Telur Rp58 Ribu/Rak di Makassar: KPPU Ungkap Biang Kerok MBG

Lonjakan Harga Telur Jelang Lebaran: Analisis dan Upaya Pengawasan di Pasar Terong Makassar

Menjelang perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, suasana di Pasar Terong Makassar, Sulawesi Selatan, tampak semakin ramai. Warga, terutama para ibu rumah tangga, memadati pasar tradisional ini untuk memenuhi kebutuhan pokok jelang hari raya. Di tengah hiruk pikuk aktivitas jual beli, perhatian tertuju pada salah satu komoditas penting yang mengalami kenaikan harga signifikan, yaitu telur.

Data terkini menunjukkan bahwa harga telur di Pasar Terong telah menembus angka Rp 58 ribu per rak. Kenaikan ini menjadi sorotan utama, terlebih mengingat bahwa Idul Fitri masih menyisakan dua pekan lagi. Salah satu pedagang telur, Zuhaidir, membenarkan lonjakan harga tersebut. “Umumnya harga Rp 53 ribu sampai Rp 55 ribu per rak, sekarang Rp 58 ribu,” ungkapnya. Kenaikan ini dilaporkan telah berlangsung selama sepekan terakhir.

Faktor Pemicu Kenaikan Harga Telur

Menanggapi fenomena ini, pihak Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah VI Makassar, melalui Pelaksana Tugas Kepala Kanwil VI, Hasiholan Pasaribu, telah turun langsung ke lapangan untuk memantau situasi. Hasiholan Pasaribu mengidentifikasi beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan harga telur. Salah satu faktor utama yang disebutkannya adalah peningkatan konsumsi telur yang terkait dengan program pemerintah.

Secara spesifik, program Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadan disebut memiliki andil dalam mempengaruhi pasokan (supply) telur. “Salah satunya program pemerintah juga MBG ini sedikit mempengaruhi terkait suplai,” ujar Hasiholan Pasaribu. Ia menambahkan bahwa KPPU akan terus mengawasi agar program pemerintah yang baik ini tidak disalahgunakan dari sisi perdagangan dan distribusinya.

Pengawasan KPPU untuk Menjaga Stabilitas Harga

KPPU Makassar secara intensif terus memantau pergerakan harga telur dari sisi pasokan dan permintaan, khususnya yang berkaitan dengan program MBG. Hasiholan Pasaribu menegaskan bahwa sejauh ini pasokan telur masih tergolong terjaga, meskipun terjadi kenaikan harga yang tipis. “Kita terus monitoring jangan sampai program bagus ini jadi merugikan pedagang. Jangan sampai ada penahanan dari produsen dan distributor,” tegasnya.

Upaya pengawasan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penimbunan barang oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang pada akhirnya dapat memicu lonjakan harga yang lebih parah dan merugikan konsumen. KPPU berkomitmen untuk memastikan kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan agar stabilitas harga dapat terjaga, terutama di momen krusial menjelang hari raya.

Komoditas Pangan Lainnya: Gambaran Stabilitas Harga

Selain telur, pantauan di Pasar Terong Makassar juga mencakup komoditas pangan lainnya. Secara umum, harga beras masih terpantau cukup stabil. Beras Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP) dijual dengan harga Rp 60 ribu untuk ukuran 5 kilogram. Sementara itu, beras medium umum dibanderol seharga Rp 13.500 per kilogram, dan beras premium Rp 14.900 per kilogram.

Minyakita, sebagai salah satu minyak goreng curah yang diawasi, juga dijual sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan, yaitu Rp 15.700 per liter. “Minyakita inikan ada HET. Kalau minyak premium diberikan ke pedagang untuk jual. Kami tetap mengontrol suplainya. Ketika suplai kurang, harga naik. Saat ini terkait minyakita masih sesuai HET,” jelas salah seorang perwakilan KPPU.

Sementara itu, harga daging ayam menunjukkan sedikit penurunan. Ical, seorang pedagang ayam, melaporkan bahwa harga ayam kini dijual sekitar Rp 30 ribu per kilogram, dengan harga umum yang sebelumnya berada di kisaran Rp 32 ribu per kilogram. Penurunan ini dilaporkan telah berlangsung selama lima hari terakhir.

Untuk komoditas cabai, harga cabai rawit mengalami penurunan dari sebelumnya Rp 70 ribu menjadi sekitar Rp 55 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram. Herman, pedagang cabai, membenarkan tren penurunan ini. Cabai besar dijual seharga Rp 15 ribu per kilogram, sementara cabai keriting dibanderol Rp 20 ribu per kilogram.

Komoditas bawang merah dan bawang putih juga terpantau memiliki harga yang normal. Bawang merah dijual seharga Rp 40 ribu per kilogram, sedangkan bawang putih Rp 35 ribu per kilogram.

Kesiapan KPPU Menghadapi Anomali Pasar

KPPU Makassar menegaskan kesiapannya untuk terus memantau pergerakan harga dan aktivitas persaingan usaha para pedagang. Jika ditemukan adanya anomali, baik itu terkait pasokan yang sengaja ditahan maupun kenaikan harga yang tidak wajar, KPPU siap memanggil produsen, distributor, maupun pedagang terkait untuk memberikan klarifikasi.

Peningkatan intensitas pemantauan ini menjadi semakin krusial mengingat prediksi peningkatan kebutuhan masyarakat menjelang Idul Fitri 1447 H. Aktivitas transaksi bahan pokok di pasar-pasar tradisional hingga gerai ritel modern diperkirakan akan mengalami lonjakan. Dengan pengawasan yang ketat, diharapkan masyarakat dapat berbelanja kebutuhan Lebaran dengan lebih tenang dan terhindar dari praktik-praktik yang merugikan.

Pos terkait