Tes Kesehatan Wajib: FPTP Dorong Peningkatan Non-Akademik Pesantren

Transformasi Pesantren: Lebih dari Sekadar Pusat Keilmuan, Menuju Kemandirian Non-Akademik

Penguatan kapasitas pondok pesantren terus menjadi agenda penting pemerintah dan berbagai pihak. Tujuannya jelas: menjadikan pesantren tidak hanya sebagai lembaga pencetak ulama dan cendekiawan agama, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan yang mampu mencetak individu mandiri di berbagai aspek kehidupan, termasuk di luar ranah akademik keagamaan.

Menjawab kebutuhan tersebut, Forum Percepatan Transformasi Pesantren (FPTP) berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia menggelar sebuah inisiatif pemberdayaan pesantren bertajuk “Empower Pesantren, One Day Real Impact”. Acara ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Labibah Muawanah MALNU, yang berlokasi di Menes, Pandeglang.

Kegiatan ini dirancang secara komprehensif dengan menyajikan berbagai program edukasi dan layanan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan santri dan masyarakat sekitar. Rangkaian program yang dihadirkan mencakup:

  • Edukasi Program Jaminan Sosial: Memberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya jaminan sosial bagi perlindungan diri dan keluarga, serta bagaimana mengaksesnya.
  • Edukasi Kesehatan Lingkungan: Meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan yang sehat dan bersih, serta praktik-praktik yang mendukungnya di lingkungan pesantren.
  • Edukasi Kesehatan Mental: Menangani isu kesehatan mental yang seringkali terabaikan, memberikan pemahaman, dan strategi untuk menjaga kesejahteraan psikologis.
  • Edukasi Literasi Keuangan: Membekali santri dan masyarakat dengan pengetahuan dasar tentang pengelolaan keuangan, menabung, berinvestasi, dan menghindari jerat utang.
  • Sosialisasi Program Kemiskinan Ekstrem Pasti Kerja: Menghubungkan masyarakat dengan peluang kerja dan program-program pemerintah yang bertujuan mengentaskan kemiskinan ekstrem.

Selain sesi edukasi, acara ini juga menyediakan layanan kesehatan dan konsultasi langsung. Beberapa di antaranya adalah:

  • Pemeriksaan Kesehatan Dasar: Memberikan kesempatan bagi santri dan masyarakat untuk memantau kondisi kesehatan mereka secara umum.
  • Pemeriksaan Psikologis: Menawarkan dukungan dan evaluasi kesehatan mental bagi yang membutuhkan.
  • Layanan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN): Memfasilitasi pendaftaran dan akses terhadap layanan kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Menjawab Kebutuhan Non-Keilmuan Pesantren

Direktur FPTP, Saifullah Ma’shum, dalam pernyataannya menyoroti pentingnya peran negara dalam memfasilitasi isu-isu non-keilmuan yang dihadapi oleh pondok pesantren. “Salah satu yang dihadapi pesantren adalah isu non-keilmuan yang perlu difasilitasi negara. Misalnya tentang kesehatan, finansial, sanitasi pesantren, kesehatan mental, dan lainnya,” ujar Saifullah. Ia menyambut baik inisiatif Kemenko PMK yang dinilainya sangat responsif terhadap kebutuhan pemberdayaan pesantren, baik bagi santri, guru, pengasuh, maupun masyarakat di lingkungan sekitar.

Saifullah juga menekankan perlunya langkah-langkah preventif, khususnya terkait kesehatan santri. Ia mendorong agar dalam proses penerimaan santri baru, ada penambahan persyaratan kesehatan sebagai upaya deteksi dini. “Ke depan, jika menerima santri baru, mohon ditambahkan persyaratan kesehatan sebagai upaya deteksi dini kondisi kesehatan santri,” imbuhnya. Langkah ini krusial untuk memastikan santri memasuki lingkungan pendidikan dalam kondisi fisik yang prima.

Keberhasilan program pemberdayaan ini juga didukung oleh partisipasi aktif dari berbagai mitra strategis. Di antaranya adalah BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang memberikan edukasi dan layanan terkait jaminan sosial. Selain itu, Permodalan Nasional Madani (PNM), sebuah lembaga keuangan non-bank di bawah naungan BRI, turut hadir untuk membuka peluang akses permodalan dan pemberdayaan ekonomi.

Komitmen Keberlanjutan Pemberdayaan

Deputi Bidang Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko PMK, Nunung Nuryartono, menegaskan bahwa kegiatan semacam ini tidak boleh hanya berhenti sebagai seremoni satu hari. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan dalam upaya pemberdayaan masyarakat. “Harus berkelanjutan. Setiap kegiatan harus mengandung unsur pemberdayaan masyarakat,” tegas Nunung.

Ia menambahkan bahwa pesantren memiliki peran strategis sebagai pilar penting dalam pemberdayaan ekonomi. Oleh karena itu, penting bagi alumni pesantren untuk dapat berkarya dan mandiri secara ekonomi. Kehadiran PNM dalam kegiatan ini, menurut Nunung, bertujuan untuk membuka peluang rekrutmen dan akses bagi alumni serta masyarakat luas. “Masyarakat harus diberdayakan melalui akses kerja,” katanya.

Acara “Empower Pesantren, One Day Real Impact” ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk Pimpinan Pondok Pesantren Labibah Muawanah, Nyai Eneng Romdon Farihah, TB Uuf Zaki Ghufron Ma’ani, Mohammad Ishak, Asisten I Pemerintahan Kabupaten Pandeglang, Donny Hermawan, serta Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB, Ahmad Fauzi.

Selain itu, turut hadir pula perwakilan dari pemerintah daerah dan legislatif, seperti Nawawi Nurhadi dan Lukman Nulhakim (Anggota DPRD Provinsi Banten), sejumlah Anggota DPRD Kabupaten Pandeglang, jajaran Asisten Deputi Kemenko PMK RI, Camat Menes, Kepala Desa Purwaraja. Ratusan santri dan masyarakat Menes turut berpartisipasi aktif dalam rangkaian kegiatan ini, menunjukkan antusiasme dan kesadaran akan pentingnya transformasi pesantren untuk masa depan yang lebih baik.

Pos terkait