Penjual Pinang Yahukimo Ditusuk Terduga Separatis

Serangan Kekerasan Berlanjut di Papua: Warga Pendatang Kembali Menjadi Korban

Papua kembali diguncang oleh serangkaian insiden kekerasan yang menargetkan warga pendatang. Kelompok-kelompok bersenjata terus menebar teror, menciptakan ketidakamanan di berbagai wilayah. Peristiwa terbaru terjadi pada Rabu (18/2/2026), ketika Satuan Tugas (Satgas) Operasi Damai Cartenz melaporkan adanya penikaman terhadap seorang perempuan berinisial EK (33 tahun) asal Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden ini berlangsung di kompleks pasar Distrik Dekai, Yahukimo, Papua Pegunungan, saat EK sedang berjualan pinang.

Kepala Satgas Damai Cartenz, Brigadir Jenderal (Brigjen) Faizal Ramadhani, menjelaskan melalui siaran pers bahwa korban EK mengalami dua luka tusukan di bagian pundak kanan. Peristiwa penikaman ini terjadi pada Selasa (17/2/2026). EK, yang dikenal sebagai perempuan pendatang, mencari nafkah di Kompleks Ruko Bloka A, Dekai, dengan berdagang pinang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Ia dikenal oleh warga sekitar sebagai sosok yang ramah.

Menurut keterangan Brigjen Faizal, insiden penikaman bermula ketika EK sedang melayani dua orang pria yang hendak membeli buah pinang. Kedua pelaku datang menggunakan sepeda motor matik dari arah jalan raya dan berhenti tepat di samping lapak jualan korban. Kejadian ini menjadi lebih mengejutkan karena EK ternyata mengenali fisik salah satu dari kedua pelaku tersebut, yang kerap membeli pinang di tempatnya. Karena merasa kenal, EK tidak merasa curiga sedikit pun.

Namun, tanpa peringatan, kedua pria tersebut secara tiba-tiba melakukan penyerangan. “Tanpa ada bicara, pelaku mendekati korban dan secara tiba-tiba mengeluarkan pisau. Dalam hitungan detik, pelaku menikam korban sebanyak dua kali di bagian pundak kanan,” ujar Brigjen Faizal. EK tidak mampu melawan dan setelah melakukan aksinya, kedua pelaku langsung kabur menggunakan sepeda motor.

Meskipun selamat dari serangan brutal itu, EK segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dekai untuk mendapatkan perawatan medis intensif atas luka tusukan benda tajam yang dideritanya. Menanggapi laporan ini, Satgas Damai Cartenz segera menerjunkan personel untuk melakukan investigasi mendalam.

Upaya Penyelidikan dan Dugaan Keterlibatan KKB

Satgas Damai Cartenz, bersama dengan tim bantuan dari Brigade Mobil (Brimob) Polda Papua, tidak tinggal diam. Mereka langsung melakukan penyisiran di area sekitar lokasi kejadian untuk memburu para pelaku penikaman. Berdasarkan keterangan saksi-saksi mengenai ciri-ciri fisik pelaku penyerangan, aparat kepolisian menduga kuat adanya keterkaitan antara insiden ini dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Dugaan ini semakin menguat mengingat serangkaian aksi kekerasan lain yang terjadi di wilayah Yahukimo dalam beberapa waktu terakhir, yang diduga kuat dilakukan oleh kelompok yang sama. Brigjen Faizal Ramadhani mengungkapkan bahwa sebelum peristiwa penikaman EK, pada Sabtu (14/2/2026), terjadi aksi pembakaran ruko-ruko di Kompleks Ruko Blok A. Pada hari yang sama, dilaporkan pula sekelompok orang melakukan pembakaran di sebuah bangunan sekolah dan fasilitas medis. Meskipun sebuah mobil ambulans yang berada di dekat sarana kesehatan sempat terbakar, api berhasil dipadamkan. Dari kejadian pembakaran tersebut, pihak kepolisian sempat menangkap dua orang terduga pelaku berinisial GW dan EH.

Rentetan Serangan di Yahukimo

Masih di Kabupaten Yahukimo, rentetan aksi kekerasan oleh kelompok bersenjata tidak berhenti di situ. Pada Kamis (12/2/2026), sebuah insiden penyerangan kembali terjadi. Kali ini, kelompok bersenjata menembaki sebuah truk tangki yang sedang membawa air bersih dari Jalur Poros Dekai menuju Lopon. Akibat serangan tersebut, sopir dan kondektur truk tangki mengalami luka tembak. Namun, keduanya berhasil selamat. Sopir truk tangki dengan sigap tetap mengemudikan kendaraannya untuk mencari perlindungan dan menyelamatkan diri. Kedua korban luka tembak tersebut segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Serangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa situasi keamanan di Papua, khususnya di wilayah Yahukimo, masih sangat mengkhawatirkan. Warga pendatang terus menjadi sasaran empuk dari aksi-aksi brutal yang dilakukan oleh kelompok-kelompok bersenjata, menimbulkan ketakutan dan kerugian yang mendalam bagi masyarakat. Upaya penegakan hukum dan penanganan situasi keamanan di wilayah tersebut menjadi prioritas utama untuk mengembalikan ketenangan dan rasa aman bagi seluruh warga.

Pos terkait