Ratusan Karyawan Google dan OpenAI Bersatu Menentang Penggunaan AI dalam Perang
Dukungan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat, ternyata tak luput dari kontroversi. Kekhawatiran mendalam muncul dari para tenaga ahli di balik pengembangan AI itu sendiri. Sebanyak 957 karyawan dari dua raksasa teknologi, Google dan OpenAI, baru-baru ini menandatangani sebuah surat terbuka yang tegas menolak penggunaan AI dalam konteks peperangan. Inisiatif ini muncul sebagai respons atas laporan yang menyebutkan bahwa model bahasa besar (LLM) Claude, yang dikembangkan oleh Anthropic, diduga telah digunakan oleh militer Amerika Serikat dalam operasi militer di Iran.
Surat yang diberi judul ‘Kita Tidak Akan Terpecah Belah’ ini, ditandatangani oleh 857 karyawan Google dan 100 pegawai OpenAI pada Rabu (4/3) pukul 8.20 WIB. Dokumen tersebut secara spesifik menyoroti tindakan Departemen Pertahanan (DoD) atau Pentagon yang dilaporkan memasukkan Anthropic ke dalam daftar hitam. Keputusan ini diambil setelah Anthropic menyatakan keberatan terhadap potensi penggunaan teknologi mereka untuk pengawasan penduduk secara massal atau pengembangan senjata otonom sepenuhnya.
Para penandatangan surat tersebut mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap strategi yang dianggap mencoba memecah belah perusahaan-perusahaan teknologi. “Mereka mencoba untuk memecah belah setiap perusahaan karena takut perusahaan lain akan menyerah,” bunyi surat itu. “Strategi itu hanya berhasil jika kita tidak tahu di mana posisi perusahaan lain. Surat ini bertujuan untuk menciptakan pemahaman bersama dan solidaritas dalam menghadapi tekanan dari Departemen Perang.”
Lebih lanjut, surat terbuka ini menyerukan agar Kongres Amerika Serikat melakukan pemeriksaan mendalam mengenai penggunaan kewenangan luar biasa yang diberikan kepada perusahaan teknologi Amerika. Mereka juga mendesak agar Anthropic dan perusahaan swasta lainnya tidak dihukum atas penolakan mereka untuk mematuhi tuntutan pemerintah yang berpotensi disalahgunakan.
Latar Belakang Ketegangan Penggunaan AI dalam Militer
Ketegangan di sektor teknologi terkait isu militer telah memanas selama berbulan-bulan. Salah satu pemicunya adalah meningkatnya agresivitas agen imigrasi dari Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE), termasuk insiden tragis pembunuhan dua warga negara Amerika di Minnesota pada awal tahun ini. Para pekerja di industri teknologi menuntut transparansi yang lebih besar mengenai keterlibatan perusahaan mereka dengan pemerintah, khususnya terkait kontrak komputasi awan dan pengembangan kecerdasan buatan.
Bagi Google, gelombang protes kali ini datang di saat perusahaan tersebut dilaporkan sedang dalam tahap negosiasi dengan Pentagon. Negosiasi ini bertujuan untuk mengintegrasikan model AI terbaru mereka, Gemini, ke dalam sistem rahasia militer. Pentagon sendiri telah meluncurkan platform AI komprehensif bernama GenAI.mil pada Desember 2025. Platform ini dirancang untuk meningkatkan kapabilitas AI di seluruh angkatan bersenjata Amerika Serikat dan berencana untuk menempatkan model AI Google Gemini langsung ke tangan setiap prajurit Amerika.
Keluhan dari para karyawan ini juga membangkitkan kembali perselisihan internal yang telah berlangsung bertahun-tahun di Google terkait keterlibatan AI dalam proyek militer. Isu-isu seperti Proyek Maven di Atas dan kolaborasi dengan Israel melalui Proyek Nimbus sebelumnya telah memicu protes serupa.
Seruan Penolakan Kolaborasi dengan Pentagon
Pada Jumat lalu, kelompok aktivis ‘No Tech For Apartheid’, yang telah lama mengkritik kesepakatan komputasi awan antara pemerintah AS dan perusahaan teknologi besar, merilis pernyataan bersama berjudul, ‘Amazon, Google, Microsoft Harus Menolak Tuntutan Pentagon’. Koalisi ini mendesak ketiga pemimpin dalam infrastruktur cloud untuk menolak persyaratan Departemen Pertahanan yang berpotensi memungkinkan pengawasan massal atau penyalahgunaan AI lainnya. Mereka juga menyerukan kejelasan yang lebih besar seputar kontrak yang melibatkan militer dan lembaga-lembaga seperti ICE.
Kelompok tersebut secara spesifik menyoroti potensi kesepakatan Pentagon dengan Google. Mereka menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut dapat meniru perjanjian yang memungkinkan Departemen Pertahanan untuk mengerahkan Grok, yang dikembangkan oleh xAI milik Elon Musk, “di lingkungan rahasia, sejauh yang kami ketahui, tanpa pengamanan apa pun.”
“Perusahaan kami sendiri juga hampir menerima persyaratan kontrak serupa,” tegas pernyataan itu. “Google sedang bernegosiasi dengan Pentagon untuk mengerahkan Gemini, model terdepan mereka sendiri, untuk penggunaan rahasia.”
Meskipun Anthropic dan OpenAI telah mengeluarkan berbagai pernyataan publik mengenai negosiasi mereka dengan Departemen Pertahanan AS dan status kontrak mereka saat ini, perusahaan induk Google, Alphabet, memilih untuk bungkam. Hingga kini, Alphabet belum memberikan tanggapan terhadap beberapa permintaan komentar mengenai isu krusial ini. Keengganan untuk berkomentar ini semakin menambah spekulasi dan kekhawatiran di kalangan karyawan dan publik mengenai arah pengembangan dan penggunaan teknologi AI.






