Rupiah Terus Melemah terhadap Dolar AS, Tembus Rekor Baru
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga akhir perdagangan pada Jumat (29/5/2026) sore masih berada dalam tren negatif. Di pasar spot, rupiah sempat dibuka di posisi Rp17.859 per dolar AS pada pagi hari. Namun, seiring berjalannya perdagangan, rupiah kembali tertekan dan menembus rekor sejarah baru menjadi Rp17.881.
Penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya terjadi secara umum di kawasan Asia. Pada hari yang sama, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar, turun 1 persen. Sementara itu, dolar Singapura melemah sekitar 0,16 persen, sedangkan dolar Hongkong dan yen Jepang masing-masing mengalami penurunan 0,01 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia berhasil menguat terhadap dolar AS. Rupee India menjadi yang paling kuat dengan kenaikan 0,4 persen, disusul oleh ringgit Malaysia yang naik 0,28 persen dan dolar Taiwan yang menguat 0,17 persen. Baht Thailand juga mengalami penguatan sebesar 0,14 persen, sementara yuan China naik 0,1 persen. Peso Filipina mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,03 persen.
Pergerakan Mata Uang di Akhir Pekan
Pada Sabtu (30/5/2026) sore, data pergerakan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS menunjukkan bahwa:
- Won Korea Selatan: Melemah 1 persen
- Rupiah Indonesia: Melemah 0,2 persen
- Dolar Singapura: Melemah 0,16 persen
- Dolar Hongkong: Melemah 0,01 persen
- Yen Jepang: Melemah 0,01 persen
Sementara itu, sejumlah mata uang lainnya justru mengalami penguatan terhadap greenback:
- Rupee India: Menguat 0,4 persen
- Ringgit Malaysia: Menguat 0,28 persen
- Dolar Taiwan: Menguat 0,17 persen
- Baht Thailand: Menguat 0,14 persen
- Yuan China: Menguat 0,1 persen
- Peso Filipina: Menguat 0,03 persen
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketidakstabilan ekonomi global dan kebijakan moneter bank sentral. Selain itu, situasi politik dan kondisi pasar modal di dalam negeri juga berkontribusi terhadap fluktuasi nilai tukar.
Dalam beberapa bulan terakhir, rupiah seringkali mengalami tekanan karena adanya peningkatan permintaan akan dolar AS dari para investor dan pelaku bisnis. Hal ini membuat nilai tukar rupiah cenderung lebih rentan terhadap volatilitas pasar.
Kondisi Pasar Asia
Secara keseluruhan, pergerakan nilai tukar mata uang Asia terhadap dolar AS masih bervariasi. Beberapa negara mengalami pelemahan signifikan, sementara yang lain berhasil mempertahankan stabilitas atau bahkan menguat. Perbedaan ini terjadi karena perbedaan kondisi ekonomi dan kebijakan masing-masing negara.
Kemungkinan besar, tekanan terhadap rupiah akan terus berlanjut jika tidak ada langkah-langkah yang efektif untuk mengatasi penyebab utama pelemahan tersebut. Diperlukan koordinasi antara pemerintah dan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mencegah dampak negatif terhadap perekonomian nasional.





