Tragedi di Bambu Apus: Kisah Pilu Dewhinta Anggary, Cucu Mpok Nori, yang Meregang Nyawa di Tangan Mantan Suami
Peristiwa tragis yang merenggut nyawa Dewhinta Anggary (37) di kediamannya di Jalan Daman I, RT 08/RW 02, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, pada Sabtu (21/3/2026) lalu, menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya. Di balik senyumnya yang selalu menghiasi, Anggi, begitu ia akrab disapa, ternyata menyimpan luka dan tekanan dalam kehidupan pribadinya, yang puncaknya berujung pada kematian mengenaskan di tangan mantan suami sirinya, FD (49), seorang warga negara Irak.
Rumah kontrakan yang menjadi saksi bisu kepergian Anggi kini diselimuti aura mencekam. Garis polisi membentang di pintu dan jendela, menandai lokasi kejadian yang telah ramai dikunjungi warga dan media sejak Minggu (22/3/2026). Suasana di sekitar rumah kontrakan itu begitu hening, seolah enggan menceritakan kembali kengerian yang terjadi. Sebuah handuk merah tergantung di tali jemuran di depan jendela, menjadi saksi bisu aktivitas keseharian yang kini terhenti selamanya. Sepasang sandal, sapu, dan beberapa barang pribadi tergeletak di teras, menambah kesan pilu. Jendela rumah yang terbuka miring ke luar, seolah membiarkan udara luar masuk ke dalam ruangan yang menyimpan jejak kekerasan.
Sosok Anggi di Mata Keluarga: Lembut, Penurut, dan Penuh Kasih
Di mata keluarganya, Dewhinta Anggary adalah sosok yang luar biasa. Kakaknya, Dian Puspitasari (40), menggambarkan Anggi sebagai pribadi yang sangat baik, selalu penurut, dan mudah mengalah. Senyumnya yang murah hati selalu menghiasi wajahnya, bahkan ketika ia harus menghadapi teguran atau sindiran.
- Pribadi yang Lembut: Anggi dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah membalas perkataan kasar. Ia cenderung memilih mengalah demi menjaga keharmonisan.
- Murah Senyum dan Ceria: Senyum adalah ciri khas Anggi yang paling diingat oleh keluarganya. Ia selalu terlihat ceria dan menyenangkan.
- Penyayang Anak-Anak: Kasih sayang Anggi tak terbatas, terutama terhadap anak-anak di keluarganya. Keponakan-keponakannya sangat dekat dengannya berkat sifatnya yang lembut dan penuh perhatian.
“Korban itu baik banget, penurut, dan suka mengalah. Soalnya kadang kalau kita omelin atau sindir-sindir, dia cuma nyengir saja, murah senyum orangnya,” kenang Dian dengan suara bergetar.
Tekanan dalam Hubungan Pribadi yang Tak Terlihat
Namun, di balik citra Anggi yang ceria dan penuh kasih, tersembunyi sisi lain kehidupannya yang penuh tekanan. Hubungan rumah tangganya dengan mantan suami siri, FD, menjadi sumber utama permasalahan. Setelah resmi berpisah pada awal Februari 2026, Anggi memilih untuk tinggal sendiri di rumah kontrakan. Keputusan ini tampaknya tidak diterima dengan baik oleh FD.
Dian menduga bahwa perubahan aktivitas Anggi sejak ia mulai bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memicu kecemburuan FD. Sejak aktif bekerja, Anggi memiliki banyak teman dan interaksi sosial di luar rumah. Hal ini, menurut Dian, mungkin membuat FD merasa terancam dan membatasi ruang gerak Anggi.
- Munculnya Kecemburuan: Perubahan gaya hidup Anggi pasca-bekerja diduga kuat memicu rasa cemburu FD.
- Pembatasan Ruang Gerak: Anggi merasa seolah dibatasi dalam berinteraksi dengan orang lain, baik teman maupun lingkungan sosialnya.
“Sejak adik saya kerja, temannya jadi banyak, ada aktivitas di luar dan banyak interaksi. Mungkin dia (pelaku) cemburu,” ujar Dian, mengungkapkan kecurigaannya.
Komunikasi Terakhir dan Jejak Pelaku yang Terabaikan
Kontak terakhir keluarga dengan Anggi terjadi pada Kamis malam, sekitar pukul 21.30 WIB. Komunikasi terputus begitu saja, yang awalnya dianggap wajar oleh keluarga mengingat kesibukan menjelang Lebaran. Namun, sebuah fakta mengerikan terungkap belakangan.
Pada hari yang sama saat komunikasi terakhir, Dian sempat berpapasan dengan Anggi di jalan saat hendak pergi ke pasar. Belakangan, setelah kejadian tragis ini, Dian baru menyadari bahwa pada momen tersebut, FD ternyata berada di dekat Anggi dan diduga kuat sedang membuntutinya. Peristiwa ini menunjukkan betapa dekat dan intensnya pelaku memantau kehidupan Anggi, bahkan setelah mereka berpisah.
Penemuan Jasad dan Jejak Kekerasan
Keluarga mulai merasa khawatir ketika Anggi tidak merespons pesan WhatsApp mereka. Pintu rumah yang terkunci membuat mereka awalnya berpikir Anggi sedang pergi. Namun, kekhawatiran itu memuncak ketika ibu dan adik Anggi memutuskan untuk mengecek kondisi korban secara langsung.
Karena tidak ada jawaban, sang adik nekat masuk melalui jendela yang terbuka. Betapa terkejutnya ia mendapati Anggi telah meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan.
“Posisinya sudah terlentang. Ada luka sayatan di leher, terus sama darah nempel di kasur dan jatuh ke ubin (lantai),” ungkap Dian dengan pilu saat ditemui di lokasi kejadian.
Kepala Subdit Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Ressa Fiardi Marasabessy, mengonfirmasi penemuan jasad korban. “Korban ditemukan meninggal dunia di lantai dengan kondisi di lantai dan kasur terdapat darah mengering,” ujarnya.
Saat ini, FD, mantan suami siri Anggi yang juga merupakan warga negara Irak, telah diamankan oleh pihak kepolisian. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit tentang bahaya kekerasan dalam rumah tangga dan pentingnya memberikan perhatian lebih terhadap orang-orang terdekat yang mungkin sedang menghadapi masalah pribadi.





