“Matahari dalam Tanah”: Menguak Dinamika Energi Panas Bumi Melalui Lensa Sinematik
Sebuah karya sinematik yang menggugah, film dokumenter “Matahari dalam Tanah”, telah diluncurkan sebagai medium reflektif untuk memotret kompleksitas pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Nusa Tenggara Timur (NTT). Film yang digarap oleh sineas muda NTT ini merupakan hasil kolaborasi antara PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) melalui Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusra 3, bersama Tribun EO dan Harian Pos Kupang.
Penayangan perdana film ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan penting, termasuk Senior Manager Perizinan, Pertanahan dan Komunikasi PT PLN (Persero) UIP Nusra, Bruly Victor Tarigan; Senior Manager Transmisi & Distribusi PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) NTT, Suparje Wardiyono; Manager PLN UPP Nusra 3, Agung Triwibowo; unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda); perwakilan pemerintah daerah; pimpinan media; serta para tamu undangan dan awak media.
Perjalanan Mira: Menyelami Perspektif Lokal
Disutradarai oleh Faldo Lango, “Matahari dalam Tanah” membawa penonton mengikuti perjalanan Mira (Maria Sholastika Maunino), seorang perempuan muda berdarah Timor dari Kabupaten Lembata. Kepulangannya ke kampung halaman di tengah proyek pengembangan energi panas bumi memicu keinginannya untuk memahami berbagai pandangan dan perdebatan yang berkembang di masyarakat terkait proyek tersebut.
Perjalanan Mira tidak hanya berhenti di satu titik. Ia berkelana ke Ulumbu, sebuah wilayah di Ruteng, Manggarai, yang telah lebih dulu merasakan dampak positif dari kehadiran PLTP. Di Ulumbu, terlihat jelas bagaimana anak-anak dapat belajar dengan nyaman berkat penerangan yang memadai, dan bagaimana aktivitas ekonomi masyarakat mulai menggeliat dan berkembang.
Namun, gambaran tidak selalu seragam. Saat Mira mengunjungi Mataloko, ia justru menemukan adanya kegelisahan dan keraguan di kalangan masyarakat setempat mengenai aktivitas eksplorasi panas bumi yang sedang berjalan. Melalui perbandingan antara Ulumbu dan Mataloko, serta penjelajahan hingga Atadei, film ini berhasil merangkum berbagai perspektif yang kaya dan utuh mengenai energi panas bumi, dari berbagai sudut pandang masyarakat.
Pendekatan Jurnalistik dan Sinematografi yang Inovatif
Dengan memadukan elemen jurnalistik yang mendalam dan teknik sinematografi yang memukau, “Matahari dalam Tanah” memberikan ruang bagi berbagai suara untuk didengar. Film ini menghadirkan narasi dari tokoh adat, petani, kaum perempuan, hingga anak-anak, merefleksikan pengalaman dan pandangan mereka secara otentik.
Lebih dari sekadar mendokumentasikan, film ini secara aktif membuka ruang dialog. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi bagaimana pembangunan di sektor energi hijau dapat berjalan selaras dengan pelestarian nilai-nilai tradisi lokal dan keseimbangan ekologi.
Ruang Dengar Bersama untuk Energi Terbarukan
Pimpinan Redaksi Harian Pos Kupang, Dion D.B Putra, menekankan bahwa film ini dihadirkan sebagai sebuah “ruang dengar bersama”. Ia menegaskan bahwa energi baru terbarukan merupakan suatu keniscayaan di era modern, namun implementasinya harus selalu didasarkan pada prinsip keterbukaan dan partisipasi aktif dari masyarakat.
“Film yang kita saksikan tadi adalah ruang dengar. Film ini menyerap semua suara,” ujar Dion, menggarisbawahi pentingnya mendengarkan seluruh aspirasi yang ada.
Manager PT PLN (Persero) UPP Nusra 3, Agung Triwibowo, menambahkan bahwa potensi panas bumi di NTT sangatlah besar dan perlu dikelola dengan bijaksana agar memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Ia mengakui bahwa masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan informasi yang komprehensif mengenai energi panas bumi. Oleh karena itu, film ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana edukasi dan literasi energi yang efektif.
“Ada di dalam film tadi, jangan langsung menolak, lihat dulu. Kalau perlu bandingkan dengan tempat lain yang sudah ada PLTP, apakah di sana rusak atau justru memberikan kemakmuran bagi masyarakat. Jangan langsung menolak, apabila kurang jelas silakan ditanya, kami membuka ruang dialog,” imbau Agung, mengajak masyarakat untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dan membuka diri untuk berdialog.
Senada dengan hal tersebut, Senior Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Bruly Victor Tarigan, menyampaikan bahwa pembangunan di wilayah ekologi merupakan tantangan yang tidak sederhana. Alam, menurutnya, menyimpan sejarah panjang sekaligus menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Keberhasilan pengembangan energi panas bumi sangat bergantung pada hubungan harmonis yang terjalin antara pemerintah, pihak pengembang, dan masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut.
“Kami menyadari setiap pembangunan harus dibangun di atas kepercayaan yang tumbuh dari keterbukaan, dari mendengar, dan dari kesediaan untuk terus memperbaiki diri,” tegas Bruly.
General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menegaskan bahwa peluncuran film ini merupakan manifestasi dari komitmen PLN untuk membangun komunikasi yang transparan dan partisipatif dengan seluruh elemen masyarakat.
“Melalui film ini, kami ingin menunjukkan bahwa PLN membangun ruang dialog, mendengar aspirasi, dan memastikan pembangunan energi bersih berjalan bersama kepentingan masyarakat serta kelestarian lingkungan,” ujar Rizki.
Diproduksi oleh talenta lokal NTT, dengan Executive Producer Tanto Bisilisin, Produser dan Penulis Naskah Clara Marly, serta Sutradara Faldo Lango, “Matahari dalam Tanah” menjadi bukti nyata kolaborasi yang kuat antara PLN, jajaran media, dan para insan kreatif daerah dalam upaya mendukung transisi energi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Film ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan mewujudkan energi bersih yang beriringan dengan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam.






