Perang Israel-Iran: 2 Kapal Pertamina Tertahan di Hormuz, Bahlil: Bukan Masalah

Ketegangan geopolitik global mencapai titik krusial dengan memanasnya situasi di Timur Tengah, memicu kekhawatiran akan dampak luas terhadap stabilitas internasional dan pasokan energi dunia. Puncak ketegangan ini terjadi menyusul serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Insiden ini tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur vital dan korban sipil, tetapi juga mengguncang struktur kepemimpinan tertinggi Iran.

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran dan Reaksi Internasional

Dalam peristiwa yang mengejutkan dunia, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas. Jasadnya ditemukan di kompleks kediamannya di Teheran. Kabar kematian Khamenei kemudian dikonfirmasi melalui unggahan di platform media sosial oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump tidak ragu melontarkan penilaian pedas terhadap figur Khamenei, menyebutnya sebagai salah satu sosok paling jahat dalam sejarah. Pernyataan ini semakin mempertegas eskalasi konflik dan ketegangan yang ada.

Dampak dari pecahnya konflik terbuka antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya terbatas pada kawasan Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur transit minyak vital bagi perdagangan global, oleh Iran, menimbulkan kekhawatiran serius. Penutupan ini berpotensi mengganggu pasokan energi dunia dan memicu volatilitas harga minyak secara global.

Dampak bagi Indonesia dan Upaya Mitigasi

Situasi global yang memanas ini tentu saja membawa implikasi bagi Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, angkat bicara mengenai nasib dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang dilaporkan terjebak di Selat Hormuz. Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) tengah berupaya keras melalui jalur diplomasi untuk membebaskan kapal-kapal yang mengangkut minyak mentah tersebut.

“Kami sedang berupaya melalui diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” ujar Menteri Bahlil dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada Selasa, 3 Maret 2026.

Menteri Bahlil juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk. Jika kedua kapal tersebut tidak dapat dikeluarkan dari wilayah konflik, maka Indonesia akan mencari alternatif sumber minyak mentah dari wilayah yang pengirimannya tidak melewati Selat Hormuz. Langkah ini diambil untuk memastikan pasokan energi nasional tetap aman di tengah gejolak global.

“Andai pun itu tidak dikeluarkan, kita sudah mencari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan sudah dapat. Jadi saya pikir itu tidak menjadi sesuatu problem, bukan sesuatu masalah yang sangat penting,” tegasnya.

Sebagai bagian dari strategi mitigasi, pemerintah berencana untuk mengalihkan seluruh impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Saat ini, sekitar 25 persen dari total impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah. Sisanya dipasok dari negara-negara lain seperti Angola di Afrika, Amerika Serikat, dan Brasil.

Pengalihan impor ini juga menjadi bagian dari kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat. Dalam kesepakatan ini, Indonesia berkomitmen untuk membeli produk energi senilai 15 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 253 triliun.

Ketidakpastian Durasi Konflik

Menteri Bahlil menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan kajian mendalam dan menjalin komunikasi dengan berbagai negara terkait dinamika global yang sedang terjadi. Berdasarkan kajian internal dan informasi intelijen yang diterima, durasi ketegangan di Timur Tengah masih sulit diprediksi secara pasti. Ada kemungkinan konflik bisa selesai dengan cepat, namun tidak menutup kemungkinan justru sebaliknya.

“Sekalipun informasi disampaikan bahwa ketegangan ini akan selesai dalam waktu ada yang mengatakan 5 hari, ada 4 minggu. Tapi keyakinan kami, setelah melakukan kajian, ini tidak akan bisa kita ramalkan kapan selesai. Bisa cepat, bisa lambat,” jelasnya.

Pemantauan Intensif Armada PIS di Timur Tengah

PT Pertamina International Shipping (PIS) terus melakukan pemantauan intensif terhadap seluruh armada dan keselamatan pekerjanya yang berada di kawasan Timur Tengah. Saat ini, terdapat empat kapal PIS yang beroperasi di wilayah tersebut:

  • Kapal Gamsunoro: Sedang dalam proses pemuatan di Khor al Zubair, Irak.
  • Kapal Pertamina Pride: Telah menyelesaikan proses pemuatan dan saat ini berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi. Kapal ini berada di bawah manajemen NYK.
  • Kapal PIS Rinjani: Saat ini berlabuh di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab.
  • Kapal PIS Paragon: Sedang dalam proses bongkar muat di Oman.

Dua kapal yang masih berada di dalam area Teluk adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro. Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan bahwa tim armada perusahaan terus menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan kru serta kapal. Pemantauan situasi dilakukan selama 24 jam penuh.

“Saat ini, tim armada kami tengah menjalin komunikasi intens dengan pihak pengelola untuk koordinasi dan memastikan keselamatan para kru dan kapal,” ujar Vega dalam keterangan tertulis pada Senin, 2 Maret 2026.

Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari semua pihak, baik pemerintah maupun pelaku industri, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pos terkait