Serangan Balasan: IRGC Hantam Kilang Minyak Israel di Haifa

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan rudal terhadap sebuah kilang minyak di Haifa, Israel, pada Sabtu malam, 7 Maret 2026, waktu setempat. Tindakan ini merupakan respons langsung atas agresi gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel yang menyasar infrastruktur energi Iran dalam beberapa waktu terakhir.

Dalam sebuah pernyataan resmi yang disebarluaskan melalui saluran Sepah News, IRGC menegaskan bahwa kilang minyak yang berlokasi di Haifa menjadi sasaran utama rudal jenis Kheibar Shekan. “Serangan ini dilakukan sebagai respons atas serangan musuh terhadap infrastruktur energi kami,” demikian pernyataan tegas dari IRGC.

Lebih lanjut, keterangan resmi dari IRGC merinci bahwa gelombang serangan tidak hanya berhenti pada kilang minyak di Haifa. Pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain juga dilaporkan menjadi target, demikian pula dengan pasukan AS yang dilaporkan berada di Hotel Marina, Dubai. Sejumlah target strategis lainnya di Haifa juga disebutkan turut dihantam. Eskalasi konflik ini merupakan babak terbaru dari rangkaian peristiwa yang dipicu oleh serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah tokoh penting lainnya di Teheran.

Peringatan Keras dari Turki: Stop Insiden Rudal Nyasar

Di tengah memanasnya situasi, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, pada Sabtu lalu, menyampaikan peringatan keras kepada Teheran. Ia menekankan agar insiden jatuhnya rudal di wilayah Turki tidak terulang kembali di masa mendatang. “Kami bukanlah negara yang mudah terprovokasi; kami tidak ragu untuk melindungi wilayah udara kami,” tegas Fidan dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Istanbul.

Fidan menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan diskusi mendalam mengenai masalah ini dengan rekan-rekan di Iran. Ia memberikan penegasan bahwa jika rudal yang jatuh sebelumnya dapat dianggap sebagai insiden “hilang” yang tidak disengaja, maka pengulangan kejadian serupa akan secara tegas dianggap sebagai tindakan provokatif. “Jangan ada seorang pun di Iran yang terlibat dalam petualangan yang tidak perlu, karena Turki hingga saat ini telah menunjukkan sikap bersahabat yang berorientasi pada pencapaian perdamaian,” imbuhnya, menekankan komitmen negaranya terhadap stabilitas regional.

Iran Menanggapi Ancaman AS: Siap Hadapi Eskalasi

Menyikapi ancaman yang dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menjanjikan “penghancuran total” terhadap Iran, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya telah siap sepenuhnya jika Trump benar-benar menginginkan eskalasi konflik. Araghchi secara terbuka menuduh Trump telah salah menafsirkan sikap Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga atas insiden serangan rudal yang sempat menyasar kawasan Teluk.

“Jika Trump menginginkan eskalasi, justru itulah yang telah lama dipersiapkan oleh Angkatan Bersenjata kami yang Perkasa, dan itulah yang akan dia dapatkan,” tulis Araghchi melalui akun media sosial X. Ia menambahkan, “Tanggung jawab atas setiap peningkatan tindakan membela diri Iran sepenuhnya berada di pundak Pemerintahan Amerika Serikat.”

Sebelumnya, Presiden Pezeshkian telah menegaskan bahwa Iran tidak akan melakukan serangan terhadap negara-negara tetangga, kecuali wilayah mereka dimanfaatkan sebagai pijakan untuk menyerang Iran. Namun, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan peringatan bahwa perdamaian di Timur Tengah tidak akan pernah tercapai selama masih terdapat pangkalan militer Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan tersebut.

Dampak Luas Konflik: Ribuan Korban dan Gelombang Protes Global

Gelombang serangan balasan yang telah berlangsung lebih dari sepekan ini telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar. Iran memperkirakan lebih dari 1.200 orang tewas akibat serangan gabungan AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu, termasuk di antaranya adalah pemimpin tertinggi negara dan sejumlah komandan militer senior. Di sisi lain, otoritas Uni Emirat Arab melaporkan bahwa sedikitnya 16 rudal balistik dan 121 drone telah diluncurkan ke wilayah mereka hanya dalam satu hari.

Di tengah berkecamuknya konflik yang semakin memanas, gelombang protes terhadap perang ini bahkan telah meluas hingga ke Jepang. Puluhan demonstran di Osaka terlihat berbaris sambil membawa spanduk yang mengecam keras agresi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. “Kami mengutuk pemboman Iran oleh imperialisme Amerika,” demikian bunyi salah satu spanduk yang dibawa oleh para pengunjuk rasa. Aksi serupa dilaporkan terus berlangsung setiap hari di berbagai wilayah Jepang sejak akhir pekan lalu, dengan tuntutan utama agar permusuhan di Timur Tengah segera dihentikan.

Pos terkait