Rupiah Anjlok, BI Siaga Jaga Stabilitas

Bank Indonesia Siap Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Gejolak Timur Tengah

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar keuangan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa berbagai instrumen akan terus digunakan untuk meredam volatilitas yang mungkin timbul akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Pada Rabu, 4 Maret 2026, pukul 09.35 WIB, data dari Trading Economics menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah tercatat melemah ke level Rp 16.917 per dolar Amerika Serikat. Menanggapi pergerakan ini, BI memastikan akan melakukan intervensi yang tegas dan konsisten.

“Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” ujar Destry dalam keterangan resmi yang dikeluarkan pada Rabu, 4 Maret 2026.

BI mencatat bahwa pelemahan rupiah secara month to date (MTD) masih berada di kisaran 0,51 persen. Menurut Destry, pelemahan yang terjadi saat ini masih sejalan dengan tren pelemahan yang juga dialami oleh mata uang di kawasan regional. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar global turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Meskipun demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kokoh. Destry menambahkan bahwa cadangan devisa negara tetap terjaga dengan baik, tercatat sebesar US$ 154,6 miliar pada akhir Januari 2016. Selain itu, aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik selama tahun 2026 juga menunjukkan catatan positif, yaitu sebesar Rp 25,7 triliun. Angka ini mengindikasikan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Pasar Keuangan

Pada hari sebelumnya, Selasa, 3 Maret 2026, rupiah ditutup melemah pada level Rp 16.872 per dolar Amerika Serikat. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengemukakan bahwa salah satu faktor utama pelemahan rupiah adalah meluasnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan Israel terhadap Lebanon dan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz oleh Iran menjadi pemicu kekhawatiran di pasar global.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perdagangan maritim yang sangat vital, terutama untuk pasokan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur ini dapat menyebabkan lonjakan harga energi yang signifikan, yang pada gilirannya akan berdampak pada perekonomian global, termasuk Indonesia.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sendiri telah menyatakan bahwa perang melawan Iran kemungkinan akan memakan waktu yang tidak sebentar. Pernyataan ini menambah ketidakpastian di pasar, karena potensi konflik yang berkepanjangan dapat terus memberikan tekanan pada harga komoditas dan stabilitas keuangan.

“Para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang sementara pasar fokus pada dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Selasa, 3 Maret 2026.

Strategi Pengendalian Nilai Tukar Rupiah

Bank Indonesia telah menyiapkan serangkaian strategi untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar rupiah. Selain intervensi langsung di pasar, BI juga terus memantau perkembangan ekonomi global dan regional secara cermat.

  • Intervensi Pasar:

    • Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore untuk memberikan sinyal kepada pasar internasional.
    • Transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik untuk menjaga likuiditas dan stabilitas di dalam negeri.
    • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menyerap likuiditas berlebih dan menstabilkan pasar obligasi.
  • Pemantauan dan Analisis:

    • BI secara terus-menerus menganalisis tren pergerakan nilai tukar rupiah terhadap berbagai mata uang utama.
    • Pemantauan ketat terhadap indikator ekonomi makro baik domestik maupun global, termasuk data inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan neraca perdagangan.
  • Koordinasi:

    • Menjalin komunikasi dan koordinasi yang erat dengan otoritas keuangan negara lain dan lembaga internasional untuk memahami dampak global dari peristiwa geopolitik.

Langkah-langkah proaktif ini diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi Indonesia, khususnya dalam menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Bank Indonesia bertekad untuk terus menjaga kepercayaan pasar dan memberikan sinyal positif kepada investor.

Pos terkait