Tangis Wardatina Mawa Pasca Gugat Cerai Insanul Fahmi

Wardatina Mawa Ungkap Perasaan Mendalam Pasca Gugat Cerai Insanul Fahmi: Kesedihan, Keikhlasan, dan Harapan Baru

Keputusan untuk mengakhiri bahtera rumah tangga bukanlah hal yang mudah. Bagi selebgram Wardatina Mawa, momen ini menjadi periode penuh gejolak emosi setelah ia membulatkan tekad untuk menceraikan suaminya, Insanul Fahmi. Meski di tengah badai kesedihan, Mawa menunjukkan keteguhan hati dan fokus pada masa depan sang buah hati. Keputusan ini diambil setelah melalui perenungan mendalam, dan kini ia siap menghadapi babak baru kehidupan sebagai orang tua tunggal.

Proses pendaftaran gugatan cerai ke Pengadilan Agama Medan, Sumatera Utara, menjadi titik krusial dalam perjalanan rumah tangga Mawa dan Insanul. Meskipun Mawa mengaku telah bangkit dari keterpurukan, ia tak memungkiri bahwa rasa sedih tak bisa sepenuhnya dihindari. Terlebih, ia harus menghadapi kenyataan bahwa sang anak akan memiliki orang tua yang berpisah.

“Kadang suka agak ngerasa sedih lihat anak. Kadang pulang-pulang kerja gitu Afnan tidur, kadang aku nangis diam-diam,” ungkap Wardatina Mawa saat ditemui di kawasan Bogor, Jawa Barat. Suaranya tertahan saat melanjutkan, “Jujur aku agak sedih juga karena anak kasihan juga harus dapet ujian seberat ini.”

Namun, di balik kesedihan itu, Mawa berusaha keras untuk tetap menjalankan perannya sebagai ibu sekaligus ayah bagi anaknya. Ia berupaya tampil ceria di depan sang buah hati, sembari menjaga martabat keluarga dan menutupi aib rumah tangga yang sedang dihadapinya. Wardatina Mawa menegaskan bahwa ia tidak pernah menyesali keputusannya untuk menceraikan Insanul Fahmi, bahkan ia merasa lebih bersyukur.

“Enggak menyesal, lebih banyak disyukurin aja. Karena udah ada kejadian kayak gini membuat aku lebih banyak bersyukur, kalau Allah itu pasti bakalan memberikan kemudahan di setiap kesulitannya,” tuturnya penuh keyakinan.

Komitmen Tak Tergoyahkan: Anak Tetap Terhubung dengan Ayahnya

Salah satu kekhawatiran terbesar seorang ibu yang bercerai adalah bagaimana dampaknya terhadap hubungan anak dengan sang ayah. Wardatina Mawa memahami hal ini sepenuhnya. Ia tak menampik bahwa sang anak terkadang menanyakan keberadaan ayahnya. Namun, Mawa selalu memberikan penjelasan yang positif tentang Insanul kepada putranya.

“Sempat bilang ke anak, kalau ibu sama ayahnya walaupun berpisah, tapi anak ke ayah tidak akan berpisah. Mau sampai kapanpun itu, mereka harus tetap ada ikatan bonding,” jelasnya dengan tegas.

Mawa memberikan jaminan bahwa ia tidak akan pernah menghambat atau menghalang-halangi Insanul jika sang ayah ingin bertemu dengan anak mereka. Sejak awal perpisahan rumah tangga hingga proses gugatan cerai, Mawa mengklaim selalu membuka pintu lebar-lebar bagi Insanul untuk bertemu dengan buah hati mereka.

“Selama ini dia koar-koar juga belum bisa ditemuin sama anak. Udah bolak-balik ketemu kok. Jadi walaupun aku nggak ada komunikasi sama dia, tapi dia tetep ada komunikasi sama mbak (pengasuh). Jadi aman kok,” ungkapnya, menunjukkan bahwa komunikasi antara ayah dan anak tetap terjaga melalui perantaraan pengasuh.

Penolakan Damai dan Keikhlasan Mawa atas Keputusan Insanul

Hubungan rumah tangga Mawa dan Insanul diketahui mengalami keretakan setelah Insanul Fahmi diketahui menikah siri dengan Inara Rusli. Wardatina Mawa secara tegas menolak ajakan Insanul Fahmi untuk berdamai dan melanjutkan pernikahan mereka. Keputusan ini murni berasal dari dirinya sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

“Aku pure dari pribadi aku, emang tidak mau melanjutkan hubungan ini. Nggak ada hasutan dari siapapun,” tegas Wardatina Mawa.

Lebih lanjut, Mawa menyatakan keikhlasannya jika Insanul dan Inara memilih untuk bersatu. Baginya, apa yang telah dibangun bersama Insanul sudah terlanjur rusak dan tidak ada lagi yang perlu dipertahankan. Ia merasa berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dan melihat sang anak tumbuh dalam lingkungan yang lebih positif.

“Jadi pokoknya kalau emang mereka mau bersatu, aku ikhlas. Ya udah bersama aja mereka, aku juga nggak mau kan,” tambahnya.

Mawa mengibaratkan situasinya seperti “nasi sudah menjadi bubur”. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki hak untuk bahagia, termasuk dirinya dan sang anak.

“Nasi udah jadi bubur ya. Nasi udah jadi bubur, jadi ya mau gimanapun juga… kalau itu udah terjadi ya udah. Aku pun juga berhak bahagia,” ucapnya penuh keyakinan.

“Anak aku juga berhak melihat sosok ibunya lebih happy lagi pastinya,” tutupnya, menyiratkan harapan akan masa depan yang lebih cerah bagi dirinya dan buah hati.

Pos terkait