Tragedi Penambang Emas di Jayapura: Nyawa Melayang di Dasar Lubang Galian
Upaya pencarian yang intensif selama tiga hari akhirnya membuahkan hasil yang memilukan. Seorang penambang emas tradisional yang tertimbun longsor di kawasan Gajah Putih, Kelurahan Numbay, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Korban yang diidentifikasi sebagai Rafles Fonataba alias Waromi, berusia 22 tahun dan merupakan warga Dok 8, Distrik Jayapura Utara, dilaporkan tertimbun material tanah pada Minggu, 15 Februari 2026, sekitar pukul 14.30 WIT.
Peristiwa nahas ini terjadi saat Rafles sedang melakukan aktivitas mendulang emas bersama dua rekannya di lereng bukit kawasan tersebut. Menurut keterangan saksi mata, tragedi bermula ketika korban tengah bekerja di dasar lubang galian manual. Tiba-tiba, tanpa peringatan, tebing di bagian atas area kerjanya ambruk. Dua rekan korban yang posisinya berada lebih di atas berhasil menyelamatkan diri dengan cepat memanjat keluar dari lubang. Namun, Rafles yang berada di posisi paling dalam tidak memiliki kesempatan untuk menghindar sebelum material tanah menimbun seluruh akses keluar.
Operasi Evakuasi Manual yang Penuh Tantangan
Sejak laporan diterima, tim gabungan yang terdiri dari petugas gabungan, warga setempat, dan keluarga korban segera bergerak melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Namun, medan perbukitan Numbay yang curam dan sempit memberikan tantangan besar bagi tim penyelamat. Ketiadaan akses bagi alat berat memaksa seluruh proses evakuasi dilakukan secara manual, mengandalkan kekuatan fisik dan peralatan sederhana.
Selama kurang lebih 72 jam, para petugas dan relawan bekerja tanpa henti, saling bergantian mengangkat material tanah menggunakan sekop, linggis, dan ember. Kondisi lubang galian yang mencapai kedalaman sekitar 18 meter, ditambah dengan tanah yang sangat labil, membuat setiap gerakan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Kekhawatiran akan terjadinya longsor susulan menjadi ancaman konstan bagi tim yang bertugas.
Memasuki hari ketiga operasi, tepatnya pada Rabu, tim penyelamat akhirnya mencapai titik di mana korban diduga tertimbun. Jenazah Rafles ditemukan di dasar lubang dalam posisi tertimbun material tanah. Proses pengangkatan jenazah berlangsung dramatis, menggunakan tali dan peralatan sederhana lainnya. Upaya ini dilakukan tidak hanya untuk mengeluarkan jenazah, tetapi juga untuk menjaga stabilitas tanah di sekitar lubang agar tidak terjadi keruntuhan lebih lanjut.
Setelah berhasil dievakuasi, jenazah Rafles Fonataba segera dibawa menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Bhayangkara Kota Jayapura. Di sana, jenazah akan menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Risiko Tinggi di Balik Tambang Rakyat
Tragedi yang menimpa Rafles Fonataba di kawasan Gajah Putih ini kembali membuka mata publik mengenai tingginya risiko keamanan yang dihadapi para pelaku pertambangan emas tradisional di wilayah Jayapura. Aktivitas penambangan rakyat, meskipun seringkali menjadi tumpuan ekonomi utama bagi masyarakat setempat, ternyata menyimpan bahaya yang mengintai setiap saat.
Salah satu faktor utama tingginya risiko adalah minimnya penerapan standar keselamatan kerja yang memadai. Ketiadaan struktur penguat tanah yang kokoh pada lubang-lubang galian menjadikan tebing-tebing tanah sangat rentan runtuh, terutama saat kondisi cuaca sedang lembap yang membuat tanah perbukitan menjadi lebih gembur dan tidak stabil. Para penambang terpaksa bekerja di bawah ancaman runtuhan yang bisa datang kapan saja, sebuah pertaruhan nyawa demi menyambung hidup.
Situasi ini menyoroti perlunya perhatian serius dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk mencari solusi yang lebih aman dan berkelanjutan bagi aktivitas ekonomi di wilayah tersebut. Edukasi mengenai keselamatan kerja, penerapan teknologi sederhana untuk penguatan struktur galian, serta pencarian alternatif mata pencaharian yang lebih aman perlu menjadi prioritas untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.





