Upaya Pencarian Korban Jatuh dari Kapal SB Karunia Jaya di Perairan Karimun Terus Berlanjut
Tim SAR gabungan terus berupaya keras dalam pencarian seorang penumpang kapal SB Karunia Jaya yang dilaporkan terjatuh ke laut di perairan depan Coastal Area, Tanjung Balai Karimun. Peristiwa nahas ini terjadi pada Minggu, 8 Juni 2026, sekitar pukul 00.15 WIB. Korban yang diketahui bernama Ationg, seorang pria, hingga kini belum berhasil ditemukan.
Pencarian memasuki hari ketiga pada Sabtu, 7 Maret 2026, namun belum membuahkan hasil. Operasi pencarian pada hari tersebut dimulai sejak pukul 07.30 WIB. Untuk memaksimalkan area pencarian, tim SAR gabungan membagi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU). Luas area pencarian diperluas dari sebelumnya 30 mil laut (NM) menjadi sekitar 35 mil laut.
SRU 1 bertugas menyisir perairan di sepanjang pesisir Coastal Area, sementara SRU 2 fokus melakukan pencarian di sekitar perairan Pulau Parit, Karimun. Selain itu, Stasiun Radio Operasi Pantai (SROP) Tanjung Balai Karimun secara berkelanjutan melakukan siaran dan koordinasi keselamatan kepada kapal-kapal yang melintas di sekitar lokasi kejadian kecelakaan untuk meningkatkan kewaspadaan dan meminta bantuan informasi.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Tanjungpinang, Fazzli, menjelaskan bahwa hingga akhir hari ketiga pencarian, belum ada tanda-tanda keberadaan korban. “Hingga pukul 17.30 WIB masih nihil hasilnya. Oleh karena itu, pencarian kami hentikan sementara untuk melakukan pemantauan dan evaluasi Operasi SAR hari ketiga, serta menyusun perencanaan untuk Operasi SAR hari keempat yang akan dimulai kembali pukul 07.30 WIB,” ujar Fazzli pada Sabtu lalu.
Unsur SAR yang terlibat dalam operasi pencarian ini terdiri dari berbagai instansi, menunjukkan sinergi yang kuat dalam upaya kemanusiaan. Pihak-pihak yang tergabung antara lain:
- Kantor Pencarian dan Pertolongan Tanjungpinang
- Pos SAR Tanjung Balai Karimun
- Lanal Pulau Buru
- Unit Patroli Airud Polres Tanjung Balai Karimun
- Unit Patroli Airud Polda Kepulauan Riau
- Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP)
- Agen Kapal SB Karunia Jaya
- Para Nelayan setempat
Tim SAR gabungan mengimbau kepada seluruh masyarakat yang beraktivitas di perairan Tanjung Balai Karimun untuk segera melaporkan jika menemukan atau melihat keberadaan korban. Informasi sekecil apapun dapat sangat membantu kelancaran operasi pencarian.
Kronologi Kejadian: Hilang di Tengah Pelayaran
Peristiwa tragis ini bermula pada Kamis, 5 Maret 2026, dini hari, sekitar pukul 00.15 WIB. Korban, Ationg, merupakan penumpang kapal charter yang berangkat dari Pulau Buru dengan tujuan akhir Tanjung Balai Karimun.
Pihak berwenang menerima laporan mengenai kejadian ini pada pukul 00.40 WIB. Laporan tersebut menginformasikan adanya kecelakaan kapal yang mengakibatkan satu orang jatuh ke laut atau dalam istilah pelayaran dikenal sebagai Man Over Board (MOB). Setelah menerima laporan, tim SAR segera bergerak cepat untuk menentukan koordinat lokasi kejadian guna memulai upaya pencarian.
Menurut informasi yang dihimpun, kapal SB Karunia Jaya saat itu sedang dalam pelayaran sesuai rute charter dari Pulau Buru menuju Tanjung Balai Karimun. Ketika melintasi perairan Coastal Area, korban diketahui terjatuh ke laut dan dinyatakan hilang.
Tim gabungan yang terdiri dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Tanjungpinang, Pos SAR Tanjung Balai Karimun, serta perwakilan dari pihak kapal SB Karunia Jaya, segera turun ke lokasi kejadian untuk melakukan pencarian awal.
Fazzli menambahkan bahwa proses pencarian terus dilakukan secara intensif dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi arus laut dan cuaca di perairan Tanjung Balai Karimun yang dapat berubah sewaktu-waktu.
“Pencarian kami lakukan secara maksimal bersama dengan seluruh unsur SAR gabungan. Kami juga terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait serta memantau perkembangan situasi di lapangan untuk memastikan setiap langkah yang diambil efektif,” pungkasnya.
Upaya pencarian yang melibatkan berbagai unsur ini menunjukkan komitmen kuat untuk menemukan korban dan memberikan kepastian bagi keluarga yang menanti. Koordinasi yang baik antar instansi menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi situasi darurat seperti ini. Masyarakat diharapkan dapat memberikan dukungan informasi jika memiliki petunjuk yang relevan.






