Penyebab Arus Balik: Penjelasan Menhub

Kepadatan Arus Balik Lebaran: Rekayasa Lalu Lintas dan Antisipasi Hambatan di Rest Area

Momen Idulfitri selalu diiringi dengan tradisi mudik dan arus balik yang membludak. Tahun ini, sejumlah pengguna jalan melaporkan adanya kepadatan signifikan saat perjalanan kembali ke kota-kota besar, terutama Jakarta. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengklarifikasi bahwa kepadatan yang terjadi pada Jumat pagi bukan disebabkan oleh lonjakan volume kendaraan yang melampaui prediksi, melainkan akibat hambatan di beberapa titik area peristirahatan atau rest area.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah, bekerja sama dengan Korps Lalu Lintas (Korlantas) Kepolisian Republik Indonesia, untuk segera memberlakukan skema rekayasa lalu lintas one way sepenggal. Tujuannya adalah untuk mengurai perlambatan arus kendaraan yang menuju Jakarta. Dudy menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan di lapangan, jumlah kendaraan (traffic counting) masih bergerak sesuai dengan proyeksi yang telah ditetapkan. Namun, penumpukan kendaraan di area rest area menjadi pemicu utama gangguan kelancaran arus di beberapa ruas utama Jalan Tol Trans Jawa.

“Perhitungan lalu lintas (traffic counting) sebenarnya masih sesuai dengan prediksi, tidak terlalu tinggi. Namun demikian, karena ada hambatan di beberapa ruas, khususnya di rest area, maka terjadilah kepadatan,” ujar Menteri Perhubungan di Command Center Korlantas Polri KM 29, Cikampek, pada Jumat (27/3/2026).

Pemerintah telah melakukan antisipasi matang terhadap arus balik melalui rapat koordinasi lintas instansi dan penerapan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang mengatur lalu lintas selama periode mudik dan balik Lebaran 2026. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah rekayasa lalu lintas one way sepenggal untuk meredam antrean kendaraan dari arah timur menuju Jakarta.

Menteri Perhubungan mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan mereka dengan lebih matang. Para pemudik disarankan untuk memanfaatkan saluran informasi digital yang tersedia guna menghindari terjebak di rest area yang sedang padat atau tidak sesuai dengan kebutuhan perjalanan mereka.

Skema One Way Bertahap dan Potensi Perluasan

Kepala Korlantas Polri, Inspektur Jenderal Polisi Agus Suryonugroho, memaparkan bahwa skema one way tahap pertama diberlakukan mulai dari Kilometer (KM) 132 hingga KM 70 sejak pukul 07.30 WIB. Rekayasa ini diprioritaskan untuk kendaraan dari arus balik yang melintasi Tol Trans Jawa dan mulai mengalami perlambatan pada pagi hari.

Agus menjelaskan bahwa pola pengaturan arus lalu lintas tidak dilakukan secara serentak, melainkan disusun secara bertahap sesuai dengan bangkitan arus kendaraan di lapangan. Jika pergerakan kendaraan kembali meningkat pada siang hingga sore hari, Korlantas telah menyiapkan perluasan skema one way. Perluasan ini bisa mencakup rute dari KM 169 hingga KM 70, lalu KM 188 hingga KM 70, bahkan hingga KM 263 jika memang dibutuhkan.

“Pagi ini jam 07.30 kami sudah melakukan sosialisasi langsung clear, sehingga kami melakukan one way tahap pertama dari kilometer 132 ke kilometer 70. Ini tahap pertama,” kata Agus.

Korlantas juga membuka peluang penerapan one way nasional. Keputusan ini akan diambil jika indikator jumlah kendaraan di Gerbang Tol Kalikangkung terus meningkat hingga mendekati 4.000 kendaraan. Pengawasan arus balik tidak hanya difokuskan pada kendaraan dari Tol Trans Jawa, tetapi juga mencakup arus dari Jawa Barat, Banten, serta kendaraan dari Trans Sumatera yang masuk ke Pulau Jawa melalui Cikupa.

Data Jasa Marga: Jutaan Kendaraan Telah Kembali ke Jakarta

PT Jasa Marga mencatat bahwa hingga Jumat pagi pukul 06.00 WIB, arus kendaraan yang masuk ke Jakarta telah mencapai 2,3 juta kendaraan. Angka ini merepresentasikan sekitar 69 persen dari total proyeksi arus balik Lebaran tahun ini.

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan Achmad Purwantono, mengungkapkan bahwa pola pergerakan kendaraan pada periode 24 hingga 26 Maret masih sejalan dengan prediksi yang telah dibuat. Untuk hari Jumat ini, volume kendaraan diperkirakan mencapai 183 ribu unit, kemudian meningkat lagi menjadi sekitar 200 ribu unit, dan berpotensi menyentuh angka 250 ribu kendaraan pada hari Minggu.

“Dari data yang dimiliki oleh Jasa Marga sampai dengan pagi tadi jam 06.00, sudah memasuki Jakarta kendaraan sebesar 2,3 juta kendaraan, artinya sudah 69 persen,” ujar Rivan.

Rivan menambahkan bahwa titik-titik rest area yang paling banyak memicu kepadatan adalah di KM 229, KM 208, dan KM 164. Untuk mengatasi penumpukan kendaraan di area tersebut, Jasa Marga telah menyiapkan opsi penggunaan rest area alternatif, baik sebelum maupun sesudah titik-titik rawan kepadatan.

  • Rest Area 62B dan 52B: Kedua area peristirahatan ini akan dikelola dengan skema buka-tutup yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan untuk mengoptimalkan aliran kendaraan.
  • Akumulasi Kendaraan di KM 66: Hingga pagi tadi, akumulasi kendaraan di sekitar KM 66 telah mencapai 1 juta kendaraan, yang setara dengan sekitar 45 persen dari total pergerakan arus balik.

Jasa Marga mengimbau para pemudik untuk memanfaatkan aplikasi Travoy. Aplikasi ini dapat digunakan untuk memantau kepadatan lalu lintas, menemukan lokasi rest area, serta memeriksa ketersediaan fasilitas penting seperti Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Imbauan ini sangat penting agar pemudik dapat mengatur waktu berhenti mereka dengan lebih baik dan menghindari antrean panjang yang dapat memperlambat perjalanan.

Larangan Operasional Kendaraan Logistik

Di tengah upaya pengaturan arus balik ini, pemerintah kembali mengingatkan para pelaku usaha logistik. Sesuai dengan ketentuan dalam SKB, kendaraan dengan sumbu tiga ke atas dilarang beroperasi hingga tanggal 29 Maret 2026. Langkah ini diambil untuk menjaga keselamatan para pemudik dan membantu kelancaran arus kendaraan, baik di jalan tol maupun di jalur arteri.

Pos terkait