Pencarian ATR Jatuh di Maros: 400+ Personel Gabungan Dikerahkan

Operasi Pencarian Intensif Pesawat Diduga Jatuh di Maros Libatkan Ratusan Personel

Maros, Sulawesi Selatan – Upaya pencarian pesawat jenis ATR yang diduga jatuh di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terus diintensifkan dengan mengerahkan lebih dari 400 personel gabungan. Operasi besar-besaran ini melibatkan berbagai unsur dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), serta berbagai elemen masyarakat dan potensi SAR lainnya.

Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa pengerahan ratusan personel ini bertujuan untuk mempercepat dan memaksimalkan proses pencarian. Hingga saat ini, lokasi pasti jatuhnya pesawat yang dilaporkan membawa 11 orang tersebut belum dapat dipastikan.

“Untuk saat ini, personel yang terdaftar dan terlibat dalam tim SAR gabungan mencapai 476 orang,” ujar Andi Sultan. “Mereka berasal dari berbagai institusi seperti TNI, Polri, pemerintah daerah, instansi terkait lainnya, serta mahasiswa dan potensi SAR yang ada di Sulawesi Selatan.”

Peralatan Canggih dan Strategi Sektor untuk Maksimalkan Pencarian

Dalam mendukung kelancaran operasi di lapangan, tim SAR gabungan telah menyiapkan sejumlah peralatan khusus yang dirancang sesuai dengan kondisi medan pencarian yang dikenal sulit, berbukit, dan memiliki jurang. Peralatan ini disiagakan untuk mengantisipasi kebutuhan evakuasi jika titik jatuh pesawat berhasil ditemukan dengan aman.

“Kami juga membawa peralatan ekstraksi yang siap digunakan jika dibutuhkan, dan akan segera dijatuhkan ke lokasi,” jelas Andi. “Untuk komunikasi, kami mengandalkan Handy Talky (HT) dengan bantuan repeater yang sudah terpasang. Sebagai cadangan, kami juga membawa Starlink Portable untuk memastikan kelancaran komunikasi.”

Untuk memaksimalkan efektivitas pencarian, tim SAR gabungan telah membagi area pencarian menjadi lima sektor kerja yang telah ditentukan. Pembagian ini dilakukan agar penyisiran dapat berjalan lebih terfokus, sistematis, dan efisien, mengingat luasnya area pencarian yang memiliki kontur geografis yang menantang.

“Tim dibagi menjadi lima sektor, yaitu sektor A, B, C, D, dan E. Tim pertama sudah dilepas oleh Bapak Danrem untuk memulai pergerakan,” tambah Andi Sultan.

Temuan Awal dan Penantian Hasil Analisis KNKT

Terkait temuan awal di lapangan, Andi Sultan mengungkapkan adanya dugaan serpihan-serpihan yang ditemukan. Namun, ia menekankan bahwa pihaknya belum dapat memastikan secara definitif apakah temuan tersebut benar-benar berasal dari pesawat.

“Mengenai serpihan-serpihan yang ditemukan, kami belum bisa memastikan 100% bahwa itu adalah bagian dari pesawat,” katanya. “Namun, dari tanda-tanda yang ada, sudah ada ciri yang sedikit mengarah ke sana. Keputusan akhir mengenai identifikasi serpihan ini akan menunggu hasil analisis dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).”

Sebelumnya, sebuah pesawat jenis ATR milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat dalam penerbangan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu (17/1). Pesawat tersebut dilaporkan kehilangan komunikasi ketika berada di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Informasi yang beredar menyebutkan bahwa pesawat hilang kontak sekitar pukul 13.17 Waktu Indonesia Tengah (Wita), di area sekitar perbatasan antara Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Pesawat yang melayani rute Yogyakarta–Makassar ini diperkirakan membawa total 11 orang di dalamnya, terdiri dari delapan awak kabin dan tiga penumpang. Upaya pencarian terus berlanjut dengan harapan segera menemukan titik terang mengenai keberadaan pesawat dan para penumpangnya.

Pos terkait