruh imigran Indonesia untuk tidak tinggal di Yahukimo karena tidak ada jaminan keamanan dari aparat militer Indonesia. Segera kembali ke kampung halaman masing-masing karena pasukan TPNPB Kodap XVI Yahukimo sedang melakukan operasi di wilayah perang.
Mayor Kopitua Heluka dan seluruh pasukan TPNPB menegaskan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa TPNPB Kodap XVI Yahukimo tidak akan pernah mundur dalam medan perang demi merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua. Seluruh aktivitas sipil harus ditutup untuk menghindari korban jiwa.
Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB juga menyampaikan kepada komunitas internasional dan PBB agar mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menyelesaikan sengketa politik dan konflik bersenjata antara TPNPB dengan pemerintah Indonesia. Mengingat kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan perdamaian dunia, ia diharapkan dapat membuka diri untuk duduk berunding dengan orang Papua. Konflik bersenjata dan operasi militer Indonesia telah menyebabkan ribuan warga sipil tewas dan ratusan ribu orang mengungsi.
Demikian Siaran Pers Ke II Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB Per Senin, 2 Januari 2026 oleh Sebby Sambom, Jubir TPNPB OPM.
Terima kasih atas kerja sama yang baik.
Penanggung Jawab Nasional Komando Markas Pusat Komando Nasional TPNPB-OPM:
* Jenderal Goliath Tabuni (Panglima Tinggi TPNPB-OPM)
* Letnan Jenderal Melkisedek Awom (Wakil Panglima TPNPB-OPM)
* Mayor Jenderal Terianus Satto (Kepala Staf Umum TPNPB-OPM)
* Mayor Jenderal Lekkagak Telenggen (Komandan Operasi Umum TPNPB-OPM)
WAMENA, 04 FEBRUARI 2026
Oleh: Theo Hesegem (Pembela HAM di Papua, Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Ketua Forum Pemberantasan Minuman Keras dan Narkoba Provinsi Papua Pegunungan).





