Rupiah Anjlok ke Rp16.916 Terhadap Dolar Hari Ini

Rupiah Tertekan, Dolar AS Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan Moneter Global

Jakarta – Mata uang rupiah kembali menghadapi tekanan pada pembukaan perdagangan Rabu, 4 Maret 2026, tergelincir ke level Rp16.916 per dolar Amerika Serikat (AS). Tren pelemahan ini sejalan dengan pergerakan dolar AS yang cenderung menguat di pasar global. Data terbaru menunjukkan bahwa penguatan dolar AS ini tidak hanya berdampak pada rupiah, tetapi juga merembet ke mayoritas mata uang negara-negara Asia lainnya.

Hingga pukul 09.05 pagi, rupiah tercatat mengalami pelemahan sebesar 44 basis poin atau setara dengan 0,26%. Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, terpantau naik tipis 0,14% ke angka 99,19. Fenomena ini mengindikasikan bahwa sentimen pasar global saat ini lebih berpihak pada mata uang Paman Sam.

Sebaran Pelemahan Mata Uang Asia

Tidak hanya rupiah, beberapa mata uang Asia lainnya juga merasakan dampak positif penguatan dolar AS. Dolar Hong Kong dan Dolar Singapura terpantau mengalami pelemahan masing-masing sebesar 0,03% dan 0,09%.

Selanjutnya, Peso Filipina juga mencatatkan depresiasi sebesar 0,29%. Rupee India tidak luput dari tekanan, terdepresiasi lebih dalam sebesar 0,55%. Yuan China mengalami pelemahan minor sebesar 0,02%, sementara Ringgit Malaysia melemah 0,05%. Baht Thailand juga turut tertekan dengan pelemahan 0,36%.

Namun, di tengah gelombang pelemahan ini, terdapat beberapa mata uang yang justru menunjukkan ketahanan atau bahkan menguat. Won Korea Selatan berhasil menguat 0,38%, sementara Yen Jepang juga mencatatkan penguatan sebesar 0,11%. Pergerakan yang berbeda ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor spesifik masing-masing negara.

Proyeksi Pergerakan Rupiah dan Faktor Pendorong

Menyikapi kondisi terkini, Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa rupiah kemungkinan besar akan terus bergerak fluktuatif pada hari Rabu, 4 Maret 2026. Ia memperkirakan pergerakan rupiah masih cenderung melemah terbatas dalam rentang pergerakan antara Rp16.870 hingga Rp16.910 per dolar AS.

Beberapa sentimen global utama menjadi sorotan dan diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan nilai tukar.

Eskalasi Ketegangan Geopolitik

Salah satu faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar adalah meningkatnya eskalasi perang udara antara Amerika Serikat dan Israel yang semakin meluas. Laporan terbaru menunjukkan Israel telah melancarkan serangan ke Lebanon, sementara Iran membalas dengan menargetkan infrastruktur energi di negara-negara Teluk serta kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Dampak langsung dari ketegangan ini adalah lonjakan tarif pengiriman minyak dan gas. Harga minyak mentah dunia pun diprediksi akan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang. Kenaikan harga energi ini berpotensi memicu inflasi global, yang pada gilirannya dapat memperkuat dolar AS karena dianggap sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi.

Pernyataan Pejabat The Fed

Pasar keuangan global juga tengah menantikan pernyataan dari sejumlah pejabat Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Jika nada bicara mereka cenderung agresif atau hawkish, yang mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga atau kebijakan pengetatan moneter lainnya, dolar AS berpotensi mengalami penguatan lebih lanjut. Hal ini karena suku bunga yang lebih tinggi di AS akan membuat dolar menjadi lebih menarik bagi investor.

Kinerja Neraca Perdagangan Domestik

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$0,95 miliar. Ini menandai 69 bulan berturut-turut Indonesia mencatatkan surplus perdagangan.

Namun, di balik angka surplus tersebut, terdapat catatan mengenai neraca migas yang masih mengalami defisit sebesar US$2,27 miliar. Defisit ini terutama disebabkan oleh tingginya volume impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan domestik. Meskipun surplus perdagangan secara keseluruhan memberikan sinyal positif bagi perekonomian, defisit migas tetap menjadi tantangan yang perlu diatasi untuk menjaga stabilitas neraca pembayaran.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal yang signifikan, seperti ketegangan geopolitik dan kebijakan moneter global, serta sentimen domestik yang mencakup kinerja neraca perdagangan. Investor akan terus mencermati perkembangan situasi ini dalam pengambilan keputusan investasi mereka.

Pos terkait