Tragedi di Denpasar: Pria Asal Malang Meninggal di Gudang Setelah Mengeluh Sakit
Denpasar – Sebuah insiden tragis merenggut nyawa seorang pria asal Malang, Jawa Timur, yang ditemukan meninggal dunia di kawasan Jalan Bypass Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Korban, yang diidentifikasi sebagai Dodik Praminto (51), menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 17 Februari 2026, dini hari, setelah sempat mengeluhkan rasa sakit yang hebat dan meminta pertolongan rekan kerjanya.
Peristiwa nahas ini terjadi di area Gudang PT Harapan Jaya, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur. Kronologi kejadian bermula sekitar pukul 02.00 WITA, ketika rekan korban, Dani Abdullah (66), menyaksikan Dodik Praminto keluar dari kamar mandi dengan ekspresi wajah yang menahan sakit luar biasa.
Menyadari situasi yang genting, Dani Abdullah segera mencari bantuan dari rekan kerja lainnya, Maxi (46), untuk mempersiapkan kendaraan guna mengevakuasi korban ke fasilitas kesehatan. Namun, takdir berkata lain. Ketika mereka kembali ke lokasi dengan maksud untuk membantu mengangkat tubuh korban, pria berusia 51 tahun itu telah ditemukan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Tubuhnya telah mendingin dan denyut nadinya tidak lagi terdeteksi.
“Korban sempat menghampiri Dani dan memohon bantuan untuk segera diantar ke rumah sakit karena merasa sangat kesakitan pada bagian perut dan dada, sebelum akhirnya duduk bersandar di sebuah bale kayu,” ungkap Kapolsek Denpasar Timur, Kompol I Ketut Tomiyasa, S.H., M.H. Pernyataan ini menegaskan betapa parahnya kondisi yang dialami korban sesaat sebelum ajal menjemput.
Penemuan Obat-obatan dan Dugaan Pengobatan Mandiri
Menyikapi laporan mengenai kejadian ini, pihak Polsek Denpasar Timur segera merespons. Tim Identifikasi Polresta Denpasar tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 03.00 WITA dan segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mengumpulkan bukti-bukti awal.
Dalam proses penyelidikan di lokasi, petugas menemukan sejumlah obat-obatan yang tergeletak di dekat posisi terakhir korban. Obat-obatan tersebut diduga kuat merupakan konsumsi mandiri korban dalam upayanya meredakan rasa sakit yang dideritanya. Barang bukti medis yang ditemukan meliputi:
- Obat batuk cair: Bisolvon
- Obat lambung: Actal atau Citral
- Obat penurun tekanan darah tinggi: Amlodipine Besilate
- Obat pereda nyeri: Bodrex
Penemuan obat-obatan ini menjadi petunjuk penting bagi pihak kepolisian dalam merangkai kronologi kejadian dan memahami kondisi kesehatan korban sebelum meninggal.
Tidak Ditemukan Tanda Kekerasan, Diduga Akibat Sakit
Hasil pemeriksaan awal yang dilakukan oleh tim identifikasi tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban. Berdasarkan temuan di lapangan dan keterangan saksi, dugaan kuat yang mengarah pada penyebab kematian Dodik Praminto adalah penyakit yang dideritanya.
Korban ditemukan dalam posisi telentang, tanpa mengenakan pakaian di bagian atas tubuhnya. Ia hanya mengenakan celana pendek berwarna biru. Lokasi penemuan terakhirnya adalah di atas sebuah balai kayu, yang menjadi saksi bisu dari detik-detik terakhir kehidupannya. Meja kayu di dekatnya pun ditandai sebagai tempat penemuan barang bukti medis, yang semakin memperkuat indikasi adanya upaya pengobatan mandiri yang dilakukan korban.
Faktor Ekonomi Diduga Mempengaruhi Pola Hidup Sehat
Pihak kepolisian juga mengungkapkan adanya indikasi bahwa korban kurang menjaga pola hidup sehat. Hal ini diduga kuat dipicu oleh alasan ekonomi, yang menyebabkan korban tidak sempat memeriksakan diri ke dokter profesional meskipun telah merasakan gejala sakit sejak dua hari sebelum kejadian. Kondisi ini tentu sangat disayangkan, mengingat penanganan medis yang lebih dini mungkin dapat mencegah tragedi ini.
Proses evakuasi jenazah Dodik Praminto akhirnya dilakukan oleh Unit Ambulans BPBD Kota Denpasar pada pukul 03.50 WITA. Jenazah kemudian dibawa menuju kamar jenazah RSUP Prof. dr IGNG Ngoerah untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan proses administrasi selanjutnya. Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan dan tidak mengabaikan gejala penyakit, terlepas dari kondisi ekonomi yang dihadapi.





