Bahaya Pijat Dukun pada Anak yang Cedera: Kisah Nyata yang Menggugah Hati
Setiap orang tua pasti merasakan kecemasan mendalam ketika buah hati mengalami jatuh dan mengeluh kesakitan pada bagian tubuh tertentu. Dalam situasi panik, tak jarang orang tua memilih jalan pintas dengan mendatangi dukun pijat atau tukang urut, berharap kesembuhan instan tanpa perlu ke fasilitas kesehatan formal. Namun, keputusan ini ternyata bisa berujung fatal dan meninggalkan luka permanen, bahkan kecacatan seumur hidup bagi anak.
Dua dokter spesialis ortopedi, dr. Fahmi Ansori dan dr. Robby Triangga, baru-baru ini membagikan sebuah kisah memilukan melalui akun media sosial mereka. Kisah ini menyoroti bagaimana seorang anak laki-laki mengalami kecacatan permanen akibat penanganan yang keliru setelah jatuh. Berikut adalah rangkuman kronologi kejadian dan peringatan penting dari para dokter yang wajib diketahui oleh setiap orang tua agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
1. Insiden Jatuh Saat Bermain dan Keluhan Nyeri Hebat
Peristiwa bermula dari seorang anak laki-laki berusia 10 tahun yang sedang asyik bermain. Naas, ia terjatuh dan seketika mengeluhkan rasa sakit yang luar biasa pada bagian tangannya. Lebih parahnya lagi, ia tidak mampu menggerakkan tangannya sama sekali. Kondisi seperti ini seharusnya menjadi indikasi kuat adanya cedera serius yang memerlukan penanganan medis profesional secepatnya.
Namun, alih-alih segera membawa sang anak ke rumah sakit atau klinik, orang tuanya justru memutuskan untuk membawanya ke dukun pijat atau tukang urut. Keputusan ini kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kepercayaan turun-temurun terhadap pengobatan alternatif, anggapan biaya yang lebih terjangkau, atau akses yang lebih mudah dibandingkan ke rumah sakit.
2. Pijatan Keras Dukun Memicu Pembengkakan Parah
Di tempat dukun pijat, tangan anak yang cedera tersebut mendapatkan perlakuan yang sangat keras. Pijatan dilakukan dengan tekanan yang kuat, digambarkan seperti memeras handuk dengan sekuat tenaga. Yang mengkhawatirkan, teknik pijatan ini dilakukan tanpa terlebih dahulu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui jenis cedera yang sebenarnya dialami anak.
Dampak dari pijatan ekstrem tersebut sungguh mengerikan. Tangan anak membengkak dengan ukuran yang sangat besar, menyerupai balon yang menggelembung penuh. Kulit tangannya berubah warna menjadi merah kehitaman, sebuah tanda jelas adanya kerusakan parah pada pembuluh darah dan jaringan. Situasi semakin mengkhawatirkan ketika tangan anak terlihat melepuh, seolah-olah mengalami luka bakar yang sangat serius.
Menurut keterangan dari sang ibu, dukun tersebut hanya menggunakan minyak urut biasa. Namun, kerusakan masif yang terjadi pada tangan anak diduga kuat akibat tekanan pijatan yang terlalu keras dan tidak terkontrol. Hal ini menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak, pembuluh darah, otot, dan saraf di dalam tangan.

3. Perjalanan Menuju Rumah Sakit dan Operasi Darurat
Melihat kondisi tangan anaknya yang terus memburuk secara drastis, orang tua akhirnya menyadari kekeliruan mereka. Dengan penuh kepanikan, mereka segera membawa sang anak ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis yang sesungguhnya.
Setibanya di rumah sakit, dr. Fahmi Ansori dan dr. Robby Triangga, sebagai dokter ortopedi yang menangani kasus tersebut, langsung melakukan tindakan operasi darurat demi menyelamatkan tangan anak. “Kami melakukan fasciotomy cito untuk menyelamatkan tangan dan mencegah komplikasi lebih parah. Pasca operasi, kondisi pasien stabil. Tangan dan lengannya bisa diselamatkan dan tidak ada tanda sindrom rabdomiolisi,” jelas dr. Fahmi.
Setelah menjalani operasi darurat tersebut, anak memerlukan perawatan intensif di rumah sakit selama kurang lebih enam bulan. Masa perawatan ini sangat krusial untuk proses pemulihan dan penanganan lanjutan agar kondisinya dapat membaik secara bertahap.

4. Kecacatan Permanen: Kondisi Claw Hand
Meskipun tangan anak berhasil diselamatkan dari ancaman amputasi berkat penanganan medis yang cepat dan tepat, namun kerusakan jaringan yang telah terjadi begitu masif dan parah. Akibatnya, tangan anak mengalami kecacatan permanen yang dikenal dengan istilah claw hand atau tangan cakar. Kondisi ini diperkirakan akan bertahan seumur hidup.
“Jaringan lunak dan tulangnya sudah sembuh, akan tetapi kerusakan otot dan sarafnya sulit untuk kembali pulih sehingga tampak claw hand,” ungkap dr. Fahmi. Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah tangan anak tersebut dapat diluruskan kembali atau tidak, mengingat penanganan yang dibutuhkan bersifat sub-spesialistik dan sangat kompleks.

5. Peringatan Keras untuk Seluruh Orang Tua
Kasus yang sangat memprihatinkan ini menjadi peringatan keras dari dr. Fahmi dan dr. Robby kepada seluruh orang tua di Indonesia. Mereka menekankan pentingnya untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dan selalu mengutamakan penanganan medis profesional.
“Jangan takut ke dokter ortopedi. Carilah informasi medis yang tepat,” tegas dr. Fahmi. Ketakutan akan biaya pengobatan yang mahal sebenarnya tidak beralasan, mengingat Indonesia memiliki sistem jaminan kesehatan nasional seperti BPJS yang menanggung berbagai jenis pengobatan, termasuk penanganan patah tulang.
Dokter ortopedi adalah spesialis yang memiliki keahlian mendalam dalam menangani segala permasalahan tulang, sendi, otot, ligamen, dan tendon. Mereka dibekali pengetahuan medis yang komprehensif serta akses terhadap alat diagnostik canggih seperti rontgen, CT scan, atau MRI.
Sebaliknya, dukun pijat atau tukang urut tidak memiliki kemampuan untuk mendiagnosis secara akurat apakah cedera yang dialami adalah patah tulang, retak, keseleo, atau robekan ligamen. Pijatan yang mereka lakukan, tanpa dasar diagnosis yang tepat, justru berpotensi memperparah kondisi dan menyebabkan kecacatan permanen, seperti yang terjadi pada kasus anak ini.
Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk bijak dalam mengambil setiap keputusan terkait kesehatan anak. Hindari terpengaruh oleh mitos atau kepercayaan yang tidak didukung oleh ilmu medis. Kesehatan buah hati adalah prioritas utama yang memerlukan penanganan profesional dan terpercaya.





