JAKARTA — Depresiasi nilai tukar rupiah yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir telah memengaruhi keputusan para investor Indonesia untuk mengalihkan sebagian aset mereka ke properti di luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia. Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mencerminkan tren penurunan yang signifikan. Pada 1996, kurs rupiah berada di sekitar Rp2.350 per USD, sedangkan hingga akhir pekan lalu, nilai tukar tersebut telah meningkat menjadi sekitar Rp17.382 per USD.
Selain itu, dibandingkan dengan ringgit Malaysia, nilai tukar rupiah juga melemah. Pada 2010, kurs rupiah terhadap ringgit Malaysia berada di sekitar Rp2.800 per ringgit, sementara saat ini, nilai tukar tersebut sudah mencapai lebih dari Rp4.380 per ringgit.
Menurut Faizul Ridzuan, founder dan CEO FAR Capital, pelemahan rupiah menjadi salah satu alasan utama investor Indonesia mulai agresif masuk ke pasar properti Malaysia. Tren ini sudah berlangsung selama dua dekade terakhir.
“Banyak investor sudah tahu ini sejak 20 tahun lalu, sehingga mereka beralih ke Singapura, sementara kalangan menengah ke atas lebih memilih Malaysia,” ujarnya dalam keterangannya.
Faizul memberikan contoh unit properti di kawasan Desa ParkCity, Kuala Lumpur, yang pada 2010 dibeli sekitar 700.000 ringgit. Kini, nilai properti tersebut mencapai antara 2,5 juta hingga 3 juta ringgit. Jika dikonversi ke rupiah, kenaikan tersebut memberikan keuntungan lebih dari 450% dalam 15 tahun, didorong oleh kenaikan harga properti dan depresiasi rupiah.
Menurutnya, investor Indonesia tertarik pada pasar properti Malaysia karena beberapa faktor, seperti kedekatan budaya, bahasa, serta akses geografis yang relatif mudah. Selain itu, harga properti di Malaysia dinilai lebih kompetitif dibandingkan Jakarta untuk kualitas bangunan yang setara.
Tren pembelian properti juga mulai bergeser. Properti tidak hanya diburu sebagai instrumen diversifikasi aset, tetapi juga sebagai perlindungan aktif terhadap pelemahan rupiah, terutama sejak 2025.
Faizul menjelaskan bahwa investor Indonesia umumnya membidik Kuala Lumpur dan Johor Bahru karena menawarkan harga yang ramah bagi pembeli asing serta potensi permintaan sewa yang kuat. Johor Bahru juga menjadi alternatif bagi investor yang merasa harga properti Singapura terlalu mahal.
Selain untuk investasi, banyak pembeli memanfaatkan properti di Malaysia sebagai rumah kedua untuk kebutuhan anak kuliah, rumah liburan, hingga hunian pensiun.
Di sisi lain, Faizul mengingatkan investor Indonesia agar tetap pruden dalam menentukan harga pembelian dan tidak membayar lebih mahal dibandingkan pembeli lokal.
“Investor juga diminta berhati-hati terhadap janji imbal hasil sewa yang terlalu tinggi, termasuk skema guaranteed rental return maupun proyeksi Airbnb yang dinilai terlalu optimistis,” ujarnya.






