Sinyal 5G Hilang? Pengguna Jabotabek Terpaksa Turun ke 4G

,
JAKARTA — Implementasi jaringan 5G di Indonesia, yang sedang digencarkan oleh para operator seluler, tampaknya masih menghadapi tantangan signifikan terkait stabilitas koneksi. Kendati kecepatan unduh dan streaming video pada jaringan ini kerap dipuji, banyak pengguna melaporkan pengalaman yang kurang memuaskan untuk aktivitas sehari-hari. Ketidakstabilan sinyal yang seringkali berpindah antara 4G dan 5G, bahkan di area perkotaan padat, menjadi keluhan utama.

Pengalaman Pengguna: Antara Kecepatan dan Stabilitas

Krisna (23), salah seorang pengguna layanan 5G, mengungkapkan bahwa meskipun merasakan peningkatan kecepatan saat mengunduh atau melakukan streaming, manfaat tersebut belum terasa signifikan untuk penggunaan umum. “Gak begitu pengaruh kalau lagi aktivitas biasa. Lebih prefer ngejar stabilitas dulu daripada kencangnya. Sinyal suka hilang-hilang 4G terus 5G,” keluh Krisna. Ia menekankan bahwa stabilitas koneksi menjadi prioritas utama dibandingkan sekadar kecepatan puncak.

Lebih lanjut, Krisna menyoroti isu pemerataan cakupan jaringan 5G. Ia mengaku mudah menemukan sinyal 5G saat berada di Jakarta, namun pengalaman tersebut berubah drastis saat melakukan perjalanan ke daerah seperti Tangerang. Meskipun masih berada di area yang dianggap sebagai pusat perkotaan, jaringannya kerap beralih ke 4G.

Harapan Krisna ke depan adalah agar jaringan 5G dapat lebih merata cakupannya, kekuatan sinyalnya ditingkatkan, dan yang terpenting, harga paket internet di Indonesia dapat menjadi lebih terjangkau. “Negara lain sudah kencang-kencang [internet], kalau di Indonesia mahal dan kalau hujan sedikit langsung lemot, main game jadi patah-patah,” ujarnya, membandingkan kondisi di Indonesia dengan negara lain.

Pengguna lain, Viki, juga merasakan hal serupa. Ia mengakui adanya peningkatan kecepatan berkat jaringan 5G, namun perbedaannya tidak terlalu mencolok, berkisar antara 5 hingga 10 Mbps dibandingkan dengan jaringan sebelumnya. Viki mengalami keterbatasan cakupan jaringan 5G di wilayah Jakarta, Tangerang Selatan, dan Tangerang Kota, yang masih terbatas pada beberapa kecamatan saja.

Keluhan Viki juga berpusat pada sinyal yang sering hilang, yang membuatnya frustrasi. “Sinyal 5G suka hilang-hilang, itu bikin saya jengkel. Jadi saya ubah settingan jaringan operator sementara ke LTE only (4G/4G+), itu bisa dicek,” jelasnya. Pengalaman ini mendorongnya untuk kembali menggunakan pengaturan 4G+ yang dinilainya lebih stabil.

Viki membandingkan pengalamannya dengan penggunaan 4G+ di kampung halamannya, di mana ia pernah mencatat kecepatan hingga 100 Mbps. Ia memperkirakan, di wilayah Jabodetabek yang memiliki kepadatan pengguna lebih tinggi, potensi kecepatan 5G bisa menembus 150 Mbps, meskipun ia belum sempat menguji langsung jaringan 5G di kampungnya.

Progres Implementasi dan Target Pemerintah

Tantangan yang dihadapi pengguna ini terjadi di tengah upaya masif operator seluler untuk memperluas infrastruktur 5G di seluruh Indonesia. Data yang ada menunjukkan bahwa tingkat penetrasi ponsel yang mendukung 5G saat ini baru mencapai sekitar 30% dari total pengguna jaringan seluler. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat masih menggunakan perangkat yang belum kompatibel dengan teknologi 5G.

Pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), terus berupaya meningkatkan cakupan jaringan 5G secara bertahap. Menteri Komdigi, Meutya Hafid, telah menetapkan target ambisius untuk tahun 2026, di mana cakupan jaringan 5G ditargetkan mencapai 8,5% dari luas permukiman nasional. Target ini diharapkan dapat mendorong adopsi teknologi 5G yang lebih luas dan mengatasi isu-isu stabilitas serta pemerataan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi para operator.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja 5G

Beberapa faktor teknis dan non-teknis turut memengaruhi kinerja dan stabilitas jaringan 5G di lapangan:

  • Infrastruktur yang Belum Merata: Pembangunan menara BTS 5G membutuhkan investasi besar dan waktu. Area yang belum terjangkau infrastruktur memadai akan mengalami kualitas sinyal yang buruk.
  • Kepadatan Pengguna: Di area perkotaan yang padat, jumlah pengguna yang mengakses jaringan secara bersamaan dapat membebani kapasitas, menyebabkan penurunan kecepatan dan stabilitas.
  • Kondisi Geografis dan Lingkungan: Sinyal 5G, terutama pada frekuensi tinggi, lebih rentan terhadap hambatan seperti gedung bertingkat, pepohonan, dan kondisi cuaca (misalnya hujan lebat).
  • Perangkat Pengguna: Kualitas dan kemampuan perangkat smartphone yang digunakan oleh konsumen juga berperan. Perangkat yang lebih tua atau memiliki spesifikasi lebih rendah mungkin tidak dapat memanfaatkan potensi penuh jaringan 5G.
  • Spektrum Frekuensi: Ketersediaan dan alokasi spektrum frekuensi yang tepat sangat krusial untuk kinerja 5G.
  • Optimalisasi Jaringan: Operator perlu terus melakukan optimalisasi dan pemeliharaan jaringan agar dapat berjalan optimal.

Dengan adanya keluhan dari pengguna, menjadi jelas bahwa perjalanan menuju adopsi 5G yang mulus di Indonesia masih memerlukan upaya berkelanjutan dari semua pihak, baik operator, pemerintah, maupun pengguna itu sendiri.

Pos terkait