Surge (WIFI) Alihkan Dana untuk Ekspansi Internet FWA

RUPSLB WIFI: Perubahan Penggunaan Dana untuk Proyek FWA

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu, 8 April 2026. Agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah perubahan penggunaan dana hasil penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Hal ini dilakukan sebagai respons atas keberhasilan entitas anak WIFI, PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP), yang memenangkan lelang spektrum FWA.

Shannedy Ong, Direktur Solusi Sinergi Digital, menjelaskan bahwa keberhasilan TKP dalam mendapatkan spektrum FWA menjadi dasar utama perubahan penggunaan dana. Dengan adanya kepastian spektrum tersebut, WIFI memiliki peluang untuk mempercepat penetrasi layanan internet melalui FWA. Layanan ini umumnya lebih cepat dan fleksibel dibandingkan FTTH karena tidak memerlukan pembangunan infrastruktur fiber optik secara penuh hingga ke rumah pelanggan.

Strategi Perusahaan dalam Penggunaan Dana Rights Issue

Dana hasil rights issue sebesar Rp 5,06 triliun akan digunakan untuk meningkatkan jaringan utama (RAN), perangkat pelanggan (CPE), dan infrastruktur pendukung lainnya. Perusahaan akan melakukan rollout pada 2.786 site. Untuk setiap site, diperlukan satu unit Remote Radio Unit (RRU) yang dipasang pada Base Transceiver Station (BTS).

Estimasi harga per unit RRU adalah sekitar Rp 745 juta, dengan asumsi kurs USD/IDR 16.841. Sementara itu, total kebutuhan CPE diperkirakan hingga 2.786.000 unit untuk melayani kapasitas maksimum dari seluruh site. Harga per unit CPE diperkirakan sekitar Rp 1 juta, juga berdasarkan asumsi kurs yang sama.

Namun, Shannedy menegaskan bahwa angka tersebut hanya merupakan kapasitas teknis maksimum. Realisasi jumlah pelanggan akan bergantung pada dinamika take up rate, pemasaran, kesiapan area, serta kebutuhan pelanggan di masing-masing wilayah.

Target Pelanggan dan Pendapatan

WIFI menargetkan pencapaian pelanggan FWA hingga akhir tahun ini mencapai 3 juta pelanggan, dengan asumsi take-up rate sekitar 60% pada area rollout yang telah aktif secara komersial. Hingga tahun 2028, perusahaan menargetkan dapat mencapai sekitar 6,8 juta pelanggan seiring perluasan cakupan layanan, peningkatan penetrasi di area eksisting, dan peningkatan kapasitas operasional.

Dengan izin dari pemegang saham, WIFI berharap pendapatan perusahaan bisa mencapai Rp 2,9 triliun di tahun 2026, dengan sekitar 40% berasal dari proyek FWA. Pada tahun 2028, kontribusi pendapatan dari FWA diperkirakan akan melebihi 50% dari total pendapatan, dengan estimasi pendapatan sekitar Rp 7 triliun.

Pemilihan Vendor untuk Proyek FWA

Pemilihan vendor untuk proyek FWA dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria utama, seperti kemampuan teknis dan kualitas solusi teknologi, terutama dalam menyediakan perangkat dan solusi jaringan yang sesuai dengan kebutuhan implementasi FWA. Selain itu, perusahaan juga memilih vendor dengan pengalaman dalam implementasi jaringan telekomunikasi skala besar, termasuk infrastruktur RAN, transport network, dan core network.

Vendor yang saat ini sedang dijajaki kerja samanya antara lain Huawei, ZTE, FiberHome, Nokia, Baicells, serta penyedia chipset seperti Qualcomm dan ASR Microelectronics. Selain itu, perusahaan juga bekerja sama dengan penyedia infrastruktur menara seperti Protelindo, Tower Bersama Group, dan Centratama, serta penyedia perangkat jaringan dan infrastruktur inti.

Penanganan Proyek FTTH

Dalam keterbukaan informasi juga disebutkan bahwa pendanaan proyek FTTH di Jawa yang semula berasal dari dana rights issue akan menggunakan sumber dana lain. Pendanaan proyek FTTH ke depan akan bersumber dari kombinasi arus kas operasional dan pendanaan melalui obligasi dan sukuk yang sedang diproses oleh entitas anak perusahaan, yaitu PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE).

WIFI tetap mengklaim bahwa proyek FTTH di Pulau Jawa masih berjalan dan terus dikembangkan sesuai kebutuhan pasar dan kesiapan pelaksanaan. Hingga saat ini, FTTH telah mencapai 2,5 juta homepass dan 1,5 juta homeconnect, dengan nilai investasi yang telah direalisasikan sekitar Rp 2 triliun. Perusahaan akan terus mengoptimalkan rollout FTTH berdasarkan prioritas area dan kesiapan mitra/operasional agar tingkat konversi homepass menjadi homeconnect tetap terjaga.

Fokus pada Wilayah Spektrum yang Dimenangkan

Ke depan, rollout layanan FWA akan difokuskan pada Region 1, yaitu Jawa, Maluku, dan Papua, sesuai wilayah spektrum yang dimenangkan oleh TKP dalam lelang frekuensi FWA. Dengan demikian, penggunaan dana HMETD untuk FWA bersifat selaras dengan cakupan izin spektrum, sehingga perencanaan rollout dilakukan pada wilayah yang telah memiliki dasar legal-operasional yang jelas.

Pos terkait