Ribuan Penerbangan Runtuh Akibat Serangan AS, Terparah Sejak COVID

Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Pembatalan Ribuan Penerbangan, Jutaan Penumpang Terdampak

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas, memicu dampak signifikan pada industri penerbangan global. Serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah menyebabkan gelombang pembatalan penerbangan dari dan menuju negara-negara di wilayah tersebut. Situasi ini tidak hanya mengganggu jadwal perjalanan jutaan penumpang, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian finansial miliaran dolar bagi maskapai dan sektor terkait.

Firma analitik penerbangan terkemuka, Cirium, melaporkan bahwa sebanyak 539 penerbangan dari Inggris ke Timur Tengah dibatalkan dalam periode tujuh hari yang dimulai sejak 1 Maret. Pembatalan ini setara dengan hilangnya kapasitas 180.008 kursi. Hingga berita ini diturunkan, puluhan penerbangan dari Inggris ke kawasan tersebut masih dalam status dibatalkan. Secara global, data mencatat 1.555 penerbangan menuju Timur Tengah telah dibatalkan hingga Senin pagi, 2 Maret.

Platform pelacakan penerbangan yang banyak digunakan, FlightAware, melaporkan angka pembatalan yang lebih besar. Pada Sabtu, 28 Februari, hampir 2.800 penerbangan dibatalkan, dan angka ini meningkat menjadi 3.156 penerbangan pada Minggu, 1 Maret. Pantauan dari Flightradar24 pada Senin menunjukkan kondisi yang mencolok: wilayah udara di atas Iran, Irak, Kuwait, Israel, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar tampak nyaris kosong dari lalu lintas pesawat komersial.

Dampak Luas bagi Jutaan Penumpang

Pakar perjalanan dan penerbangan, Paul Charles dari PC Agency, memberikan gambaran mengenai skala dampak dari krisis ini. Ia memperkirakan bahwa lebih dari dua juta orang terdampak secara langsung hanya dalam satu hari terakhir akibat pembatalan dan penundaan penerbangan ini.

“Maskapai penerbangan harus menunggu hingga wilayah udara dinyatakan aman dan dibuka kembali. Akibatnya, banyak pesawat kini tertahan di berbagai negara,” ujar Paul Charles. “Semakin lama situasi ini berlanjut, potensi kerugian bisa mencapai miliaran dolar. Kerugian ini tidak hanya berasal dari hilangnya pendapatan tiket, tetapi juga dari terhentinya perdagangan dan sektor pariwisata yang sangat bergantung pada mobilitas udara.”

Charles tidak ragu membandingkan skala gangguan ini dengan krisis awan abu vulkanik Islandia pada tahun 2010. Krisis pada tahun tersebut menyebabkan penghentian penerbangan terbesar sejak Perang Dunia II. Namun, menurutnya, dampak dari eskalasi konflik Timur Tengah kali ini berpotensi lebih panjang, bahkan bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, meskipun konflik tersebut mereda dalam waktu dekat.

Serangan Pemicu Penutupan Wilayah Udara

Gangguan besar-besaran pada operasional penerbangan ini terjadi menyusul serangan yang dilancarkan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu pagi. Serangan ini dilaporkan sebagai langkah “pre-emptive” atau pencegahan.

Sebagai respons, Iran dikabarkan melancarkan serangan balasan, termasuk peluncuran rudal ke Israel dan beberapa negara lain di kawasan tersebut. Ketegangan yang meningkat ini mendorong sejumlah negara untuk segera menutup wilayah udara mereka demi alasan keamanan. Maskapai penerbangan pun terpaksa menghentikan operasional mereka di wilayah terdampak.

Pernyataan Resmi Maskapai Utama

Beberapa maskapai besar telah mengeluarkan pernyataan resmi terkait situasi ini:

  • Emirates: Maskapai asal Uni Emirat Arab ini mengumumkan penghentian sementara seluruh operasi penerbangan dari dan menuju Dubai hingga Senin pukul 15.00 waktu setempat. Emirates juga mengimbau para penumpang yang dijadwalkan terbang hingga 5 Maret untuk segera melakukan pemesanan ulang tiket atau mengajukan permohonan pengembalian dana.
  • Etihad Airways: Serupa dengan Emirates, Etihad Airways juga menangguhkan seluruh penerbangan dari dan menuju Abu Dhabi hingga Senin dini hari. Penumpang diminta untuk memeriksa status penerbangan mereka sebelum berangkat ke bandara. Bagi penumpang yang memiliki tiket perjalanan hingga 3 Maret, Etihad Airways menawarkan pengembalian dana penuh.
  • Qatar Airways: Maskapai ini menyatakan bahwa operasional penerbangan akan dilanjutkan segera setelah Otoritas Penerbangan Sipil Qatar mengumumkan pembukaan kembali wilayah udara secara aman. Qatar Airways juga memberikan peringatan kepada penumpang mengenai maraknya akun palsu di media sosial yang mengatasnamakan maskapai dan berupaya meminta data pribadi penumpang.
  • Virgin Atlantic: Maskapai ini mengambil langkah untuk mengalihkan sebagian rute penerbangannya guna menghindari wilayah udara Irak. Selain itu, Virgin Atlantic terpaksa membatalkan beberapa penerbangan antara London Heathrow dan Dubai serta Riyadh pada tanggal 1 dan 2 Maret.

Imbauan Pemerintah Inggris bagi Warga Negara

Pemerintah Inggris, melalui Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO), telah mengeluarkan imbauan penting bagi warga negaranya yang berada di kawasan Timur Tengah. FCDO mendesak warga Inggris di Bahrain, Israel, Palestina, Qatar, dan Uni Emirat Arab untuk segera mendaftarkan keberadaan mereka. Pendaftaran ini bertujuan agar mereka dapat menerima pembaruan situasi terkini dan peringatan keamanan yang mungkin dikeluarkan.

Lebih lanjut, FCDO juga memberikan instruksi spesifik bagi warga Inggris di lokasi tertentu. Warga Inggris yang berada di kota pesisir Duqm, Oman, diimbau untuk segera mencari tempat berlindung yang aman. Sementara itu, bagi warga Inggris yang berada di Salalah, Oman, disarankan untuk meninggalkan wilayah tersebut sesegera mungkin jika kondisi memungkinkan.

Situasi di kawasan Timur Tengah saat ini masih sangat dinamis dan terus berkembang. Maskapai penerbangan dan otoritas penerbangan sipil dari berbagai negara terus memantau perkembangan situasi secara ketat. Keputusan mengenai pembukaan kembali rute-rute penerbangan internasional akan sangat bergantung pada evaluasi keamanan dan pernyataan resmi dari pihak berwenang setempat.

Pos terkait