Rusia-Ukraina: Perundingan Langsung Pertama dalam 4 Tahun

Perundingan Damai Rusia-Ukraina di Jenewa: Harapan Tipis di Tengah Kompleksitas Geopolitik

Jenewa menjadi saksi bisu pertemuan delegasi dari Rusia dan Ukraina pada hari Selasa, dalam putaran terbaru perundingan perdamaian yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Pertemuan ini berlangsung hanya sepekan sebelum peringatan empat tahun invasi skala penuh Rusia ke negara tetangganya. Namun, optimisme akan terobosan signifikan dalam dialog dua hari yang dijadwalkan di Swiss ini terbilang rendah. Kedua belah pihak tampaknya kukuh pada pendirian masing-masing mengenai isu-isu teritorial krusial dan jaminan keamanan di masa depan, meski Amerika Serikat telah menetapkan tenggat waktu Juni untuk pencapaian kesepakatan.

Detail Pertemuan dan Agenda

Kepala delegasi Ukraina, Rustem Umerov, membagikan sebuah foto di media sosial yang menampilkan ketiga delegasi duduk di meja berbentuk tapal kuda. Pejabat Ukraina dan Rusia duduk saling berhadapan, sementara utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, beserta menantunya, Jared Kushner, menempati ujung meja, diapit oleh bendera Amerika Serikat, Rusia, Ukraina, dan Swiss.

Umerov menyatakan bahwa agenda perundingan mencakup “isu-isu keamanan dan kemanusiaan,” sembari menambahkan bahwa Ukraina akan berupaya “tanpa harapan yang berlebihan.”

Tantangan Utama dalam Perundingan

Diskusi mengenai masa depan wilayah Ukraina yang saat ini diduduki oleh Rusia diperkirakan akan menjadi batu sandungan terbesar. Hal ini diungkapkan oleh seorang sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan, namun memilih untuk berbicara secara anonim kepada Associated Press karena tidak berwenang memberikan pernyataan kepada media.

Rusia tetap bersikeras agar Ukraina menyerahkan kendali atas wilayah Donbas timur.

Selain itu, pertemuan di Jenewa juga dihadiri oleh para petinggi militer dari Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina. Mereka dijadwalkan untuk membahas mekanisme pemantauan gencatan senjata pasca-kesepakatan damai, serta persyaratan yang diperlukan untuk implementasinya. Sumber anonim tersebut menambahkan bahwa dalam pembicaraan sebelumnya di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab, para pemimpin militer telah mendiskusikan potensi pembentukan zona demiliterisasi dan cara komunikasi antar militer dari semua pihak.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, telah memperingatkan agar tidak berharap banyak pada hari pertama perundingan, mengingat dialog tersebut dijadwalkan berlanjut hingga Rabu. Moskow sendiri cenderung memberikan informasi yang minim mengenai detail pembicaraan sebelumnya.

Saat ini, tentara Ukraina yang menghadapi kekurangan personel terlibat dalam perang gesekan dengan pasukan Rusia yang memiliki jumlah lebih besar di sepanjang garis depan sepanjang kurang lebih 1.250 kilometer. Warga sipil Ukraina terus menerus menjadi korban serangan udara Rusia yang berulang kali memutus pasokan listrik dan menghancurkan rumah-rumah mereka.

Pertanyaan mendasar yang menjadi fokus utama perundingan adalah masa depan hampir 20 persen wilayah Ukraina yang masih diduduki atau menjadi target Rusia. Selain itu, tuntutan Kyiv untuk mendapatkan jaminan keamanan pascaperang dengan dukungan Amerika Serikat, guna mencegah agresi Rusia di masa mendatang, juga menjadi agenda penting.

Presiden AS Donald Trump menggambarkan pertemuan di Jenewa sebagai “pembicaraan besar.” Ia sempat menyatakan kepada wartawan pada Senin malam, saat kembali ke Washington dari kediamannya di Florida, bahwa “Ukraina sebaiknya segera datang ke meja perundingan.” Namun, tidak ada kejelasan langsung mengenai maksud di balik komentar Trump tersebut, mengingat Ukraina sendiri telah berkomitmen dan aktif berpartisipasi dalam negosiasi dengan harapan mengakhiri serangan brutal Rusia.

Delegasi dan Konteks Geopolitik

Delegasi Rusia dipimpin oleh Vladimir Medinsky, penasihat Presiden Rusia Vladimir Putin. Medinsky sebelumnya memimpin tim negosiator Moskow dalam perundingan damai langsung pertama dengan Ukraina di Istanbul pada Maret 2022. Ia dikenal sebagai sosok yang gigih dalam memperjuangkan tujuan perang Putin, dan telah menerbitkan beberapa buku sejarah yang mengklaim mengungkap konspirasi Barat terhadap Rusia serta mengecam Ukraina.

Sementara itu, Komandan Militer AS dan pasukan NATO di Eropa, Jenderal Alexus Grynkewich, bersama dengan Menteri Angkatan Darat AS Dan Driscoll, turut hadir dalam pertemuan di Jenewa atas nama militer AS. Mereka akan bertemu dengan perwakilan militer dari Rusia dan Ukraina, demikian disampaikan oleh Kolonel Martin O’Donnell, juru bicara komandan AS.

Perundingan ini berlangsung di tengah situasi yang masih memanas. Semalam, Rusia dilaporkan melancarkan serangan menggunakan hampir 400 drone jarak jauh dan 29 rudal berbagai jenis yang menargetkan 12 wilayah Ukraina, menyebabkan sembilan orang terluka, termasuk anak-anak, menurut laporan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Zelensky menyatakan bahwa puluhan ribu penduduk kehilangan akses pemanas dan air bersih di kota pelabuhan selatan Odesa. Ia menekankan bahwa Moskow harus “bertanggung jawab” atas serangan tanpa henti tersebut, yang menurutnya justru merusak upaya perdamaian yang didorong oleh Amerika Serikat.

“Semakin banyak kejahatan ini datang dari Rusia, semakin sulit bagi semua orang untuk mencapai kesepakatan dengan mereka. Para mitra harus memahami hal ini. Pertama dan terutama, ini menyangkut Amerika Serikat,” tegas pemimpin Ukraina itu di media sosial pada Senin malam.

“Kami menyetujui semua proposal realistis dari Amerika Serikat, dimulai dengan proposal gencatan senjata tanpa syarat dan jangka panjang,” ujar Zelensky.

Pembicaraan di Jenewa ini juga berlangsung bersamaan dengan diadakannya pembicaraan tidak langsung antara pejabat AS dan Iran di kota Swiss yang sama.

Dalam perkembangan terpisah, Dinas Keamanan Ukraina (SBU) dilaporkan menggunakan drone jarak jauh untuk menyerang terminal minyak di Rusia selatan dan sebuah pabrik kimia besar di wilayah pedalaman negara itu. Seorang pejabat keamanan Ukraina yang berbicara dengan syarat anonim menjelaskan bahwa drone menargetkan terminal minyak Tamanneftegaz, salah satu pelabuhan terbesar di Laut Hitam, di wilayah Krasnodar, Rusia, untuk kedua kalinya bulan ini, dan insiden tersebut memicu kebakaran. Drone juga dilaporkan menyerang pabrik Metafrax Chemicals di wilayah Perm, Rusia, yang memproduksi komponen kimia yang digunakan dalam bahan peledak dan material militer lainnya. Pabrik ini berjarak lebih dari 1.600 kilometer dari perbatasan Ukraina.

Pos terkait